Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
 Mengenal Asal-Usul Istilah Ngabuburit di Indonesia

Mengenal Asal-Usul Istilah Ngabuburit di Indonesia

Sejarah ngabuburit
Ngabuburit punya sejarah panjang di Indonesia. Foto: Antara

Kira-kira, sejak kapan kita mulai memakai istilah ngabuburit? Apakah ngabuburit merpakan istilah asli atau serapan? Lalu, bagaimana sejarahnya?

Ngabuburit merupakan salah satu tradisi yang sangat melekat pada bulan Ramadan di Indonesia. Ngabuburit bahkan sudah menjadi kekayaan tradisi Indonesia yang selalu ditunggu banyak umat Islam. Nah pada artikel kali ini, kita akan coba mengenal lebih dalam apa itu ngabuburit serta bagaimana sejarahnya di Indonesia.

Apa Itu Ngabuburit?

Secara umum, ngabuburit merupakan istilah dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan saat menunggu berbuka puasa. Ngabuburit banyak dilakukan untuk membunuh waktu berpuasa agar lebih tidak terasa.

Asal-Usul Ngabuburit

Nyatanya, ngabuburit merupakan kata serapan yang diambil dari bahasa Sunda. Jadi ngabuburit bukan istilah yang datang dari bahasa Indonesia itu sendiri.

Menurut Kamus Bahasa Sunda yang dipublikasikan oleh Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), ngabuburit secara harfiah diambil dari kalimat “ngalantung ngadagoan burit” yang berarti bersantai-santai sambil menunggu waktu sore tiba.

Kata dasarnya diambil dari bahasa sunda yaitu “burit” yang berarti sore hari. Hal ini tentu sangat sesuai mengingat ngabuburit merupakan kegiatan yang hanya dilakukan pada sore hari di bulan ramadan.

Istilah ngabuburit kemudian menjadi semakin populer dan digunakan oleh banyak daerah lain. Namun tetap ada beberapa daerah yang memiliki istilahnya sendiri dalam memaknai ngabuburti. Salah satunya adalah “malengah puaso” dari Minang yang berarti melakukan aktivitas untuk menghilangkan rasa haus dan lapar akibat berpuasa.

Ngabuburit Sebagai Salah Satu Tradisi

Di Indonesia, ngabuburit dilakukan dengan berbagai macam kegiatan khas yang cenderung hanya ada saat bulan Ramadan saja. Kegiatan-kegiatan itu seperti pengajian, mencari takjil di pasar kaget Ramadan, ataupun nongkrong di beberapa tempat iconik di kota masing-masing.

Namun, perkembangan tradisi juga ikut menggeser kegiatan-kegiatan ngabuburit yang dilakukan. Saat ini, ada berbagai macam kegiatan yang lebih modern yang bisa dilakukan saat ngabuburit seperti bermain game, nonton film, serta banyak hal lain yang tentunya lebih asik.

Sejarah Ngabuburit

Sebenarnya, tak ada catatan spesifik yang mengatakan kapan munculnya kegiatan ngabuburit di Indonesia. Hanya saja, ngabuburit diyakini sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Sejumlah catatan kecil yang mendokumentasikan ngabuburit, di antaranya keterangan bahwa masyarakat Bandung, Jawa Barat, sudah terbiasa ngabuburit di kawasan Alun-alun Bandung sejak dekade 1950-an.

Hal itu tercatat pada kajian Tradisi Keagamaan Masyarakat Kota Bandung di Bulan Ramadan Tahun 1990-2000 karya M Fajar, Sulasman, Usman Supendi dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung yang terbit di jurnal Historia Madania Volume 2 Nomor 2 tahun 2018.


Sejarah Menarik Angklung: Bagaimana Angklung Menjadi Alat Musik Tradisional Indonesia

Sejarah Menarik Angklung: Bagaimana Angklung Menjadi Alat Musik Tradisional Indonesia

 

Sejarah Menarik Angklung: Bagaimana Angklung Menjadi Alat Musik Tradisional Indonesia
Pengamen angklung jalanan terlihat sangat pandai memainkan alat musik tradisional ini. Foto: @dafiedev 

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu. Alat musik ini terkenal dengan suara yang unik dan dapat dimainkan oleh beberapa orang sekaligus.

Angklung berasal dari daerah Sunda, Jawa Barat. Orkestra angklung pertama dibentuk pada awal abad ke-20 oleh Jaap Kunst. Angklung telah digunakan dalam sejumlah film populer Indonesia, seperti The Forbidden Door karya Joko Anwar dan Leaf on a Pillow karya Riri Riza. Pada artikel ini, kita akan membahas sejarah angklung, bagaimana angklung menjadi alat musik tradisional Indonesia, dan evolusinya dari tahun ke tahun.

Sejarah Angklung

Alat musik ini digunakan oleh masyarakat Sunda sejak zaman Kerajaan Pajajaran pada abad ke-14. Pada awalnya, angklung hanya digunakan untuk kegiatan keagamaan dan upacara adat.

Namun, seiring perkembangan waktu, angklung mulai digunakan dalam berbagai kesempatan seperti pertunjukan seni dan hiburan. Bahkan pada tahun 1938, Angklung diakui sebagai alat musik nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno.

Selain di Jawa Barat, Angklung juga banyak dimainkan di daerah-daerah lain di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Selain itu, Angklung juga sering digunakan dalam acara-acara internasional untuk mempromosikan budaya Indonesia ke seluruh dunia.

Saat ini, Angklung telah menjadi salah satu aset budaya Indonesia yang terkenal di seluruh dunia. Bahkan, UNESCO pada tahun 2010 mengakui Angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Angklung bagi bangsa Indonesia dan dunia internasional.

Dalam perkembangan terbarunya, Angklung juga telah dikembangkan menjadi berbagai jenis, mulai dari Angklung gubrag, Angklung caruk, hingga Angklung gender. Hal ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya budaya Indonesia yang terus berkembang dari masa ke masa.

Dengan demikian, Angklung bukan hanya alat musik tradisional, namun juga menjadi bagian dari sejarah dan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan dijaga keberlangsungannya.

Evolusi Angklung

Seiring dengan perkembangan zaman, Angklung mengalami evolusi yang menghasilkan berbagai jenis dan variasi dari alat musik ini.

Evolusi Angklung dimulai pada awal abad ke-20. Pada saat itu, Angklung mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia di luar Jawa Barat. Beberapa daerah di Indonesia yang awalnya tidak mengenal Angklung, mulai tertarik untuk mempelajarinya dan mengembangkannya.

Pada tahun 1920-an, seorang guru musik bernama Daeng Soetigna mulai mengembangkan Angklung di Bandung, Jawa Barat. Ia membuat variasi baru dari Angklung dengan menambahkan beberapa bilah bambu yang lebih kecil pada setiap bilah utama. Hal ini menghasilkan suara yang lebih kompleks dan harmonis.

Kemudian pada tahun 1930-an, Daeng Soetigna memperkenalkan Angklung ke seluruh Indonesia melalui pertunjukan-pertunjukan musik. Ia juga memperkenalkan teknik baca not pada Angklung, sehingga Angklung dapat dimainkan dalam ensemble musik yang lebih kompleks.

Pada tahun 1960-an, Angklung mulai dikenal di luar negeri. Banyak musisi dan seniman dari berbagai negara datang ke Indonesia untuk mempelajari Angklung dan memainkannya dalam karya seni mereka. Selain itu, Angklung juga mulai diproduksi secara massal untuk dijual sebagai oleh-oleh kepada turis yang berkunjung ke Indonesia.

Dalam perkembangan terbarunya, Angklung juga telah mengalami variasi dan modifikasi sesuai dengan kebutuhan dan tren musik saat ini. Beberapa jenis Angklung yang populer saat ini adalah Angklung caruk, Angklung gender, dan Angklung gubrag.

Angklung caruk adalah variasi Angklung yang dimainkan dengan cara dipukul. Angklung gender adalah Angklung yang dimainkan oleh wanita dengan menggunakan jari-jari mereka. Sedangkan Angklung gubrag adalah variasi Angklung yang lebih besar dan berat, dimainkan oleh sekelompok orang.

Dalam kesimpulannya, evolusi Angklung telah menghasilkan berbagai jenis dan variasi dari alat musik tradisional Indonesia yang kaya dan unik ini. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi Indonesia agar dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari dunia internasional.

Sumber Bunyi Angklung

Alat musik ini terdiri dari serangkaian tabung bambu yang berbeda ukuran, diatur sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan bunyi yang berbeda ketika ditiup atau digoyangkan. Angklung dianggap sebagai salah satu alat musik yang paling unik dan menarik di dunia karena kemampuannya untuk menghasilkan harmoni yang indah meskipun hanya dimainkan oleh satu orang saja.

Sumber bunyi angklung berasal dari tabung bambu yang digunakan sebagai bagian dari alat musik. Tabung bambu memiliki berbagai ukuran, mulai dari yang kecil hingga besar, dan setiap ukuran menghasilkan suara yang berbeda-beda. Ketika dimainkan, angklung menghasilkan bunyi yang bersifat ritmis dan melodis. Bunyi yang dihasilkan sangat khas dan mudah diingat, sehingga membuat angklung sangat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia.

Selain dari tabung bambu, sumber bunyi angklung juga berasal dari gawai atau alat pemukul yang digunakan untuk memainkannya. Pada umumnya, alat pemukul ini terbuat dari kayu atau logam dan memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan ukuran tabung bambu yang dimainkan. Ketika pemukul memukul tabung bambu, maka akan menghasilkan suara yang berbeda-beda, tergantung dari ukuran dan ketebalan tabung bambu yang dipukul.

Selain itu, sumber bunyi angklung juga berasal dari gerakan tangan pemainnya. Pemain angklung akan menggoyangkan alat musik ini dengan cara memutar tangan, sehingga tabung bambu akan bergetar dan menghasilkan bunyi yang unik. Gerakan tangan pemain ini sangat penting untuk menghasilkan bunyi yang tepat dan harmonis, sehingga memerlukan keahlian dan latihan yang intensif.

Terakhir, sumber bunyi angklung juga berasal dari keterampilan pemain dalam memainkan alat musik ini. Pemain angklung harus memiliki kepekaan terhadap nada dan ritme, serta mampu memadukan semua unsur yang ada sehingga menghasilkan bunyi yang harmonis dan indah. Oleh karena itu, memainkan angklung bukanlah perkara mudah dan memerlukan latihan yang intensif untuk menguasainya.

Dalam kesimpulan, sumber bunyi angklung berasal dari tabung bambu, alat pemukul, gerakan tangan pemain, dan keterampilan pemain dalam memainkannya. Semua unsur tersebut harus dipadukan dengan baik agar menghasilkan bunyi yang harmonis dan indah. Angklung merupakan alat musik yang sangat khas dan unik, serta menjadi simbol kebudayaan Indonesia yang sangat dihargai oleh masyarakat Indonesia dan dunia internasional.

Cara Memainkan Alat Musik Angklung

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu. Alat musik ini memiliki suara yang khas dan unik serta sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Meskipun terlihat sederhana, memainkan angklung memerlukan keterampilan dan teknik yang tepat agar dapat menghasilkan bunyi yang harmonis dan indah. Berikut ini adalah cara memainkan angklung yang benar.

1. Mengenali nada

Pertama-tama, penting bagi pemain angklung untuk mengenali nada yang dihasilkan oleh setiap tabung bambu. Hal ini dapat dilakukan dengan menggoyangkan setiap tabung bambu secara bergantian dan mendengarkan suara yang dihasilkan. Sebagai pemula, dapat dimulai dengan mengenal nada dasar seperti Do, Re, Mi, Fa, Sol, La, dan Si.

2. Menentukan nada

Setelah mengenali nada, pemain angklung harus dapat menentukan nada yang akan dimainkan sesuai dengan lagu atau musik yang dimainkan. Pemilihan nada harus dilakukan dengan cepat dan tepat agar tidak mengganggu ritme musik yang sedang dimainkan.

3. Gerakan tangan

Gerakan tangan pemain angklung sangat penting dalam menghasilkan bunyi yang tepat dan harmonis. Gerakan tangan yang tepat dapat membuat tabung bambu bergetar dengan sempurna sehingga menghasilkan suara yang tepat. Pemain angklung harus memutar tangan dengan lembut namun cepat, sehingga membuat tabung bambu bergetar dan menghasilkan suara yang diinginkan.

4. Posisi angklung

Posisi angklung juga sangat penting dalam memainkan alat musik ini. Pemain angklung harus memegang angklung dengan tangan kanan dan tangan kiri dengan posisi yang nyaman dan stabil. Tabung bambu yang akan dimainkan harus dipegang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan digunakan untuk memukul atau menggoyangkan alat pemukul.

5. Timing

Timing juga sangat penting dalam memainkan angklung. Pemain harus memainkan tabung bambu pada waktu yang tepat dan pada nada yang benar. Ketepatan waktu sangat penting untuk menjaga ritme musik agar tetap harmonis dan indah.

6. Latihan

Seperti halnya memainkan alat musik lainnya, memainkan angklung juga memerlukan latihan yang intensif agar dapat menguasai teknik dan keterampilannya dengan baik. Pemain angklung harus berlatih secara rutin untuk mengasah kemampuan dan keterampilannya dalam memainkan alat musik ini.

Dalam kesimpulan, memainkan angklung memerlukan teknik dan keterampilan yang tepat agar dapat menghasilkan bunyi yang harmonis dan indah. Pemain angklung harus mengenali nada, menentukan nada, memperhatikan gerakan tangan, posisi angklung, timing, serta melakukan latihan secara rutin agar dapat menguasai alat musik ini dengan baik.

Mengenal Tradisi Suku Sasak: Rumah Adat, Bahasa, Hingga Sejarahnya

Mengenal Tradisi Suku Sasak: Rumah Adat, Bahasa, Hingga Sejarahnya

Peresean tradisi suku sasak di Lombok
Peresean yang dilakukan oleh laki-laki suku sasak. Foto: Medcomm.id

Suku sasak berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Suku Sasak merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia dan memiliki sistem budaya yang dianut dari dalam kitab Nagara Kartha Gama karangan Empu Nala dari Majapahit.

Hebatnya, suku sasak adalah suku yang hingga hari ini tetap eksis dan bisa terus melestarikan tradisinya. Hal ini menjadi bukti bahwa suku sasak terus berpegang teguh kepada kitabnya hingga memiliki sistem budaya yang mapan.

Dikutip dari berbagai sumber, Goris S. menjelaskan bahwa secara etimologi, “Sasak” berasal dari kata sah yang berarti pergi dan shaka yang berarti leluhur. Dengan kata lain, sasak berarti pergi ke tanah leluhur.

Kali ini Exploring Indonesia akan ulas semua tentang suku sasak dari mulai rumah adat, pakaian, bahasa, alat musik, tarian, hingga sejarahnya.

Sejarah Suku Sasak

Sejarah Suku Sasak – saat mengulas sebuah suku, tak lengkap jika kita tidak melihat bagaimana sejarah dari suku tersebut. Berikut merupakan sejarah suku sasak yang perlu kamu ketahui.

Suku Sasak sudah mendiami Pulau Lombok selama berabad-abad. Konon, mereka telah menghuni pulau tersebut sejak 4.000 Sebelum Masehi. Karena itu, Pulau Lombok menjadi bagian penting dari sejarah suku sasak karena jadi kampung halaman mereka.

Secara administratif, Pulau Lombok memiliki lima kabupaten yaitu Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan terakhir Kota Mataram. Di Pulau Lombok ada sekitar 3 juta jiwa dan 80% diantaranya merupakan Suku Sasak.

Baca juga: Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Dewa di Papua

Konon, saat masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan di Medang atau Mataram Kuno banyak sekali pendatang dari Pulau Jawa ke Pulau Lombok. Kemudian, banyak diantara pendatang tersebut menikahi warga setempat sehingga keturunan mereka selanjutnya disebut dengan Suku Sasak.

Pada catatan sejarah, Pulau Lombok dikuasai oleh Kerajaan Majapahit pada abad ke 14 hingga 15 masehi. Hal ini membuat Pulau Lombok banyak terpengaruh budaya kerajaan Majapahit. Tak lama kemudian, saat pengaruh Kerajaan Majapahit melemah, perkembangan Islam semakin masih mengingat Islam yang sudah tersebar di Pulau Jawa hingga Makasar.

Selama abad ke 16 hingga 17, Islam bahkan telah menguasai salah satu kerajaan yang ada di Pulau Lombok yaitu Kerajaan Selaparang. Hal ini membuat Islam terus menyebar di pulau Lombok meskipun masih tercampur dengan kebudayaan-kebudayaan lokal.

Tak berhenti disitu, Kerajaan Bali berhasil menduduki Pulau Lombok pada abad ke 17 dan terus memperkuat pengaruhnya hingga berhasil mengalahkan pengaruh islam Makassar.

Berbagai budaya yang telah hadir di Lombok inilah yang membentuk sistem Suku Sasak hingga menjadi suku yang begitu kuat dan tetap eksis hingga sekarang. Meski banyak dipengaruhi oleh berbagai budaya, bangsawan Suku Sasak tetap berpegang teguh pada kitab Nagarakartagama dan menjaga identitasnya sebagai keturunan Jawa-Lombok.

Rumah Adat

Suku Sasak juga memiliki rumah adat yang unik. Dilansir dari Kemdikbud, Suku Sasak mendifinisikan fungsi rumah sebagai tempat yang punya peran penting untuk berlindung secara jasmani maupun spiritual.

Rumah adat suku sasak
Rumah bale: rumah adat suku sasak. Foto: daerahkita.com

Rumah adat suku Sasak terbagi menjadi tiga yaitu bangunan tempat tinggal, penyelenggaraan ritual adat, dan penyelenggaraan ritual keagamaan. rumah adat suku Sasak juga dibangun dengan memperhitungkan nilai estetika sesuai dengan tradisi dan budaya yang mereka percaya.

Hal ini membuat rumah adat suku sasak sangat unik. Rumah adat suku Sasak terbuat dari bahan-bahan yang ada disekitar mereka. Materialnya murni dari alam.

Bagian atap rumah adat suku Sasak dibuat dari jerami. Adapun bagian dindingnya dianyam dengan bambu. Untuk bagian lantai, rumah adat suku Sasak terbuat dari campuran tanah liat dan kotoran kerbau. Campuran tersebut sebagai pengganti semen yang membuat lantai keras dan kokoh.

Selain itu, bentuk rumah adat suku Sasak juga unik. Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu dan berukuran sempit. Bahkan, rumah adat ini tidak memiliki jendela. Hal ini karena Suku Sasak percaya bahwa rumah merupakan tempat yang sakral.

Bahasa Suku Sasak

Seperti suku pada umumnya, Suku Sasak juga memiliki bahasa yang terus dipakai dan dilestarikan. Bahasa Suku Sasak memiliki kedekatan dengan dua bahasa, yaitu Jawa dan Bali. Sistem aksara dalam bahasa Suku Sasak sangat mirip dengan aksara Jawa yaitu Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Namun dalam pelafalannya, Bahasa Suku Sasak justru lebih mirip dengan bahasa Bali.

Bahasa Suku Sasak ini bisa digolongkan kedalam beberapa bahasa menurut wilayah penuturnya seperti Mriak-mriku (Lombok Selatan), Meno-Mene (Lombok Tengah), Ngeto-Ngete (Lombok Tenggara), dan Kuto-Kute (Lombok Utara).

Pakaian Adat Suku Sasak

Suku Sasak memiliki pakaian adat yang selalu digunakan saat upacara adat. Pakaian tersebut adalah Pegon. Pegon yang berbentuk seperti jas merupakan wujud busana akulturasi, karena memiliki pengaruh dari tradisi Jawa dan juga Eropa. Percampuran ini dianggap sebagai lambang keagungan dan kesopanan. Biasanya pegon berwarna hitam polos. Bahan polos ini dimodifikasi di bagian belakangnya sebagai tempat menyelipkan keris.

pakaian adat suku sasak
Pakaian adat suku sasak juga pernah di gunakan oleh presiden Joko Widodo. Foto: PT. Lombok Travel Service

Sebagai penghiasnya, kain songket berbenang emas digunakan di bagian pinggangnya. Penggunaannya bukan untuk tujuan ikat pinggang melainkan untuk penghias. Ikat pinggang ini dikenal juga dengan nama leang. Nama lainnya tampet atau dodot. Sedangkan untuk kepalanya, seperti halnya pria-pria Bali, pakaian adat Suku Sasak juga memiliki ikat kepala. Kalau Bali bernama udeng, suku sasak bernama sapuq atau sapuk. 

Sapuk merupakan mahkota yang melambangkan kejantanan. Ikat kepala ini juga berfungsi untuk menjaga pikiran pemakainya dari berbagai hal kotor. Ikat kepala di pakaian adat tersebut juga melambangkan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Seni Musik

Suku Sasak juga memiliki seni musik yang dimainkan saat ada upacara-upacara adat. Alat music tersebut adalah Cepung. Cepung merupakan seni musik vocal yang dimainkan dengan alat musik seruling dan redep.

Baca juga: Suku Bajo: Asal-usul hingga Tradisinya

Para pemain cepung, akan menirukan bunyi gendang, rincik, dan kenceng untuk melengkapi alat music yang terbatas. Kemudian, para pemain cepung juga akan membacakan syair secara bergantian.

Seni & Tradisi Suku Sasak

Dari sejarahnya yang panjang, Suku Sasak bisa saja diidentifikasikan sebagai budaya yang banyak mendapat pengaruh dari Jawa dan Bali. Pun sejarah mencatatnya demikian, kenyataannya kebudayaan Suku Sasak memiliki corak dan ciri budaya yang khas, asli dan sangat mapan hingga berbeda dengan budaya suku-suku lainnya di Nusantara.

Kini, Suku Sasak bahkan dikenal bukan hanya sebagai kelompok masyarakat tapi juga merupakan entitas budaya yang melambangkan kekayaan tradisi Bangsa Indonesia di mata dunia.

Berikut beberapa seni dan tradisi Suku Sasak yang lestari hingga sekarang:

Bau Nyale

Nyale adalah sejenis binatang laut, termasuk jenis cacing (anelida) yang berkembang biak dengan bertelur. Dalam alam kepercaan Suku Sasak, Nyalebukan sekedar binatang, beberapa legenda dari Suku ini yang menceritakan tentang putri yang menjelma menjadi Nyale. Ini menjadi salah satu tradisi suku Sasak yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Lainnya menyatakan bahwa Nyale adalah binatang anugerah, bahkan keberadaannya dihubungkan dengan kesuburan dan keselamatan.

Ritual Bau Nyale atau menangkap nyale digelar setahun sekali. Biasanya pada tanggal 19 atau 20 pada bulan ke-10 atau ke-11 menurut perhitungan tahun suku Sasak, kurang lebih berkisar antara bulan Februari atau Maret.

Rebo Bontong

Rebo Bontong juga menjadi salah satu tradisi yang masih ada hingga sekarang. Suku Sasak percaya bahwa hari Rebo Bontong merupakan hari puncak terjadi bencana dan atau penyakit (Bala) sehingga bagi mereka sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo Bontong. Kata Rebo dan juga Bontong kurang lebih artinya “putus” atau “pemutus”.

Upacara Rebo Bontong dimaksudkan untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Upacara ini digelar setahun sekali yaitu pada hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Bebubus Batu

Dari kata “bubus”, yaitu sejenis ramuan obat berbahan dasar beras yang dicampur berbagai jenis tanaman, dan dari kata batu yang merujuk kepada batu tempat melaksanakan upacara.

Bebubus Batu adalah upacara yang digelar untuk meminta berkah kepada sang Kuasa. Upacara ini dilaksanakan tiap tahun, dipimpin oleh Penghulu (pemangku adat) dan Kiai (ahli agama). Masyarakat ramai-ramai mengenakan pakaian adat serta membawa dulang, sesajen dari hasil bumi.

Sabuk Beleq

Sabuk Beleq adalah tradisi suku sasak yang sangat kental dengan pengaruh Islam. Merujuk kepada sebuah pustaka sabuk yang besar (Beleq) bahkan panjangnya mencapai 25 meter, masyarakat Lombok khususnya mereka yang berada di wilayah Lenek Daya akan menggelar upacara pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah.

Tradisi pengeluaran Sabuk Bleeq ini mereka awali dengan mengusung Sabuk Beleqmengelilingi kampung diiringi dengan tetabuhan gendang beleq. Ritual upacara kemudian dilanjutkan dengan menggelar praja mulud hingga diakhiri dengan memberi makan berbagai jenis makhluk.

Upacara ini dilakukan untuk mempererat ikatan persaudaraan, persatuan dan gotong royong antar masyarakat, serta cinta kasih di antara makhluk Tuhan.

Lomba Memaos

Selain itu, Tradisi suku Sasak yang lainnya adalah Lomba Memaos. Memaos kurang lebih artinya membaca dan orang yang membaca di sebut pepaos. Lomba memaos adalah lomba untuk membaca lontar yang menceritakan hikayat dari leluhur mereka.

Tujuan lomba pembacaan cerita ini adalah agar generasi selanjutnya dapat mengetahui kebudayaan dan sejarah masa lalu. Selain itu, Lomba ini juga dapat berfungsi sebagai regenerasi nilai-nilai sosia, budaya, dan tradisi pada generasi penerus. Satu kelompok pepaos biasanya terdiri dari 3-4 orang; pembaca, pejangga, dan pendukung vokal.

Tandang Mendet

Kemudian, tradisi suku Sasak yang berikutnya adalah Tandang Mendet. Tandang Mendet merupakan tarian perang Suku Sasak. Konon Tarian ini telah ada sejak zaman Kerajaan Selaparang. Tarian yang menggambarkan keperkasaan dan perjuangan ini dimainkan oleh belasan orang dengan berpakaian dan membawa alat-alat keprajuritan lenggap; kelewang (pedang), tameng, tombak. Tarian diiringi dengan hentakan gendang beleq serta pembacaan syair-syair perjuangan.

Peresean

Kadang ada yang menulisnya Periseian dan atau Presean adalah seni bela diri yang dulu digunakan oleh lingkungan kerajaan. Peresean awalnya adalah latihan pedang dan perisai bagi seorang prajurit. Pada perkembangannya, latihan ini menjadi pertunjukan rakyat untuk menguji ketangkasan dan “keberanian”.

Senjata yang digunakan adalah sebilah rotan yang dilapisi pecahan kaca. Dan untuk menangkis serangan, pepadu (pemain) biasanya membawa sebuah perisai (ende) yan terbuat dari kayu berlapis kulit lembu atau kerbau. Setiap pepadu memakai ikat kepala dan mengenakan kain panjang.

Festival peresean diadakan setiap tahun terutama di Kabupaten Lombok Timur yang akan diikuti oleh pepadu dari seluruh Pulau Lombok.

Begasingan

Permainan rakyat yang mempunyai unsur seni dan olahraga, bahkan termasuk permainan tradisional yang tergolong tua di masyarakat Sasak. Permainan tradisional ini juga dikenal di beberapa wilayah lain di Indonesia.

Hanya saja, Gasing orang sasak ini berbeda baik bentuk maupun aturan permainannya. Gasing besar, mereka namai pemantok, digunakan untuk menghantam gasing pengorong atau pelepas yang ukurannya lebih kecil.

Begasingan berasal dari kata gang yang artinya “lokasi”, dan dari kata sing artinya “suara”. Permainan tradisional ini tak mengenal umur dan tempat, bisa siapa saja, bisa di mana saja.

Slober

Alat musik tradisional Lombok yang cukup tua, unik, dan bersahaja. Slober dibuat dari pelepah enau dan ketika dimainkan alat musik ini biasanya didukung dengan alat musik lainnya seperti gendang, gambus, seruling, dll. Kesenian yang masih dapat anda saksikan hingga saat ini, sangat asyik jika dimainkan ketika malam bulan purnama.

Gendang Beleq

Satu dari kesenian Lombok yang mendunia. Gendang Beleqmerupakan pertunjukan dengan alat perkusi gendang berukuran besar (Beleq) sebagai ensembel utamanya. Komposisi musiknya dapat dimainkan dengan posisi duduk, berdiri, dan berjalan untuk mengarak iring-iringan.

Ada dua jenis gendang beleq yang berfungsi sebagai pembawa dinamika yaitu gendang laki-laki atau gendang mama dan gendang nina atau gendang perempuan).

Sebagai pembawa melodi adalah gendang kodeq atau gendang kecil. Sedangkan sebagai alat ritmis adalah dua buah reog, 6-8 buah perembak kodeq, sebuah petuk, sebuah gong besar, sebuah gong penyentak , sebuah gong oncer, dan dua buah lelontek.

Menurut cerita, gendang beleq dahulu dimainkan bila ada pesta-pesta yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan. Bila terjadi perang gendang ini berfungsi sebagai penyemangat prajurit yang ikut berperang.

Demikian ulasan dari Exploring Indonesia mengenai tradisi suku Sasak. Semoga bisa membantu kita untuk lebih mengenal ragam suku yang ada di Indonesia.


Angklung Gubrag, Kesenian yang Lahir dari Budaya Agraris Masyarakat Sunda

Angklung Gubrag, Kesenian yang Lahir dari Budaya Agraris Masyarakat Sunda

 

Pertunjukan angklung gubrag kerap dipadukan dengan kendang pencang dan gong. Foto: indonesiakaya

Angklung identik dengan Jawa Barat. Alat musik multitonal atau bernada ganda ini memang berkembang di tengah masyarakat Sunda. Dalam tradisi Sunda masa lalu, angklung memiliki fungsi ritual keagamaan –untuk mengundang Nyai Sri Pohaci atau Dewi Sri (dewi padi lambang kemakmuran) agar memberikan berkah dan kesuburan pada tanaman padi.

Menanam benih padi di tanah orang Kanekes, tulis Saleh Danasasmita dalam Kehidupan Masyarakat Kanekes, dipandang mengawinkan Nyi Pohaci dengan bumi dan ritual ini selalu diiringi dengan angklung. Demikian pula saat upacara seren taun atau panen padi dipersembahkan permainan angklung.

Angklung merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari potongan bambu. Ia terdiri dari dua sampai empat tabung bambu yang dirangkai menjadi satu dengan tali rotan. Tabung bambu diukir detail dan dipotong sedemikian rupa untuk menghasilkan nada tertentu ketika bingkai bambu digoyang. Jenis bambu yang digunakan ialah bambu temen (bambu wulung), bambu belang, dan bambu tali. Untuk yang besar ada juga yang mempergunakan bambu surat.

Angklung termasuk ke dalam golongan alat-alat yang dengan istilah musik disebut idiophone, yakni alat-alat yang badannya sendiri mengeluarkan bunyi atau nada bilamana kita sentuh atau pukul.

“Karena bentuknya tegak lurus, maka angklung ini dimainkan (dibunyikan) dengan cara digoyang, tidak dipukul,” tulis Helius Sjamsuddin dan Hidayat Winitasasmita dalam Daeng Soetigna: Bapak Angklung Indonesia. Di dalam permainan, angklung ada yang berfungsi memainkan melodi lagu, dan ada juga sebagai angklung pengiring (pengiring lagu).

Kata “angklung” sendiri berasal dari bahasa Sunda “angkleung-angkleungan” yaitu gerakan pemain angklung serta dari suara “klung” yang dihasilkan instrumen bambu ini.

Tak ada keterangan pasti kapan angklung mulai dikenal dan dimainkan. Diperkirakan alat musik ini sudah dikenal sebelum masa Kerajaan Sunda sekitar abad ke-11.

Ada beberapa jenis angklung. Tapi umumnya dikelompokkan menjadi dua: angklung tradisional dan angklung modern.

Masyarakat kampung budaya Sindang Barang menjadikan Angklung Gubrag sebagai iringan dalam rutual Ngala Cai Kukulu. Foto: indonesiakaya

Di kalangan masyarakat Sunda, keberadaan angklung tradisional terkait erat dengan mitos Nyai Sri Pohaci atau Dewi Sri sebagai lambang dewi padi. Angklung tradisional ini dimainkan pada upacara-upacara adat, seperti pesta panen, turun bumi, seren taun, menyambut tamu kehormatan, dan sebagainya. Di dalam permainan, angklung yang memiliki tangga nada pentatonik (da – mi – na – ti – la) biasa dilengkapi dengan alat lain seperti dogdog, kendang dan gong.

Beberapa jenis angklung tradisional, seperti termuat di buku Ketika Musik Bambu Dibicarakan, hingga kini masih ada di lingkungan masyarakat Sunda di Jawa Barat dan Banten. Sebut saja angklung buhun (Desa Kanekes, Banten), angklung bungko (Desa Bungko, perbatasan Cirebon dan Indramayu), angklung gubrag (Desa Cipining, Bogor), angklung dogdog lojor (Kasepuhan Pancer Pangawinan atau Kesatuan Adat Banten), angklung badeng (Desa Sanding, Garut), angklung buncis (Desa Baros, Bandung), angklung badud (Priangan Timur/Ciamis), angklung bungko (Indramayu), dan angklung ciusul (Banten).

Kemunculan angklung modern tak bisa dilepaskan dari sosok Daeng Soetigna. Pada 1938, rumah Daeng di Kuningan, Jawa Barat yang saat itu seorang guru HIS (Hollandsch-Inlandsche School) setingkat SD sekarang, kedatangan seorang pengemis tua yang memainkan angklung buncis.

Karena terkesan, dia membeli angklung dari pengemis itu untuk dipelajarinya. Kemudian dia mencari dan bertemu dengan pembuat angklung bernama Pak Djaja, yang dia sebut sebagai “guru besarnya”. Dia juga berguru kepada Pak Djaja mengenai hal-ihwal angklung.

Angklung Gubrag merupakan salah satu bentuk seni yang lahir dari pola masyarakat sunda yang agraris. Foto: indonesiakaya

Karena keuletannya, Daeng berhasil mengubah tangga nada angklung tradisional yang pentatonik menjadi angklung modern dengan tangga nada diatonik chromatik (do – di – re – ri – mi – fa – fi – sol – sel – la – li – ti – do). Angklung inilah yang kemudian diperkenalkan dan dipopulerkannya. Angklung ini kemudian disebut “angklung modern” atau disebut pula “Angklung Padaeng”. Untuk itu pula Daeng Soetigna mendapat julukan “Bapak Angklung Indonesia”.

Sejak itu, angklung berkembang dan mulai dikolaborasikan dengan alat musik lain seperti piano, gitar, drum, dan bahkan dalam bentuk orkestra. Angklung juga dipentaskan dalam pertunjukan-pertunjukan musik bertaraf regional, nasional, hingga internasional.

Setelah Daeng Soetigna, pengembangan angklung dilakukan muridnya: Mang Udjo Ngalagena. Pada 1967 dia mendirikan pusat pembuatan dan pengembangan kreasi kesenian angklung yang dikenal dengan nama Saung Angklung Mang Udjo di Padasuka Cicaheum, Bandung. Di tempat ini, pengunjung bisa belajar memainkan angklung, menonton pertunjukan musik angklung, serta melihat langsung proses pembuatan alat musik ini.

Baca juga: Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Dewa di Papua

Berkat seniman-seniman kreatif dan inovatif, angklung terus berkembang dan mendapat pengakuan dunia. Pada November 2010, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan atau UNESCO menetapkan angklung sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia.

Angklung sebagai instrumen musik maupun seni pertunjukan telah mengalami perkembangan cukup signifikan. Namun, inovasi tetap dibutuhkan agar angklung mampu bertahan seiring perkembangan zaman. Dari pengembangan dan inovasi itulah muncul angklung piano, angklung toel, hingga angklung robot.

Jika Indonesia tidak terus-menerus mengembangkannya, penetapan angklung sebagai warisan budaya dunia bisa menjadi bumerang. Sebab, negara manapun bisa mengembangkan dan melakukan inovasi terhadap alat musik ini.

Sumber: indonesiakaya.com


Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Yogyakarta

Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Yogyakarta

Beberapa tradisi ramadan di Yogyakarta. Foto: Pondokyatim.or.id

Setiap daerah di Indonesia punya keunikan masing-masing dalam menyambut ramadan. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang mempunyai berbagai tradisi unik dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.

Umat muslim di seluruh dunia pasti menantikan datangnya bulan Ramadan ini. Bulan Ramadan terkenal dengan kesucian dan kebaikan didalamnya. Oleh karena itu, berbagai macam daerah di Indonesia mempunya tradisi sendiri dalam menyambut bulan Ramadan.

Tinggal di Indonesia gak bisa lepas dari berbagai tradisi yang berbeda-beda di setiap provinsi. Salah satunya tradisi menyambut Ramadan yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Uniknya tradisi ini Cuma hanya di Yogyakarta saja lho. Seluruh masyrakat Yogyakarta sangat antusias mengadakan tradisi ini dan bergembira dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.

Berbagai macam tradisi yang unik dan bermakna diselenggarakan oleh masyarakat Yogyakarta dalam menyambut datangnya bulan Ramadan. Lalu apa saja tradisi masyarakat Yogyakarta dalam menyambut bulan penuh berkah ini?

Dilansir dari berbagai sumber (12/04/2021), berikut tradisi masyarakat Yogyakarta dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.

Padusan

Tradisi Padusan. Foto: Indonesia.go.id

Menyambut datangnya bulan Ramadan, masyarakat Yogyakarta biasanya melakukan tradisi padusan terlebih dahulu. Tradisi ini dilakukan sebelum salat terawih pertama. Tradisi ini bertujuan membersihkan raga dan jiwa saat melaksanakan ibadah di bulan Ramadan. Jadi masyarakat dalam keadaan suci dan bersih.

Dahulu kala, tradisi padusan dilakukan dengan cara berendam di tempat atau pemandian yang dianggap sakral. Tetapi seiring waktu berganti, tradisi ini dapat dilakukan di mana saja, seperti kolam renang atau kamar mandi rumah.

Apeman

Tradisi Apeman di Yogyakarta. Foto: Antaranews

Dalam rangkat menyambut datangnya bulan Ramadan, Keraton Yogyakarta melaksanakan tradisi apeman. Tradisi apeman adalah membuat apem yang cukup besar yaitu berdiameter kurang lebih 20 sentimeter.

Kue apem tersebut dibuat oleh wanita di dalam Keraton Yogyakarta. Nantinya, kue apem akan dibagikan kepada adi dale. Kue apem merupakan jajan pasar yang terbuat dari telur, santan, ragi dan tepung beras.

Labuhan

Upacara Labuhan di Yogyakarta. Foto: Winnetnews

Labuhan merupakan salah satu radisi yang sangat istimewa. Tradisi ini hanya boleh dilakukan oleh keluarga Keraton Yogyakarta dan punggawanya. Hal ini bedasarkan perintah dari Sultan.

Labuhan dilakukan dengan menghanyutkan beberapa helai serta kuku Sultan yang sudah dipotong. Rambut serta kuku yang dihanyutkan ke laut lewat Pantai Parangtritis maupun Gunung Merapi. Warga masyarakat sekitar percaya, tradisi ini akan menghadirkan ketentraman dan kesejahterann.


Wayang Timplong: Wayang Asli Nganjuk yang Sudah Ada Sejak 1910

Wayang Timplong: Wayang Asli Nganjuk yang Sudah Ada Sejak 1910

Wayang Timplong: Wayang Asli Nganjuk yang Sudah Ada Sejak 1910. Foto: indonesiakaya.com

Wayang merupakan kesenian tradisional asli milik nusantara yang berkembang di masyarakat Jawa dan Bali, serta sebagian wilayah Sumatera dan Melayu yang terpengaruh budaya Jawa.

Tidak ada informasi yang menjelaskan kapan pastinya kesenian ini mulai ada di Indonesia, tapi sebuah prasasti bernama Prasasti Balitung yang berada di Magelang Utara peninggalan Kerajaan Mataram Kuno berangka tahun 907 Masehi menggambarkan adanya kesenian wayang pada masyarakat Jawa.

Wayang dahulu digunakan sebagai media dalam menyebarkan agama, baik agama Hindu-Buddha, Islam, maupun Kristen, dan dimainkan dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Tingginya nilai estetika yang dimiliki oleh masyarakat nusantara menjadikan kesenian ini sebuah kesenian yang berbeda dengan kesenian boneka yang ada di negara lain. Perbedaan ini terletak pada gaya tutur dan pertunjukan wayang yang menarik.

Baca Juga: Ini Dia Makna Filosofis Blankon

Perbedaaan latar budaya inilah yang menjadikan kesenian wayang beraneka ragam, baik dari segi cerita yang dibawakan hingga media yang digunakan dalam pembuatan wayang. Wayang timplong merupakan salah satu dari puluhan jenis wayang yang ada di nusantara. Wayang jenis ini berasal dari daerah Nganjuk, Jawa Timur, terbuat dari kayu pinus dan sudah ada sejak tahun 1910-an.

Pembuatan wayang ini cukup rumit karena kayu harus dipahat hingga pipih layaknya wayang kulit. Pembuat wayang timplong juga harus memperhatikan bentuk detail dari wayang itu sendiri. Wayang timplong biasa dimainkan dengan iringan bunyi gamelan.

Bunyi gamelan ini bersumber dari beberapa alat musik tradisional yang umumnya berkembang pada masyarakat Jawa dan Bali seperti gambang bambu, kathuk, kenong, kempul, dan kendang.

Wayang timplong umumnya membawakan cerita yang berasal dari daerah kesenian ini pertama kali muncul. Biasanya ceritanya berhubungan dengan Kerajaan Mataram Kuno.

Berdasarkan perkembangannya, kini cerita yang dibawakan dalam wayang timplong disesuaikan dengan keadaan budaya yang saat ini sedang berlangsung. Penonton pun tidak akan bosan dengan cerita yang dipentaskan dalam pertunjukan wayang timplong


Mengenal Upacara Ngaben yang Ada di Bali

Mengenal Upacara Ngaben yang Ada di Bali

Pemimpin ritual Ngaben massal. Foto: indonesiakaya.com

Ngaben adalah sebuah upacara pembakaran jasad yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Upacara ngaben berasal dari daerah Bali, Upacara ini dimaksudkan untuk menyucikan roh anggota keluarga yang sudah meninggal yang akan menuju ke tempat peristirahatan terakhir.

Kata “ngaben” mempunyai arti bekal atau abu yang semua tujuannya mengarah tentang adanya pelepasan terakhir kehidupan manusia. Dalam ajaran Hindu, selain dipercaya sebagai dewa pencipta, Dewa Brahma juga memiliki wujud sebagai Dewa Api.

Jadi upacara ngaben adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa kembali ke sang pencipta. Api yang membakar dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Brahma yang bisa membakar semua kekotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang telah meninggal.

Arak-arakan menuju upacara Ngaben massal. Foto: indonesiakaya.com

Upacara ngaben massal diperuntukkan bagi keluarga yang kurang mampu, agar jasad para leluhurnya dapat disucikan atau dibersihkan sesuai dengan ajaran agama Hindu.

Baca Juga: Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Desa di Papua

Dengan adanya ngaben massal ini, keluarga yang kurang mampu dapat melaksanakan ritual tersebut dengan membayar 2,5 juta rupiah atau bahkan gratis jika memang benar-benar tidak mampu.

Persembahan untuk jenazah dalam upacara Ngaben. Foto: indonesiakaya.com

Upacara ngaben akan dimulai dengan arak-arakan dari para keluarga. Masing-masing keluarga membawa foto mendiang atau jasad yang akan diaben. Bunyi gamelan Bali ikut mengiringi rombongan sampai ke lokasi Ngaben.

Setelah jasad diaben atau dibakar, sisa abu dari pembakaran jasad dimasukkan ke dalam buah kelapa gading untuk kemudian dilarung ke laut atau sungai yang dianggap suci.

Sejarah Ngaben

Ngaben meupakan upacara yang sudah ada sejak dulu di Bali. Dalam bahasa Hindu, Ngaben diartikan sebagai prosesi memisahkan jiwa dari jasad sebelumnya. Proses pemisahan ini dilakukan dengan cara dikremasi.

Dikutip dari Indonesia kaya, Nyoman Singgin Wikarman menjelaskan bahwa kata “Ngaben” berasal dari kata “Beya” yang berarti bekal. Ngaben juga disebut dengan nama lain “Lebu” yang berarti prathiwi atau tanah.

Maka, untuk membuat jasad itu kembali menjadi tanah, umat Hindu percaya bahwa dibakar adalah salah satu caranya.

Dilansir dari berbagai sumber, asal-usul ngaben pertama kali dilakukan oleh Bharatayuddha di India pada 400 SM. Ritual ini dipercaya bisa membawa kembali tubuh almarhum kembali ke dasar tubuh alaminya.

Ini sangat berkaitan dengan energy panas yang bisa dipercayai bisa mengembalikan jasad ke bentuk alaminya. Selain itu, umat hindu juga percaya bahwa upacara Ngaben bisa membebaskan jiwa dari perbuatan buruk selama hidup di dunia.

Seiring dengan penyebaran Hindu yang terjadi di Bali, upacara Ngaben mulai dilakukan pada abad ke 8 dan diwariskan secara turun temurun. Bahkan, upacara ini terus dilakukan hingga sekarang.

Filosofi dan Tujuan Ngaben

Umat Hindu juga percaya bahwa api yang membakar pada upacara Ngaben perwujudan dari dewa Brahma. Api tersebut akan membakar seluruh kotoran yang ada pada jasad manusia ataupun roh yang melekat didalamnya.

Umat Hindu puna filosofi ngaben yang dipercaya secara turun temurun bahwa tubuh manusia terdiri dari tiga lapisan yaitu raga sarira, sukma sarira, dan antahkarana sarira. Raga sarira diartikan sebagai tubuh fisik manusia. Sukma sarira diartikan sebagai badan astral berupa perasaan, nafsu dan pikiran. Sedangkan antahkarana sarira diartikan sebagai roh atau sesuatu yang menyebabkan kehidupan.

Ketika manusia meninggal, atma (roh) yang terlalu lama dalam tubuh harus meninggalkan badan. Untuk mempercepat proses mengembalikan badan kasar ke seumber alaminya itu, diperlukan upacara ngaben.

Demikian ulasan dari Exploring Indonesia mengenai ngaben. semoga ulasan ini bermanfaat untuk menambah wawasan kita mengenai upacara ngaben. 


Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Dewa di Papua

Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Dewa di Papua

Mengenal Suku Asmat: Suku Titisan Dewa di Papua. Indonesiakaya.com

Pada jaman dahulu kala, satu Dewa bernama Fumeripitsy turun ke bumi. Ia menjelajah bumi dan memulai petualangannya dari ufuk barat matahari terbenam. Dalam petualangannya, Sang Dewa harus berhadapan dengan seekor buaya raksasa dan mengalahkannya. Walaupun menang, sang Dewa terluka parah dan terdampar di sebuah tepian sungai.

Dengan kesakitan sang Dewa berusaha bertahan hingga akhirnya ia bertemu seekor burung Flaminggo yang berhati mulia dan merawat Sang Dewa hingga pulih dari lukanya. Setelah sembuh, sang Dewa tinggal di wilayah tersebut dan membuat sebuah rumah serta mengukir dua buah patung yang sangat indah.

Ia juga membuat sebuah genderang yang sangat nyaring bunyinya untuk mengiringinya menari tanpa henti. Gerakan sang Dewa sungguh dahsyat hingga membuat kedua patung yang diukirnya menjadi hidup.

Tak lama kemudian, kedua patung itu pun ikut menari dan bergerak mengikuti sang Dewa. Kedua patung tersebut adalah pasangan manusia pertama yang menjadi nenek moyang suku Asmat.

Penggalan mitologi di atas adalah sebuah kepercayaan yang dimiliki oleh Suku Asmat, salah satu suku yang terbesar di Papua. Mitos ini membuat suku Asmat masih mempercayai bahwa mereka adalah titisan dewa hingga kini.

Tidaklah berlebihan, karena Asmat memang memiliki kebudayaan yang sangat dihormati. Bahkan, suku ini sudah dikenal hingga ke mancanegara, sehingga tidak asing bila ada peneliti-peneliti dari seluruh penjuru dunia sering berkunjung ke kampung suku Asmat. Mereka umumnya tertarik untuk mempelajari kehidupan suku Asmat, sistem kepercayaannya, serta adat istiadat yang begitu unik dari suku Asmat.

Pria Asmat yang berfoto memegang Tifa (alat musik khas Papua). Foto: indonesiakaya.com

Asal Suku Asmat

Suku Asmat merupakan salah satu suku terbesar dan tertua di Papua. Suku Asmat sendiri sebenarnya terbagi lagi menjadi dua, yaitu suku yang tinggal di pesisir pantai dan suku Asmat yang tinggal di wilayah pedalaman.

Pola hidup, cara berpikir, struktur sosial maupun keseharian kedua kategori Asmat ini sangatlah berbeda.

Sebagai contoh, dari sisi mata pencaharian mereka misalnya, suku Asmat yang berada di wilayah pedalaman, biasanya mempunyai pekerjaan sebagai pemburu dan petani kebun, sedangkan mereka yang tinggal di pesisir lebih memilih menjadi nelayan sebagai mata pencaharian.

Perbedaan kedua populasi ini disebabkan juga oleh kondisi wilayah tempat mereka tinggal dan besarnya pengaruh masyarakat pendatang yang umumnya lebih terbuka daripada kebudayaan Asmat sendiri.

Baca Juga: Reog Ponorogo: Asal-usul, Filosofi, Hingga Kesenian yang Erat dengan Unsur Mistik

Walaupun kedua populasi ini punya banyak perbedaan, namun keduanya memiliki karakteristik yang sama. Misalnya, dari segi ciri-ciri fisik. Suku Asmat memiliki rata-rata ketinggian sekitar 172 cm untuk pria dan 162 cm untuk wanita. Kulit mereka umumnya hitam dengan rambut yang keriting. Ciri fisik ini disebabkan karena suku Asmat masih satu keturunan dengan warga Polynesia.

Wilayah persebaran suku Asmat dimulai dari pesisir pantai laut arafuru hingga pegunungan Jayawijaya. Secara keseluruhan mereka menempati wilayah kabupaten Asmat yang punya kurang lebih 7 kecamatan.

Walau nampaknya dekat, namun jarak antar kampung dan kampung dengan kota kecamatan sangat jauh, bahkan perjalanannya dapat memakan 1 hingga 2 hari dengan berjalan kaki. Hal ini mereka lakukan bukan karena mereka tidak bisa memasukkan kendaraan ke Asmat, namun wilayah Asmat yang berawa-rawa hanya bisa dilewati dengan perahu atau berjalan kaki.

Anak-anak Asmat yang berkumpul di sekitar Jew. Foto: indonesiakaya.com

Rumah Adat Suku Asmat

Suku Asmat juga memiliki tradisi yang sangat menarik untuk disimak, yaitu Rumah Bujang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Jew. Rumah ini adalah bagian penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan suku Asmat. Jew menjadi rumah utama tempat mengawali segala kegiatan suku Asmat di tiap desa yang ada.

Begitu pentingnya, hingga dalam mendirikan Jew pun ada upacara khusus yang harus dilakukan. Jew, hanya ditinggali oleh pria-pria yang belum menikah. Sesekali kaum wanita boleh masuk tetapi harus dalam situasi pertemuan besar.

Hal ini juga yang melatarbelakangi kenapa rumah ini disebut sebagai rumah Bujang. Karena hanya boleh dihuni oleh kelompok laki-laki yang belum menikah alias masih bujang.

Jew terdapat di setiap kampung dan menjadi pusat kegiatan yang dilakukan oleh Suku Asmat. Jew menjadi tempat berkumpul bagi pemuda Asmat dalam menginisiasi berbagai hal seperti cara berperang, memukul tifa, mencari bahan makanan, hingga kepercayaan tentang leluhur yang terus diwariskan.

Kerangka Jew dibuat dari kayu asli papua dan rotan yang kuat. Lalu atapnya diberi daun nipah yang sudah dikeringkan serta memanfaatkan kulit-kulit kayu sebagai lantai rumah.

Tiang Jew selalui dilengkapi dengan ukiran kepala perang pada setiap masing-masing kelompok yang sudah meninggal. hal ini dilakukan sebagai pedoman bagi masyarakat Asmat yang harus dipegang dari generasi ke generasi.

Uniknya, Jew tidak memiliki pemisah ruang. Jew hanya punya ruang utama yang langsung menjadi satu dengan tungku dan dapur. Selain itu, Jew juga selalu dibangun menghadap ke arah matahari terbit atapun sejajar dengan sungai yang ada disekitarnya. 

Dalam tradisi Asmat, Jew tidak pernah dilihat dari seberapa besar, lebar ataupun panjangnya. Namun Jew dilihat dari bagaimana pemanfaatan yang sesuai seperti apa yang di wariskan oleh leluhur masyarakat Asmat.

Tarian Suku Asmat

Suku Asmat banyak memiliki kesenian tari dan nyanyian. Mereka menampilkan tari-tarian berikut nyanyian ini ketika menyambut tamu, masa panen, dan penghormatan kepada roh para leluhur. Mereka sangat hormat kepada para leluhurnya, hal ini terlihat dari setiap tradisi yang mereka miliki.

Walaupun kini kebudayaan modern sudah banyak berpengaruh pada kehidupan mereka, namun tradisi dan adat Asmat akan sulit untuk dihilangkan. Suku Asmat memiki kebudayaan yang luar biasa dan layak untuk menjadi objek utama yang patut dipelajari lebih jauh saat berkunjung ke Papua.

Bahasa Suku Asmat

Sebagaimana setiap suku pada umumnya, suku Asmat juga memiliki bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Suku Asmat menggunakan bahasa yang oleh para ahli disebut bahasa bagian selatan Papua.
Menariknya,bahasa ini pernah dipelajari oleh C.L Voorhoeve (1965) dan menjadi sebuah film bahasa-bahasa Papua non-Melanesia.


Suku Asmat menggunakan beberapa bahasa yang digunakan sehari-hari seperti bahasa Asmat Sawa, Asmat Bets Mbup, Asmat Safan, Asmat Sirat, dan juga Asmat Unir Sirau.

1. Bahasa Asmat Sawa

Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat Kampung Sawa, Kecamatan Sawaerma, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. 

2. Bahasa Asmat Bets Mbup

Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat Kampung Atsi, Kecamatan Atsi, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.

Bahasa Asmat Bets Mbup ini terdiri atas tiga dialek yang digunakan, yaitu bahasa Asmat dialek Bets Mbup, dialek Bisman, dan juga dialek Simay. 

3. Bahasa Asmat Safan

Bahasa ini dituturkan oleh etnik Asmat Safan di Kampung Aworket, Kecamatan Safan, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. 

4. Bahasa Asmat Sirat

Bahasa ini dituturkan oleh etnik di kampung Yaosakor, Kecamatan Sirets, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. 

5. Bahasa Asmat Unir Sinau

Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat Kampung Paar, Kecamatan Unir Sirau, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.

Pakaian Adat Suku Asmat

Suku Asmat memiliki pakaian tradisional yang khas. Seluruh bahan yang digunakan untuk membuat pakaian tersebut berasal dari alam. Hal ini membuat pakaian Suku Asmat merupakan representasi dari kedekatan mereka dengan alam raya.


Tidak hanya itu, bentu dan desain pakaian Suku Asmat pun terinspirasi dari alam. Pakaian laki-laki Suku Asmat dibuat menyerupai burung dan binatang lain yang dianggap melambangkan kejantanan. Sementara, rok dan penutup dada kaum perempuan menggunakan daun sagu sehingga menyerupai kecantikan burung kasuari.


Sebenarnya, pakaian laki-laki dan perempuan Suku Asmat tidak terlalu jauh berbeda. Pada bagian kepala, dikenakan penutup yang terbuat dari rajutan daun sagu dan pada sisi bagian atasnya dipenuhi bulu burung kasuari. Bagian bawah dan bagian dada (untuk perempuan) berupa rumbai-rumbai yang dibuat menggunakan daun sagu.


Pakaian adat tersebut belum sempurna jika tidak dilengkapi berbagai aksesori, juga menggunakan berbagai bahan yang tersedia di alam. Aksesori yang biasa dijadikan pelengkap pakaian tradisional Suku Asmat adalah hiasan telinga, hiasan hidung, kalung, gelang, dan tas. Hiasan telinga terbuat dari bulu burung kasuari. Bulu burung kasuari yang digunakan untuk hiasan telinga ukurannya lebih pendek dibanding bulu burung kasuari yang digunakan pada penutup kepala.


Hiasan hidung biasanya hanya dikenakan oleh kaum laki-laki. Hiasan ini terbuat dari taring babi atau bisa dibuat dari batang pohon sagu. Hiasan hidung yang dikenakan kaum laki-laki memiliki dua fungsi: simbol kejantanan dan untuk menakuti musuh. Sementara, aksesori kalung dan gelang dibuat dari kulit kerang, gigi anjing, dan bulu burung cendrawasih.


Esse (sebutan masyarakat Suku Asmat untuk tas) merupakan aksesori yang penting. Selain berfungsi sebagai wadah penyimpan ikan, kayu bakar, serta berbagai hasil ladang, esse juga dipakai ketika diadakan upacara-upacara besar. Orang yang mengenakan esse saat diadakan upacara adat dianggap sebagai orang yang mampu menjamin kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.


Dalam berbagai upacara adat, masyarakat Suku Asmat biasanya melengkapi penampilan mereka dengan gambar-gambar di tubuh. Gambar yang didominasi warna merah dan putih tersebut konon merupakan lambang perjuangan untuk terus mengarungi kehidupan. Warna merah yang digunakan berasal dari campuran tanah liat dan air, sementara warna putih berasal dari tumbukan kerang.

Senjata Tradisional Suku Asmat

Suku Asmat juga memiliki senjata tradisional yang unik seperti suku-suku lain. Senjata tersebut berupa kapak batu yang terbuat dari batu hijau yang diberi ukiran artistik. kapak ini memiliki berat sekitar 1 kg dengan panjang gagang sekitar 45 cm dan bilahnya 20 cm.

Walaupun punya ukuran yang kecil, namun kapak ini biasa digunakan oleh suku Asmat untuk menebang pohon dan membantu memanen sagu.  

Kesenian Ukir Suku Asmat

Suku Asmat sangat terkenal dengan tradisi dan keseniannya. Mereka dikenal sebagai pengukir handal dan diakui secara internasional. Ukiran asmat sangat banyak jenisnya dan beragam.

Namun, biasanya ukiran yang dihasilkan bercerita tentang sesuatu, seperti kisah leluhur, kehidupan sehari-hari dan rasa cinta mereka terhadap alam. Keunikan ukirannya inilah yang membuat nama suku Asmat begitu mendunia hingga kini.

Alat Musik Suku Asmat

Suku Asmat juga memiliki alat musik khas daerah. Alat musik tersebut bernama Tifa. Tifa sangat mirip dengan gendang dan menjadi alat musik khas Papua dan juga Maluku.

Tifa terbuat dari sebuah kayu yang dilubangi kemudian diberi kulit rusa sebagai penghasil suaranya. Tifa biasa digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara adat dan tari-tarian perang.

Reog Ponorogo: Asal-usul, Filosofi, Hingga Kesenian Budaya yang Erat Dengan Unsur Mistik

Reog Ponorogo: Asal-usul, Filosofi, Hingga Kesenian Budaya yang Erat Dengan Unsur Mistik

Reog Ponorogo: Asal-usul, filosofi, Hingga Kesenian Budaya Yang Erat Dengan Unsur Mistik. Foto: helloindonesia.id

Siapa yang tak mengenal Reog Ponorogo? salah satu kesenian budaya ini sudah ada sejak tahun 1920 dan bertahan hingga sekarang. seni pertunjukan reog sudah menjadi tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Ponorogo untuk menyambung tali silaturahmi.

Karena keunikannya, Tari Reog juga sangat terkenal hingga mancanegara. Tarian ini sering ditampilkan di beberapa negara seperti Korea Selatan, Azerbaijan, Rusia, Lebanon, Amerika, Australia, Fillipina, dan Singapura.

Apa Itu Reog Ponorogo

Reog Ponorogo adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan.

Reog merupakan salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Asal Usul & Filosofi Reog

Sejarah dan asal-usul pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15.

Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir.

Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak.

Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Baca juga: Ini Dia Makna Filosofis Blankon

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.

Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.

Reog Ponorogo terkenal dengan unsur-unsur mistik. Foto: pariwisataindonesia.id

Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam.

Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri.

Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga.

Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa ada garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan parental dan hukum adat yang masih berlaku sehingga harus dilakukan oleh seseorang yang punya garis keturunan yang jelas.

Pertunjukkan Seni Tari Reog

Pentas reog biasanya diawali dengan 3 tarian pembuka yaitu pemeran Warok, Jathil, dan Bujang Ganong. Reog tampil sebagai adegan penutup pertunjukkan dengan caplokan khas kepala singa yang dihiasi bulu merak.

Pertunjukkan Tari Reog biasa ditampilkan pada hari-hari hajatan seperti khitanan dan pernikahan. Selain itu, Tari Reog juga biasa ditampilkan dihari-hari besar nasional.

Karakter dan Properti Reog Ponorogo

Warok

Warok merupakan salah satu karakter yang digambarkan sebagai pawang dari seni tari Reog. Warok diambil dari kata wewarah yang berarti orang yang memiliki tekad suci dan bisa memberikan petunjuk. warok menjadi salah satu karakter yang merepresentasikan jiwa penduduk Ponorogo yang telah secara turun temurun mewariskan kesenian Reog. 

Jathil

Jathil merupakan salah satu karakter yang digambarkan sebagai prajurit berkuda dalam seni tari Reog. Jathil menjadi salah satu simbol ketangkasan prajurit berkuda pada jaman dulu. tarian jathilan biasa dibawakan 2 orang yang berpasangan. Properti yang digunakan jathil tak terlalu banyak. penari jathil hanya menggunakan kuda dan pakaian khas prajurit.

Barongan

Barongan merupakan salah satu karakter yang paling menonjol dalam seni tari Reog. Barongan digambarkan sebagai karakter harimau besar yang muncul diakhir pertunjukkan. barongan terbuat dari kerangka bambu, kulit harimau gembong, serta dadak merak.

Barongan kurang lebih memiliki panjang 2,5 meter dan lebar 2,30 meter. Adapun beratnya bisa mencapai 50-60 kilogram. Konon, orang yang berperan sebagai barongan selain harus latihan fisik, ia juga harus latihan spiritual yang ketat dan tak boleh dilanggar.

Klono Sewandono

Klono Sewandono merupakan seorang raja sakti mandraguna pemilik pusaka cemeti. Cemeti tersebut dikenal sangat ampuh dan sakti sehingga dikenal dengan nama lain Kyai Pecut Samandiman.

Klono Sewandono digambarkan sebagai sosok yang lincah. properti yang digunakan mulai dari topeng khas Prabu Klono hingga pakaiannya yang mencolok. 

Bujang Ganong

Bujang Ganong merupakan salah satu karakter patih muda yang enerjik, cekatan, jenaka, dan sakti. Sosok yang dikenal sebagai Ganongan ini digambarkan memiliki keahlian seni beladiri sehingga kerap menampilkan adegan-adegan yang sangat berbahaya. properti yang digunakan hampir sama dengan Klono Sewandono, yaitu topeng khas Ganongan yang penuh dengan bulu lengkap dengan pakaiannya.  

Referensi: Indonesiakaya.com, Indonesiabaik


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia