Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Bakso Gulung Bondowoso: Mengenal Rasa dan Resepnya

Bakso Gulung Bondowoso: Mengenal Rasa dan Resepnya

Bakso Gulung Bondowoso: Mengenal Rasa dan Resepnya
Bakso gulung Bondowoso yang unik dan lezat. Foto: travel.tribunnews.com

Tak hanya memiliki berbagai destinasi yang sangat mempesona, Bondowoso juga punya berbagai kuliner lezat, salah satunya adalah Bakso Gulung Bondowoso.

Bakso adalah salah satu kuliner khas yang paling umum di Indonesia. Hampir setiap daerah di Indonesia pasti memiliki kuliner bakso. Hal ini membuat bakso mudah ditemui dari mulai pedagang gerobak berjalan, hingga kaki lima.

Bakso juga sudah sangat familiar di lidah orang Indonesia. Bahkan saking familiarnya, orang Indonesia jadi hafal bagaimana tekstur dan kuah bakso yang nikmat dan pas.

Nah tak seperti di kebanyakan daerah. Di Bondowoso, bakso jadi salah satu kuliner yang unik. Penyajiannya tak biasa dari bakso pada umumnya. Bakso di Bondowoso diolah dengan cara digulung.

Sesuai namanya, bakso ini dibentuk menggulung digabungkan dengan telur dadar dan beberapa isian.

Bagaimana rasanya? Ya tentu saja berbeda. Bakso Gulung Bondowoso dinilai sangat nikmat karena digulung bersama telur dadar. Perpaduan antara telur dadar yang di selimuti oleh bakso akan menimbulkan sensasi berbeda dari bakso biasanya.

Tekstur dan kuah biasanya jadi faktor penentu citarasa bakso. Begitu demikian, Bakso gulung Bondowoso punya tekstur kenyal  dan lembut yang pas serta kuah yang berasal dari racikan rempah-rempah dan bumbu sehingga membuat bakso gulung Bondowoso semakin gurih dan nikmat.

Baca juga: Fakta Dibalik Pecel Lele Lamongan yang Tersebar Seanteri Nusantara

Saat kamu berkunjung ke Bondowoso, kamu harus merasakan betapa istimewanya Bakso Gulung Bondowoso ini. Apalagi Bondowoso juga dikenal memiliki kuliner dengan harga yang sangat terjangkau. Jadi taka da alasan untuk tak mencoba bakso gulung Bondowoso ini.

Bakso Gulung Bondowoso Paling Diminati

Salah satu kuliner bakso gulung Bondowoso yang paling diminati adalah Bakso Gulung Cak Rusdi yang berada sebelah Gedung 1 MTSN Wonosari, Jalan Raya Situbondo, Tratakan, Wonosari, Bondowoso. Jaraknya tak jauh dari pusat kota Bondowoso yaitu 8 kilometer atau sekitar 15 menit waktu perjalanan.

Selain punya rasa yang unik, bakso gulung cak Rusdi juga sangat terjangkau. Satu porsinya hanya dibanderol Rp 20.000 saja. Tak heran kalau bakso gulung ini selalu ramai dikunjungi. Jika merasa belum kenyang, kalian juga bisa memesan beberapa lontong sebagai tambahan agar lebih mengenyangkan.

Untuk kalian yang ingin mencicipi bakso ini, bakso gulung Cak Rusdi buka sejak pukul 09:00 hingga 21:00.

Cara Pembuatan Bakso Gulung Bondowoso

Seperti disinggung diatas bahwa bakso gulung Bondowoso dibentuk dengan cara yang unik. Jika bakso bulat dibentuk dengan cara meremas adonan, bakso gulung Bondowoso tak bisa demikian. Untuk membentuk gulungan, adonan bakso terlebih dahulu di bentuk menjadi lembaran tipis lalu digulung.

Namun, tak hanya adonan bakso, bakso gulung Bondowoso digulung dengan telur dadan dan beberapa toping lain seperti cincang daging sapi dll.

Resep Bakso Gulung Bondowoso

Membuat bakso gulung Bondowoso sebenarnya tak sulit, untuk kalian yang ingin mencoba membuatnya dirumah, berikut merupakan resep bakso gulung Bondowoso:

Baca juga: Selain Nasi Padang, Kota Pariaman juga Punya Kuliner Nasi Sek

Cara Membuat Bakso Gulung Bondowoso

Bahan isi bakso:

  • 100 gram daging sapi
  • 100 gram sound dan rendam di air panas
  • 1-2 butir telur dan kocok hingga tercampur
  • 1 helai daun bawang dan iris halus
  • 2 sdm bawang mrah goreng

Bahan bakso:

  • 150 gram daging cincang
  • ½ telur dan kocok hingga merata (tambahkan garam)
  • 1 siung bawang putih
  • 1 sdm tepung kanji

Bahan kaldu:

  • 3 buah kikil sapi
  • 2 butir bawang merah dan haluskan
  • 2 siung bawang putih
  • ½ sdt merica bubuk
  • 1 cm jahe
  • 1 sdm minyak goreng

Cara membuat:

  1. Rebus daging dan kikil sapi dengan air dingin. Setelah mendidih, kecilkan api.
  2. Angkat daging, suwir-suwir, sisihkan.
  3. Tumis bawang merah dan bawang putih yang dihaluskan hingga harum, masukkan ke dalam rebusan kikil sapi. Tambahkan jahe dan merica bubuk. Setelah mendidih, angkat.
  4. Buat 2 dadar dari 1/2 butir telur, sisihkan.
  5. Buat bakso gulung : Campur daging sapi cincang dengan tepung kanji dan bawang putih serta 1/2 butir telur. Aduk rata. Ambil dadar, ratakan daging sapi pada permukaan dadar, gulung rapat, kukus. Angkat, potong setebal 3 cm.
  6. Siapkan mangkuk, letakkan soun, beri suwiran daging sapu, bakso gulung, taburi dengan daun bawang dan bawang goreng, siram dengan kaldu panas-panas.

Bagaimana? Mudah bukan!

Kalian pasti bisa membuat bakso gulung Bondowoso lezat di rumah.

Demikian ulasan mengenai bakso gulung Bondowoso dari Exploring Indonesia, dari mulai citarasanya, cara membuat hingga resepnya. semoga bisa membatu dan mari cintai seluruh kuliner Indonesia


Fakta Dibalik Pecel Lele Lamongan yang Tersebar di Seantero Indonesia

Fakta Dibalik Pecel Lele Lamongan yang Tersebar di Seantero Indonesia

Fakta dibalik Pecel Lele Lamongan yang Tersebar di Seantero Indonesia
Fakta dibalik Pecel Lele Lamongan yang Tersebar di Seantero Indonesia. Foto: Shutterstock/Ika Rahma

Selain Padang, Lamongan adalah daerah yang makanan khasnya bisa kita temui di seluruh daerah Indonesia. Apalagi kalau bukan Pecel Lele Lamongan.

Padang terkenal dengan masakan khasnya yang identik dengan santan dan rasa yang pedas. Hal ini membuat masakan padang memiliki ciri rasa yang unik dan cocok dengan lidah kebanyakan orang Indonesia. Tak ayal, masakan padang bisa menjamur di seluruh kota Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan pecel lele Lamongan?. Makanan yang satu ini memang sederhana, namun punya rasa yang luar biasa. Perpaduan antara nasi hangat, ikan lele yang digoreng hingga kering, lalapan, serta sambal khas nya akan membuat lidah bergoyang hingga kenyang. Selain itu, harganya juga relative terjangkau.

Tenda-tenda pecel lele ini biasanya menggunakan spanduk yang sangat ikonik, yaitu gambar ikan lele, ayam, tahu, tempe yang kadang juga terdapat terong. Anda juga pasti pernah melihat tenda pecel lele disudut-sudut kota dan pinggir jalan raya. Melihatnya dari jauh pun membuat kita paham bahwa tenda itu adalah warung pecel lele khas Lamongan.

Warung pecel lele Lamongan punya tenda yang sangat ikonik. Foto: Istimewa

Lalu kenapa pecel lele Lamongan bisa tersebar di seantero Indonesia?

Ini jelas bukan semacan bisnis franchise yang menjalankan bisnis dengan metode rimba, yaitu menciptakan cabang sebanyak-banyaknya. Pedagang pecel lele Lamongan adalah seorang perantau yang mengadu nasib.

Sejarah Pecel Lele Lamongan yang Tersebar di Seluruh Indonesia

Seperti ditulis pada laman pmb.lipi.go.id, ada sebuah cerita yang melatarbelakangi menjamurnya pecel lele Lamongan di Indonesia. Sekitar tahun 1965-1966, Lamongan menjadi daerah yang tidak kondusif karena terdapat konflik pembersihan PKI. Selain itu, Lamongan juga menjadi daerah yang tanahnya kurang subur. Hal ini tentu membuat banyak petani yang mengalami gagal panen.

Dilansir melalui Mojok.co, seorang Budayawan Lamongan Syarif Hidayat mengatakan bahwa secara antropologi, Lamongan adalah daerah yang dulunya sangat menyedihkan. Saat hujan deras, beberapa daerah akan mengalami banjir. Saat kemarau, beberapa daerah akan mengalami kekeringan.

Menurut Syarif, kondisi ini menjadi hambatan tersendiri bagi warga yang hidup dari pertanian dan tambak. Belum lagi masalah hama seperti wereng dan tikus yang kerap menyerang lahan pertanian.

Baca Juga: Fakta Nasi Padang yang Identik dengan Santan dan Rasa Pedas

Hal ini membuat banyak masyarakat Lamongan yang memutuskan pergi untuk merantau dan merintis usahanya sendiri, yang salah satunya adalah membuka warung pecel lele. Pada tahun 1970-1980, orang Lamongan yang sukses mendirikan warung pecel lele nya membawa sanak kerabat untuk ikut ke kota dan membuka warung pecel lele baru.

Siklus tersebut terus terjadi hingga warung pecel lele Lamongan menjamur seperti sekarang. Hingga tulisan ini dibuat setidaknya sudah ada  warung pecel lele Lamongan di Yogyakarta yang muncul di Google map. Belum yang tak terdaftar, pasti akan lebih banyak lagi.

Resep Pecel Lele Lamongan



Kurma Ajwa: Manfaat dan Kenapa Bisa Mahal?

Kurma Ajwa: Manfaat dan Kenapa Bisa Mahal?

Kurma Ajwa: Manfaat dan Kenapa Bisa Mahal?
Kurma Ajwa: Manfaat dan Kenapa Bisa Mahal?. Foto: istock/Rizal Mansor

Manfaat Kurma Ajwa - Ada banyak jenis kurma premium yang populer di Indonesia. Salah satu jenis kurma yang terkenal ialah kurma ajwa atau kurma nabi.  Kurma ini biasanya dijual dengan harga mahal. Konon karena kurma ajwa memiliki beragam manfaat kesehatan dan menjadi favorit Nabi Muhammad SAW.

Lantas, sebetulnya apa sih kurma ajwa? Berikut uraian penjelasannya. 

Dalam buku Kurma dari Gurun ke Tropis oleh Desi Sayyidati Rahimah disebutkan bahwa kurma ajwa adalah jenis kurma premium yang berasal dari Madinah.  Tepatnya di dataran tinggi dekat Nejed, Saudi Arabi.

Peziarah haji dari seluruh dunia biasanya membeli kurma ajwa untuk dijadikan oleh-oleh.  Kurma ajwa berbentuk bulat dengan tekstur kulit yang halus tetapi mengerut. Rasa daging buahnya agak manis seperti kismis.

Namun teksturnya daging buahnya tidak begitu lembut. Biasanya kurma ajwa dikonsumsi pada tahap kematangan tamar, yakni ketika kulitnya sudah berwarna coklat kehitaman.  Kurma ajwa yang belum masak atau masih khalal berwarna merah kesumba.

Pada tahap rutap, kurma ajwa muncul warna hitam dari bagian ujungnya. 

Harga Kurma Ajwa

Di Indonesia, harga kurma ajwa lebih mahal daripada jenis kurma kebanyakan. Dilihat dari marketplace, satu kilogramnya diberi harga lebih kurang Rp 200.000.

Baca Juga: Ini Kebijakan Terbaru Pemerintah Tentang Larangan Mudik 2021

Kurma ajwa disebut sebagai kurma pertama yang dibudidayakan oleh Nabi Muhammad SAW, seperti dilansir dari Arab News. Hal inilah yang lantas membuat membuat kurma ajwa juga dikenal dengan sebutan kurma nabi. Setelah ditanam oleh Nabi Muhammad SAW, kurma ajwa lalu mulai dibudidayakan hampir di seluruh tanah Arab. 

Manfaat dan khasiat Kurma Ajwa

Kurma ajwa dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan. Bahkan dulu masyarakat Arab gemar mengonsumsi kurma ajwa sebanyak lima sampai tujuh buah per hari.  Konsumsi kurma ajwa secara rutin dapat membuat tubuh terhindari dari karsinoman atau sel kanker yang berkembang dalam tubuh. 

Laman King Saud University juga menyebutkan manfaat kurma ajwa. Di dalam kurma ajwa terdapat kandungan glikosida flavonoid yang memiliki sifat antioksidan. Selain itu, ditemukan juga efek penghambatan siklooksigenase pada kurma ajwa yang sifatnya mirip dengan obat antiinflamasi. 

Kandungan gula dalam kurma ajwa bersifat monosakarida yang aman untuk penderita diabetes tipe 2.  Kurma ajwa dipercaya dapat meningkatkan imunitas, menjaga kesehatan jantung, serta baik untuk ibu hamil. Kamu dapat mengonsumi kurma ajwa untuk menu takjil ketika buka puasa.

Sumber: Kompas


Intip 7 Makanan Tradisional Khas Ramadan beserta Resepnya

Intip 7 Makanan Tradisional Khas Ramadan beserta Resepnya

Kangka kopyor, salah satu kuliner tradisional khas ramadan. Foto: travel.okezone

Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan yang selalu dinanti oleh umat muslim. Berbagai tradisi spiritual hingga kuliner khas pun tersaji hanya saat bulan suci ini tiba.

Tidak sedikit yang kemudian berburu makanan tradisional  khas di bulan Ramadhan ini sebagai takjil berbuka puasa. Dirangkum dari berbagai sumber, simak makanan tradisional yang khas ketika Ramadhan tiba berikut ini.

Bangka Kopyor

Bangka Kopyor. Foto: Travel.okezone

Makanan tradisional yang satu ini dapat menjadi andalan ketika berbuka puasa. Berbahan baku buah nangka, Bangka kopyor adalah singkatan dari bubur nangka dan kelapa kopyor. Pada umumnya, makanan tradisional ini dijajakan oleh pedagang yang berada di sekitaran pantai Gresik. Anda juga dapat mencoba resepnya.

Bahan-bahan:

  • 4 biji nangka
  • 3 lembar roti tawar
  • 30 gr mutiara
  • 2 buah pisang
  • 50 gr kelapa muda
  • 150 ml santan
  • 1,5 sdm gula
  • Garam secukupnya
  • 1 lembar daun pandan
  • Daun pisang
  • Tusuk gigi

Cara membuat:

  • Potong dadu roti tawar dan nangka.
  • Masak mutiara hingga matang, sisihkan.
  • Masak santan, gula, dan garam di tempat yang lain, aduk hingga rata.
  • Masukkan mutiara jika sudah mendidih.
  • Biarkan hingga setengah dingin, lalu masukkan ke dalam daun pisang yang telah dibentuk.
  • Tambahkan roti dan nangka.
  • Bungkus
  • Siap untuk disajikan.

Lemang

Lemang. Foto: resepiresepi

Makanan tradisional yang berikutnya ini biasanya sering ditemui di daerah Aceh. Aroma ketan yang menggoda membuat harga dari makanan ini cukup mahal yakni berkisar hingga 50 ribu rupiah.

Tidak perlu sedih, Anda juga dapat mencobanya di rumah.

Bahan-bahan:

  • Santan dan garam secukupnya
  • 1 kg beras ketan, cuci dan tiriskan
  • 2 lembar daun pandan
  • Daun pisang
  • Tusuk gigi

Cara membuat:

  • Rebus santan dengan daun pandan dan garam.
  • Masukkan beras ketan ke dalam santan yang mendidih.
  • Aduk hingga merata dan mengering.
  • Matikan kompor.
  • Masukkan ke dalam daun pisang dan bentuk secara memanjang.
  • Tutup dengan daun pisang.
  • Kukus selama 30 menit.
  • Bakar hingga daun berubah warna.
  • Siap disajikan.

Sotong Pangkong

Sotong Pangkong. Foto: merahputih

Sotong pangkong adalah makanan tradisional yang biasa disajikan ketika bulan Ramadhan di daerah Pontianak. Daging yang digunakan ini bukanlah daging sapi, melainkan daging cumi kering yang menambah rasanya kian menarik.

Anda dapat mencobanya sebagai sajian berbuka puasa Anda.

Bahan-bahan:

  • Cumi kering
  • 2 siung bawang putih
  • 1 sdt cuka
  • Cabai secukupnya
  • 1,5 sdt gula
  • Air secukupnya
  • Garam secukupnya

Cara membuat:

  • Cuci cumi hingga bersih dan keringkan.
  • Masukkan semua bumbu dan aduk hingga merata ke dalam sebuah mangkuk.
  • Panggang cumi kering hingga matang.
  • Angkat dan sajikan dengan bumbu.

Mie Glosor

Mie glosor. Foto: IDNTimes

Mie glosor adalah makanan tradisional yang khas dari daerah Bogor, Jawa Barat ketika bulan Ramadhan. Glosor diambil dari bahasa Sunda yang berarti mudah untuk ditelan.

Anda dapat mencoba resepnya berikut ini.

Bahan:

  • 2 bungkus mie, rendam pada air dan sisihkan.
  • 5 buah bakso
  • Cabai secukupnya
  • Daun bawang
  • Minyak
  • 3 siung bawang putih
  • 4 siung bawang merah
  • 2 buah kemiri
  • Garam, kaldu, dan kecap manis secukupnya

Cara membuat:

  • Tumis bumbu hingga harum.
  • Beri sedikit air dan tambahkan bakso, kecap manis, dan kaldu.
  • Masukkan mie dalam kuah.
  • Masak hingga air menguap dan tambahkan kecap manis kembali.
  • Angkat dan sajikan.

Kicak

Kue Kicak. Foto: Viva.co

Kicak adalah makanan tradisional khas dari Yogyakarta. Pada umumnya, makanan ini hanya dapat ditemui ketika menjelang berbuka puasa di Pasar Sore Kauman. Terbuat dari singkong yang dikukus, membuat makanan ini cocok menjadi hidangan berbuka Anda.

Anda dapat mencoba resepnya berikut ini.

Bahan-bahan:

  • 800 gr singkong parut
  • ½ butir kelapa parut
  • 2 lembar daun pandan
  • Minyak secukupnya
  • Garam dan gula secukupnya
  • 100 ml air

Cara membuat:

  • Masukkan singkong dan garam pada wadah.
  • Kukus selama 20 menit.
  • Selagi panas, haluskan kembali dan beri minyak agar tidak lengket.
  • Tuang ke loyang dan biarkan hingga dingin.
  • Potong-potong dengan bentuk kotak.
  • Untuk topping, rebus gula merah, gula pasir, dan daun pandan hingga mendidih.
  • Aduk hingga menjadi caramel.
  • Tuang di atas singkong.
  • Siap disajikan.

Asida

Kue Asida. Foto: Tribunnews

Makanan tradisional yang satu ini hanya ada pada saat Ramadhan di daerah Maluku. Terbuat dari tepung terigu, gula merah, kapulaga, daun pandan, dan kayu manis membuat makanan ini memiliki rasa yang khas dan legit.

Anda dapat mencoba resepnya berikut ini.

Bahan:

  • 250 gr tepung
  • 250 gr gula merah
  • 2 cm kayu manis
  • 1 lembar daun pandan
  • 150 ml air
  • 3 biji kapulaga
  • Margarin dan garam secukupnya

Cara membuat:

  • Sangrai tepung dengan daun pandan, sisihkan.
  • Buat gula merah dengan air dan daun pandan, kapulaga, dan garam.
  • Saring dan dinginkan.
  • Ambil kapulaga dan masukkan kembali ke dalam wajan bersama air gula.
  • Campur gula dan tepung, aduk hingga merata dan dinginkan.
  • Sajikan dengan ambil satu sendok dan tekan tengah adonan.
  • Masukkan margarin ke tengah asida.

Gulai Siput

Gulai Siput. Foto: IDNTimes

Makanan tradisional yang terakhir ini adalah makanan yang khas di daerah Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ketika Ramadhan tiba. Gulai ini menggunakan daging siput untuk bahan bakunya.

Bahan-bahan:

  • ½ kg daging siput
  • 1 bungkus santan instan
  • 1 batang serai
  • 1 ruas jahe
  • 1 cm kunyit
  • 7 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 3 lembar daun jeruk

Cara membuat:

  • Cuci dan buang ujung siput.
  • Lumuri dengan daun jeruk, sisihkan.
  • Tumis bumbu hingga harum.
  • Masukkan santan.
  • Setelah mendidih, masukkan daging siput.
  • Masak dengan api sedang selama 15 menit.
  • Siap disajikan.


Selain Nasi Padang, Kota Pariaman Juga Punya Kuliner Nasi Sek

Selain Nasi Padang, Kota Pariaman Juga Punya Kuliner Nasi Sek

Nasi Sek yang dulu Rp. 100, kini jadi Rp. 10.000. Foto: Beritagar

Mendengar Sumatra Barat, apa hal yang pertama kali terlintas di pikiran Kalian? Nasi padang, orang minang, atau wisata alam yang menakjubkan? Berbicara tentang Sumatra Barat, kota Pariaman ini memang memiliki berjuta pesona. Salah satunya ialah makanan khas daerahnya.

Nasi Padang merupakan makanan yang sangat legendaris, kaya akan bumbu rempah, dan memiliki cita rasa yang tinggi, serta mudah ditemukan di berbagai tempat. Tak jarang, banyak orang yang menjadikan nasi padang menjadi makanan favoritnya. Lebih dari itu, ada banyak jenis makanan khas Sumatra Barat yang tak kalah lezatnya.

Baca Juga: Inilah 5 Makanan Khas Perayaan Imlek Serta Filosofinya

Kali ini, mari mengetahui lebih jauh tentang salah satu makanan khas yang ada di Provinsi Sumatra Barat, tepatnya di Kota Pariaman. Kota ini berjarak sekitar 56 km dari kota Padang atau 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau. Dengan Lokasi yang stategis, dekat dengan pusat kota dan akses bandara, Kota Pariaman layak dijadikan opsi destinasi wisata yang melengkapi itinerary liburan Kalian.

Nasi Sek

Nasi Sek telah ada sejak tahun 1980-an. Foto: GNFI

Bagi sebagian orang, mungkin makanan ini terdengar asing. Konon sejarahnya, nasi sek telah ada sejak tahun 1980-an. Disebut nasi sek karena berasal dari akronim nasi seratus kenyang. Zaman dahulu, nasi sek lengkap dengan lauk dan sayur dijual dengan harga seratus rupiah sehingga nama nasi sek dengan harga yang murah dan banyak, diminati masyarakat dengan cita rasa yang khas. Nasi sek juga masih eksis hingga saat ini.

Meski namanya nasi seratus kenyang, tentu saat ini harga nasi sek tidak seratus rupiah lagi. Harga 1 bungkus nasi sek rata-rata Rp2.000 sampai Rp3.000 di luar lauk dan panganan pelengkap lainnya. Untuk harga lauknya menyesuaikan dengan tempat dan porsi yang disediakan.

Nasi sek kerap kali disebut-sebut sebagai salah satu menu andalan di tepi Pantai Pariaman. Berbeda dengan nasi padang yang biasa dijual di kedai nasi, nasi sek berukuran lebih kecil atau seukuran kepalan tangan dan dibungkus dengan daun pisang.

Nasi Sek Pariaman jadi salah satu kuliner yang harus dicicipi. Foto: GNFI

Nasi sek ini selalu dihidangkan sepaket dengan lauk pauk dan sayur mayur. Tak ketinggalan, menu andalan, seperti gulai ikan laut, ikan bakar, sambal teri kering, sambal lado, dan gulai jengkol hingga panganan pelengkap, seperti sala bulek (sala bulat), sala lauak (sala ikan) dan sala cumi menjadi pelengkap paling tepat untuk nasi sek ini.

Di beberapa tempat, ada juga yang menyediakan menu sambal jantung pisang, gulai putih jantung pisang hingga gulai pisang yang tak kalah nikmatnya.

Nasi sek biasanya dijual di sepanjang jalan yang dekat dengan tepi pantai di Kota Pariaman, Sumatra Barat. Identik dengan makan dengan tangan sambil lesehan di saung atau gazebo dan ditemani semilir angin pantai dan deburan ombak, menjadikan tempat dan kuliner ini sebagai salah satu tempat terbaik.

Jika berkunjung ke Kota Pariaman untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga, jangan lupa untuk mencoba nasi sek, ya! Rugi sekali rasanya jika dilewatkan. Tertarik mencobanya? Ayo, ke Pariaman!

Sumber: GNFI


Inilah 5 Makanan Khas Perayaan Imlek Serta Filosofinya

Inilah 5 Makanan Khas Perayaan Imlek Serta Filosofinya

makanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanyamakanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanya Foto: iStock

Perayaan Imlek menjadi sangat meriah di beberapa daerah, terutama daerah-daerah yang memiliki chinatown. Ada berbagai makanan khas Imlek yang kerap tersaji, mulai dari ikan bandeng utuh sampai mie panjang umur.

Biasanya dalam menyambut Tahun Baru China atau Imlek, mereka yang merayakannya akan menyiapkan acara khusus bersama keluarga. Salah satunya makan bersama.

Makanan khas Imlek harus ada di meja makan seperti ikan bandeng utuh, kue keranjang, mie panjang umur, yee sang, dan lainnya. Dipilihnya makanan-makanan ini karena masing-masing memiliki makna pada perayaan Imlek.

Berikut 5 makanan khas Imlek beserta maknanya:

Ikan Bandeng Utuh

makanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanyamakanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanya Foto: iStock

Dalam tradisi Imlek di Indonesia, ikan bandeng utuh wajib disajikan. Ikan bandeng dipercaya sebagai sumber rezeki untuk mereka yang merayakan Imlek.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu. Awalnya ikan bandeng banyak dikonsumsi oleh warga etnis China yang menetap di Jakarta atau biasa dikenal dengan nama China Betawi.

Baca Juga: Fakta Mengapa Masakan Padang Identik dengan Santan dan Pedas

Ikan bandeng biasa diolah menjadi pindang. Saat memasaknya harus dalam kondisi utuh. Selain itu, ketika membelinya juga tidak boleh ditawar karena dipercaya bisa mengakibatkan sial.

Kue Keranjang

makanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanyamakanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanya Foto: iStock

Nian Gao yang dikenal dengan sebutan kue keranjang di Indonesia juga jadi makanan khas Imlek yang wajib disajikan. Mereka yang merayakan akan memburu Nian Gao saat Imlek tiba.

Konon kue yang mirip dengan dodol ini memiliki makna kekeluargaan. Hal ini dapat dilihat dari bentuk kue keranjang yang seperti lingkaran. Bentuk inilah yang menandakan kekeluargaan yang erat dan tak mudah dipisahkan.

Kue keranjang yang biasa disusun bertingkat dari ukuran besar hingga kecil ini juga memiliki makna kesuksesan dan naiknya rejeki. Oleh karenanya kue ini wajib ada saat perayaan Imlek.

Mie Panjang Umur

makanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanyamakanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanya Foto: iStock

Tradisi menyantap siu mie sudah dijalankan turun-temurun. Siu mie sendiri adalah mie goreng. Makanan ini wajib disajikan dalam perayaan Imlek karena memiliki makna positif.

Siu mie rasanya gurih dan kenyal. Biasanya disajikan dalam ukuran yang lebih panjang dari mie goreng pada umumnya. Ukurannya yang panjang dipercaya memiliki makna umur yang panjang, seperti sebutan mie tersebut.

Selain umur panjang, menyantap siu mie juga dipercaya memiliki makna kelancaran rezeki yang lebih berlimpah dari tahun sebelumnya. Jadi, bagi siapapun yang menyantap siu mie atau mie panjang umur saat Imlek niscaya mendapatkan kehidupan abadi dan rezeki melimpah.

Yee Sang

Perayaan Imlek akan semakin meriah kalau menyantap yee sang bersama keluarga. Yee sang atau yu sheng adalah salah satu makanan wajib dalam tradisi Imlek. Makanan ini bisa disebut sebagai salad karena terbuat dari sayuran dan ikan.

Baca Juga: Kopi Indonesia yang Mendunia

Yee sang disajikan dengan warna-warni yang cantik. Jumlah bahan yang digunakan 8-17 jenis, karena angka itu dianggap sebagai lambang keberuntungan dalam budaya China. Di dalamnya terdapat ikan mentah, biasanya menggunakan salmon atau tuna.

Untuk sayurannya ada irisan wortel, lobak, rumput laut, jeruk bali, hingga pangsit. Bumbunya meliputi saus plum, minyak, hingga biji wijen. Semua bahan ini memiliki makna keberuntungan, rezeki melimpah, dan lainnya.

Telur Pindang

makanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanyamakanan khas imlek yang wajib ada beserta maknanya Foto: blog.duniamasak.com

Telur pindang atau telur daun teh juga jangan sampai terlewat saat merayakan Imlek. Makanan ini juga wajib ada dalam perayaan Imlek. Tentu saja karena telur pindang memiliki makna positif bagi mereka yang merayakannya.

Telur pindang ini adalah telur rebus biasa, namun saat perebusan telur ditambahkan daun teh. Selain itu biasanya juga ditambahkan kecap, adas, kayu manis, hingga kulit jeruk mandarin. Karenanya telur pindang memiliki cita rasa unik dengan motif khas dan warna kecokelatan.

Telur pindang memiliki makna yang dipercaya melambangkan kesuburan. Makanan ini dipercaya dapat memberikan kesejahteraan bagi siapa saja yang menyantapnya.

Sumber: detik.com

Merasakan Nasi Ayam Kedewatan Bersama Tim Indonesia Exploride

Merasakan Nasi Ayam Kedewatan Bersama Tim Indonesia Exploride

Nasi Ayam Kedewetan. Foto: indonesiakaya.com

Bagi para pecinta kuliner yang berkunjung ke Pulau Bali, Ubud memang menjadi salah satu daerah wisata kuliner yang menyediakan berbagai jenis makanan yang menggugah selera. Begitu juga dengan tim Indonesia Exploride yang memang dijadwalkan untuk melakukan kegiatan wisata kuliner di daerah ini, memilih makan siang di rumah makan Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, yang terletak tidak jauh dari tempat tim menginap.

Nasi Ayam Kedewatan merupakan sejenis nasi campur yang terdiri dari daging ayam, jeroan, dan kacang goreng, yang ditambah dengan telur rebus, satu tusuk sate, dan masakan sayur yang berbahan kacang panjang.

Sementara sebagai pelengkapnya, disediakan sambal matah, yaitu cabe yang dipotong kecil-kecil dan kemudian dicampurkan dengan garam dan bawang.

Baca juga: Fakta Megapa Masakan Padang Identik dengan Santan dan Pedas

Menurut pemiliknya, rumah makan yang menyediakan hidangan serba ayam ini sudah sering didatangi oleh selebritis lokal ataupun mancanegara. Dan perjalanan tim Indonesia Exploride yang cukup melelahkan karena padatnya lalu lintas menuju ke Ubud serasa terbayarkan setelah menyantap dan merasakan kelezatan nasi ayam campur khas Bali ini.

Rumah makan Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku berada di Jl. Raya Kedewatan, Ubud, Gianyar, Bali. Suasana Bali langsung terasa di rumah makan yang juga memiliki arsitektur bergaya Bali ini, damai dan tenang serasa di desa. Hidangan ini bisa dinikmati dengan merogoh kocek sebesar Rp 10.000 untuk satu porsi.

Sumber: indonesiakaya.com


Fakta Mengapa Masakan Padang Identik dengan Santan dan Pedas

Fakta Mengapa Masakan Padang Identik dengan Santan dan Pedas

Bersantan dan pedas jadi salah satu ciri kuat masakan khas Padang. Foto: Orami.com

Masakan Padang dari ranah Minangkabau, Sumatra Barat, termasuk salah satu makanan yang sangat terkenal di Indonesia. Kuliner ini sudah tak asing bagi lidah masyarakat Indonesia. Kalian juga dapat dengan mudah menemukan rumah makan Padang yang tersebar hampir di seluruh penjuru kota.

Kekayaan cita rasa yang khas dan unik pada masakan ini mampu membuat siapapun akan ketagihan menyantapnya. Kalau Kalian perhatikan, hampir sebagian besar masakan Padang mengandung santan dan cabai yang tak sedikit. Penggunaan kedua bahan tersebut menjadi kunci sajian untuk menciptakan kelezatan masakan.

Bukankah Kalian bertanya-tanya kenapa masakan Padang identik dengan santan dan rasa pedas? Yuk, simak sejarah di baliknya.

Menggunakan Santan karena Pengaruh Masyarakat India dan Timur Tengah

Masakan Padang memang menjadi salah satu kuliner yang sangat nikmat. Foto: IDNtimes

Rahasia yang membedakan masakan Padang dengan masakan dari daerah lain adalah penggunaan santan yang tak sedikit. Air perasan daging kelapa ini menciptakan rasa gurih pada masakan. Menurut penelusuran buku “Kuliner Indonesia” ada 60 jenis makanan khas Minangkabau yang bersantan, jauh lebih banyak daripada Aceh yang hanya memiliki 21 jenis makanan bersantan.

Dalam buku karya sejarawan Gusti Asnan, "Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra" tertulis bahwa pada abad ke 16, Sumatra Barat menjadi salah satu kawasan yang dilewati jalur perdagangan di pantai barat Sumatra. Kawasan ini menjadi persinggahan banyak pedagang dari India dan Timur Tengah

Baca Juga: Sate Padang, Tersebar Bersama Tradisi Merantau Orang Minangkabau 

Penjelasan tersebut juga didukung oleh catatan Tome Pires, pengelana asal Portugis yang mengatakan bahwa ada kapal dari Gujarat, India yang singgah di pantai-pantai Sumatra Barat, khususnya di Pelabuhan Pariaman dan Tiku (kini dikenal dengan nama Kabupaten Agam) pada abad ke-16. Mereka mendarat di kawasan ini untuk berdagang.

Kebanyakan para pedagang tersebut membawa dan menjajakan rempah-rempah. Tak hanya itu berdagang, mereka juga menularkan kebiasaan memakan masakan kaya rempah, santan, dan cabai. Jadi, tak heran bila masakan Padang mendapat pengaruh cukup besar dari kuliner India dan Timur Tengah.

Perkebunan Sumatra Barat menghasilkan kelapa dan santan berkualitas tinggi. Ada berbagai jenis kelapa di sini, seperti kelapa Painan, kelapa Pariaman, kelapa Pasaman, dan sebagainya. Kandungan minyak dalam kelapa tersebut berbeda dengan kelapa dari daerah lain sehingga olahan masakan Padang di daerah asalnya terasa berbeda dan lebih enak.

Selain santan yang terkenal menjadi bahan utama dalam masakan Sumatra Barat, ada pula penggunaan rempah-rempah yang sangat kuat seperti pala, merica, dan lain sebagainya.

Menghangatkan Tubuh di Daerah Tinggi dengan Masakan Pedas

Sambal adalah pelengkap masakan Padang. Foto: tribun news  

Bukan tanpa alasan, ada sejarah menarik di balik rasa pedas yang identik dalam masakan Padang. Sejak dahulu, Minangkabau terbagi menjadi 3 daerah atau dikenal sebagai luhak nan tigo, yakni Luhak Agam, Luhak Limapuluh Kota, dan Luhak Tanah Datar. Ketiga daerah tersebut merupakan daerah dataran tinggi atau darek yang diselimuti suhu dingin.

Para penduduknya butuh makanan dan minuman yang hangat. Maka dari itu, mereka pun berinisiatif menggunakan cabai saat memasak sehingga rasa masakan menjadi pedas. Rasa pedas ini mampu meningkatkan suhu dan menghangatkan tubuh.

Seiring perubahan waktu, wilayah Minangkabau kian berkembang dan masyarakatnya mulai menyebar. Beberapa masyarakat merantau ke daerah di luar luhak nan tigo. Namun, mereka masih terus memegang tradisi penggunaan cabai dalam masakan meskipun sudah tidak bermukim di daerah dataran tinggi.

Bagaimana? Sudah tau kan awal mula sejarah penggunaan santan dan cabai dalam masakan Padang. Rupanya, perpaduan dua bahan ini bisa memperkuat rasa dari makanan khas Minangkabau. Jadi, masakan Padang mana yang menjadi kesukaanmu?

Sumber: GNFI/Rifdah Khalisha


Abon Gulung Khas Manokwari yang Menggugah Selera

Abon Gulung Khas Manokwari yang Menggugah Selera

Abon gulung khas Manokwari punya berbagai varian rasa. Foto: indonesiakaya.com

Sepotong roti berbentuk bulat lonjong tersaji di atas piring putih. Roti itu berwarna kecoklatan dengan tumpukan abon yang terbungkus kulit roti. Aroma gurih terpancar dari roti itu, sepertinya nikmat dan menggugah selera. Taburan wijen di atasnya mempercantik tampilan lezat berselera.

Serpihan-serpihan daging kecil dan daun bawang berjatuhan di sekelilingnya membuat roti ini semakin menggelitik nafsu untuk memakannya.

Makanan yang begitu nampak lezat ini adalah Abon Gulung khas Manokwari, Papua Barat. Abon Gulung ini merupakan makanan yang begitu terkenal di Manokwari. Bahkan, wisatawan yang berasal dari luar Papua pun banyak yang rela datang jauh hanya untuk membeli salah satu oleh-oleh kuliner Papua ini. Namun, perlu diketahui bahwa makanan ini asli berasal dari Manokwari, begitu pun dengan variasi-variasi lain yang dikembangkan dari Abon Gulung ini.

Dinamakan Abon Gulung karena memang pada dasarnya makanan ini adalah abon dalam jumlah banyak yang dibungkus dengan roti gulung. Abon ini sangat lembut ketika digigit, namun sangat padat ketika mulai dikunyah. Begitu padatnya, hingga menyantap makanan ini satu saja sudah membuat perut kenyang.

Walau membuat kenyang, rasanya yang unik tidak akan membuat bosan untuk memakannya. Abon Gulung memang terdiri dari bahan utama abon sapi khas buatan industri rumahan, namun di dalam pengembangannya Abon Gulung ini mempunyai beberapa variasi. Misalnya, abon gulung rasa pedas, abon gulung asin, rasa coklat, abon isi sosis atau abon gulung yang diberi susu dalam penyajiannya. Berbagai variasi ini dimaksudkan agar para penikmat kuliner ini tidak bosan dengan 1 macam jenis Abon Gulung saja.

Baca Juga: Kopi Indonesia Yang Mendunia

Tidak hanya nikmat, ternyata Abon Gulung ini juga mempunyai kandungan gizi yang baik bagi tubuh. Bayangkan saja, di dalam satu potong Abon Gulung terdapat kandungan protein, karbohidrat, kalsium, bahkan fosfor dan berbagai jenis vitamin. Bahkan, berbagai kandungan ini dipercaya mampu memberikan tenaga bagi tubuh dan kekebalan terhadap banyak penyakit.

Abon merupakan roti yang berisi abon dengan toping yang bervariasi. Foto: Indonesiakaya.com

Biasanya, Abon Gulung dijual dengan berbagai macam penyajian. Umumnya, para pembeli yang membelinya sebagai buah tangan akan ditawari dengan kemasan karton berukuran kecil dan berisi 10 buah hingga yang terbesar berisi sekitar 30 buah.

Harganya pun beragam tergantung pesanan dan jenis Abon Gulungnya, yang pasti kemasan mini Abon Gulung dapat dibeli dengan harga sekitar 80 ribu rupiah. Harga ini memang termasuk mahal, namun bila kita kembali melihat bentuk dan rasa makanan ini, tampaknya harga ini sebanding dan layak untuk dibayarkan.

Menyantap Abon Gulung ini seperti tidak ada bosannya. Walaupun makanan ini dapat dengan mudah membuat perut kenyang, namun citarasanya membuat lidah seperti tidak ingin berhenti mengecapnya. Tidak heran bila makanan ini menjadi oleh-oleh favorit dari Manokwari, kombinasi rasa nikmat dan porsi yang mengenyangkan sangat cukup untuk menjadi alasannya.

Sumber: indonesiakaya.com


Gempol Pleret: Minuman Segar Khas Jepara

Gempol Pleret: Minuman Segar Khas Jepara

Gempol pleret sangat nikmat disantap saat dalam keadaan dingin. Foto: indonesiakaya.com

Namanya gempol pleret. Minuman tradisional ini banyak kita jumpai di kawasan Kota Jepara, Jawa Tengah. Biasanya minuman yang satu ini disajikan dalam keadaan dingin. Warna merah muda pada pleret di sajian minuman ini begitu menggoda siapa saja untuk mencoba kesegarannya. Jangan lewatkan untuk mencoba minuman ini ketika Anda berada di kota berjuluk Kota Kartini ini.

Gempol pleret terbuat dari bahan utama beras yang digiling halus. Setelah menjadi tepung beras, kemudian diaduk dengan sedikit air sehingga menjadi adonan. Setelah menjadi adonan, kemudian untuk gempol dibentuk menjadi bulat sementara pleret dibentuk pipih dan berwarna merah muda.

Dua bentuk adonan yang berbeda inilah kemudian menjadi sebuah minuman yang diberi nama gempol pleret. Sajian gempol pleret ini bertambah nikmat dengan campuran bahan seperti sirup, santan dan diberi es.

Biasanya gempol pleret disajikan dalam keadaan dingin. Foto: indonesiakaya.com

Gempol pleret disajikan dalam wadah mangkok. Satu mangkuk gempol pleret begitu segar untuk dinikmati. Lembutnya tekstur gempol dan kenyalnya tekstur pleret berpadu dengan manisnya sirup dan kuah santan dan es menjadikan jaminan kesegaran bagi siapa saja yang menikmatinya.

 Baca Juga: Kopi Indonesia Yang Mendunia

Satu mangkuk gempol pleret biasanya dijual dengan harga Rp5.000. Untuk menikmati kuliner ini, Anda dapat menuju Shopping Center Jepara (SCJ) yang posisinya berada dekat Alun-Alun Kota Jepara, Jawa Tengah. Jika Anda sedang berada di Jepara, Jangan lewatkan untuk mencoba minuman khas Jepara yang satu ini.


Kopi Indonesia Yang Mendunia

Kopi Indonesia Yang Mendunia


Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi terbaik. Foto: swivvelcoffee.com

Siapa di antara kalian yang suka sekali dengan kopi? Apakah kalian tahu kalau Indonesia memiliki beragam kopi yang rasanya tidak kalah dengan kopi mancanegara?

Sebagai negara penghasil kopi yang berbagai varietasnya terkenal di dunia, Indonesia memiliki beragam jenis kopi di berbagai daerah. Berikut ini sederet kopi khas Indonesia yang mendunia. Yuk, cari tahu!

Kopi Luwak

Kopi luwak salah satu jenis olahan kopi yang sangat populer. Foto: GNFI

Kopi luwak merupakan seduhan kopi yang dibuat menggunakan biji kopi dari sisa kotoran luwak atau musang kelapa. Tak dipungkiri bahwa biji kopi ini memiliki rasa yang khas. Kopi ini dihargai cukup mahal, bahkan termasuk kopi termahal di dunia.

Bukan tanpa alasan, harga mahal tersebut akan terbayar dengan rasanya yang khas dan sangat lembut. Faktor yang mempengaruhi harga kopi luwak adalah proses fermentasi yang unik dan tidak mudah dilakukan.

Kopi Jawa

Sejenis dengan kopi Arabika, Java Coffee atau Kopi Jawa merupakan kopi khas Indonesia yang juga terkenal di dunia. Kopi Jawa mulai diproduksi ketika pemerintah kolonial Belanda berada di Indonesia abad ke-17. Sampai saat ini, kopi Jawa masih menjadi salah satu produsen kopi yang terbesar di dunia.

Baca Juga: Sambal: Salah Satu Kekayaan Kuliner Indonesia

Kopi Toraja

Kopi ini berasal dari daerah Toraja-Kalosi karena rasa khasnya seperti rasa tanah dan hutan. Proses pembuatan kopi ini cukup unik, yaitu setelah biji kopi dipetik, langsung diproses sehingga rasanya tak banyak berubah. Kopi Toraja ini juga sangat digemari masyarakat Jepang dan Amerika Serikat.

Kopi Gayo

Kopi yang berkembang sejak tahun 1908 ini berasal dari dataran tinggi Gayo di Aceh. Kopi Gayo cukup terkenal di dunia karena memiliki aroma dan kenikmatan yang khas. Dalam beberapa penghargaan, kopi Gayo berhasil menyabet prestasi sebagai kopi terbaik di dunia.

Kopi Wamena

Kopi Wamena termasuk kopi organik yang memiliki kualitas terbaik karena dataran Papua masih sangat subur sehingga menghasilkan kopi yang sangat baik.

Kopi Wamena memiliki aroma kopi yang harum, tekstur halus, dan rasa cukup manis. Beberapa menikmat kopi kerap menyandingkan kopi ini dengan kopi Jamaica Blue Mountain, yang merupakan kopi Arabika premium asal Jamaica.

Kopi Kintamani

Kopi yang berasal dari Kintamani, Bali ini merupakan kopi organik yang menggunakan sistem pengairan tradisional. Kopi ini memiliki tekstur yang halus dan menciptakan rasa yang lembut di lidah.

Itulah 6 jenis kopi khas Indonesia. Setiap kopi tentunya memiliki ciri khas rasa dan proses pembuatan yang berbeda-beda. Yuk, konsumsi kopi-kopi di atas! Dengan begitu, kalian juga mendukung perkembangan petani kopi di Indonesia.

Sumber: GNFI


Laksa: Spaghetti Melayu Khas Indonesia

Laksa: Spaghetti Melayu Khas Indonesia

Mie Laksa dibuat dari tepung beras sehingga memiliki tekstur yang sangat kenyal. Foto: Indonesiakaya.com

Pengaruh kebudayaan Tionghoa terhadap masyarakat Tangerang tidak hanya terlihat dari kepercayaan, budaya, atau bangunan. Makanan masyarakat setempat pun mendapat pengaruh dari kebudayaan Tionghoa. Laksa contohnya.

Sekilas, bentuk mie yang terdapat dalam laksa terlihat seperti spaghetti – makanan khas dari Italia. Bentuknya lebih besar dan bulat dibanding mie pada umumnya. Hanya saja, mie yang disajikan dalam laksa berwarna putih.

Mie putih tersebut kemudian disiram dengan kuah yang terbuat dari ramuan berbagai rempah seperti kunyit, salam, serai, jahe, cabai, bawang, serta santan. Hasilnya, sebuah makanan yang kaya akan rasa dan dengan tekstur yang kenyal.

Jika berkunjung ke Tangerang, laksa bisa dengan mudah ditemukan di ujung Jalan TMP Taruna. Di sini, terdapat Kawasan Kuliner Laksa Tangerang.

Pedagang laksa yang berjejer. Foto: Indonesiakaya.com

Ada delapan penjual laksa yang berdagang di pusat kuliner ini. Sebelumnya, para pedagang ini berjualan di dekat penjara yang juga terletak di Jalan TMP Taruna.

Pada tahun 2010, Pemerintah Kota Tangerang membangun pusat kuliner ini agar para pedagang laksa mendapat tempat yang layak dan lebih tertata. Para pedagang di sini mulai berdagang dari jam 10.00 hingga 22.00 WIB.

Baca Juga: Sate Padang, Bagaimana Bisa Tersebar diseluruh Kota Indonesia?

Para pedagang laksa di sini membuat sendiri mie untuk laksa. Mie tersebut dibuat dari tepung beras yang juga mereka olah sendiri.

Hidangan pendamping laksa. Foto: Indonesiakaya.com

Sebagai pilihan menu pendamping menikmati laksa, para pedagang akan menawarkan daging atau telur ayam. Laksa dengan daging ayam dijual Rp15.000 per porsi sementara laksa dengan telur ayam dijual Rp8.000 per porsi.

Selain itu, pengunjung juga bisa menambahkan lontong (Rp500 per potong) atau otak-otak (Rp20.000 per porsi) sebagai menu pendamping menikmati laksa.


Sambal: Salah Satu Kekayaan Kuliner Indonesia

Sambal: Salah Satu Kekayaan Kuliner Indonesia

Sambal jadi salah satu kekayaan kuliner Indonesia. Foto: klikdokter.com

Berbicara mengenai makanan Indonesia tak lengkap rasanya jika tidak menyebutkan sambal. Sambal menjadi teman makan yang tidak bisa dipisahkan dari lidah kebanyakan orang Indonesia. Tak heran, orang-orang kita pun dikenal kebal dengan makanan pedas oleh orang luar negeri.

Dengan hadirnya sambal sebagai pendamping makanan, cita rasa makanan pun akan bertambah dan membuat orang ketagihan akan sensasi pedasnya. Jenis sambal saat ini pun banyak ragamnya dari tiap daerah yang memiliki cita rasa yang khas.

Dikutip dari laman National Geographic Indonesia, ada sebanyak 212 jenis sambal di Indonesia. Jumlah tersebut merupakan hasil dari penelitian Prof. Murdijati Gardjito dkk yang berhasil menemukan jenis sambal beserta asal-usulnya. Menurut hasil penelitian Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada tersebut, sebanyak 43 persen sambal berasal dari Jawa, 20 persen di Sumatra dan sisanya dari Nusa Tenggara. Bali, Maluku, Kalimantan dan Sulawesi.

Sambal sudah menjadi bagian dari budaya kuliner Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun. Kalian pasti bertanya-tanya sejak kapan sih kira-kira masyarakat Indonesia mengenal sambal?

Baca Juga: Sate Padang, Tersebar Bersama Tradisi Merantau Orang Minangkabau

Sebelum berbicara mengenai asal usul sambal, sebaiknya kita menelisik kahadiran bahan baku sambal yakni cabai. Cabai merupakan salah satu tanaman yang penting di Indonesia karena cabai pun bisa mempengaruhi tingkat inflasi. Tanaman pedas ini diperkirakan sudah ada ribuan tahun lalu yang berasal dari Benua Amerika, kemungkinan besar berasal dari Peru atau Meksiko.

Sejarah Cabai di Indonesia

Suku Indian di Amerika diperkirakan sudah menggunakan cabai pada tahun 7000 SM. Pada saat menemukan Benua Amerika, Christopher Columbus heran ketika melihat para penduduk asli Amerika sudah membudayakan tanaman cabai. Cabai temuan Colombus ini berasal dari Amerika Selatan yang diduga disebarkan oleh suku Indian.

Tanaman cabai rawit. Foto: liputan6.com

Columbus kemudian menyebarkan tanaman cabai tersebut di Benua Eropa sekitar tahun 1502. Spanyol merupakan negara pertama yang menggunakan cabai sebagai bumbu masak. Setelah tanaman cabai tersebar di Eropa, Spanyol dan Portugis pun menyebarkan tanaman ini di wilayah Asia termasuk Indonesia. Tidak ada yang tau pasti tepatnya kapan cabai mulai ada di Indonesia.

Namun diperkirakan cabai masuk ke Indonesia sekitar abad ke-15 hingga 16 saat Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku. Cabai juga menjadi komoditas yang ditanam saat sistem tanam paksa diberlakukan. Menanam tanaman cabai di beberapa wilayah di Indonesia ini pun diwajibkan, karena cabai merupakan salah satu hasil perkebunan yang digemari oleh masyarakat Eropa.

Bukti nya adalah pada tahun 1918 terdapat ribuan kilogram cabai yang dikirim dari pelabuhan di Jakarta, Cirebon, Semarang, dan Surabaya menuju Sumatra dan Kalimantan. Setelah itu pada abad 19 dan 20 banyak masyarakat yang telah terbiasa mengolah cabai sebagai bumbu masakan dan obat, terutama di masyarakat Jawa.

Meskipun begitu ada juga yang mengatakan bahwa cabai sudah ada di Indonesia jauh sebelum kedatangan Portugis ke Nusantara. Seorang arkeolog bernama Titi Surti Nastiti mengungkapkan dalam bukunya "Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VII-XIV" bahwa teks Ramayana telah menyebutkan cabai sebagai salah satu jenis makanan pangan di abad ke-10.

Beragam cerita asal mula sambal di Indonesia

Sambal dari berbagai daerah di Indonesia. Foto: GNFI 

Ada dua versi cerita yang berbeda tentang kapan dan bagaimana akhirnya sambal ada di Indonesia. Sambal sudah disebutkan dalam Serat Centhini yang dibuat pada tahun 1814 yang merupakan manuskrip berisi pengetahuan kebudayaan, makanan hingga minuman tradisional Jawa. Ada 46 jenis sambal yang disebutkan dalam manuskrip tersebut seperti sambal kluwak, sambal gocek, sambal trancam dan beberapa lainnya.

Baca Juga: Jamu: Minuman dengan Racikan Kaya Manfaat

Namun ada pula cerita versi lain mengenai asal mula sambal di Indonesia. Konon, pada masa penjajahan Portugis cabai masih belum diolah dan dikonsumsi sebagai sambal. Pada masa penjajahan Belanda baru lah sambal diciptakan oleh salah satu seorang pelayan VOC yang tidak diketahui namanya. Pada masa VOC, para pelayan berlomba-lomba menyajikan kuliner yang bisa menggugah selera untuk merebut hati majikan.

Dengan niat tersebut seorang pelayan kemudian menghancurkan cabai yang kemudian ditambah garam sebagai rasa tambahan. Pelayan tersebut lalu menyajikan cabai yang telah dihancurkan nya dan secara mengejutkan makanan tersebut ternyata disukai karena bisa membuat mata sang majikan terbelalak akibat rasa pedas. Efek pedas tersebut juga membuat ketagihan dan nafsu makan semakin bertambah.

Setelah kejadian tersebut sambal perlahan menjadi populer dan menjadi kuliner mahal yang di konsumsi oleh pemerintah VOC. Orang Eropa yang kala itu mengunjungi Indonesia pun antusias mencicipi sambal. Pada zaman VOC, pembantu pribumi yang bisa membuat sambal enak memiliki nilai yang lebih tinggi.

Salah satu ahli kuliner di masa kolonial, Catenius van der Meijden turut membuat sambal populer. Wanita Belanda yang dibantu pelayannya itu sangat ahli dalam membuat sambal. Catenius mengusai banyak jenis sambal dan membuat buku resep masakan dari semua resep masakannnya.

Resep sambal yang terkenal dari kreasi Catenius adalah sambel oeloek (ulek) dan sambal telur. Tak hanya menulis resep masakan, pada abad ke-20 Catenius ven der Meijden juga menulis buku-buku panduan rumah tangga yang ditujukan untuk para wanita Belanda yang tinggal di kawasan Hindia Belanda.

Sumber: GNFI


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia