Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Flora & Fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flora & Fauna. Tampilkan semua postingan
Cinenen Pisang, Burung Mungil nan Gesit

Cinenen Pisang, Burung Mungil nan Gesit

Burung ini mudah diamati, sebab keberadaanya masih banyak dijumpai di halaman rumah yang ada pepohonan atau tanamannya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Selain bentuk fisiknya yang mungil, burung cinenen pisang (Orthotomus sutortus) juga tergolong burung yang cantik. Ukuran tubuhnya sekitar 10 sampai 11 cm. Karena seringnya berkicau sehingga keberadaan burung cinenen pisang ini mudah untuk ditebak.

Pada umumnya, burung cinenen pisang betina itu bisa mengerami telur sebanyak antara 2 sampai dengan 3 butir telur sekaligus dalam sekali melakukan perkawinan. Karena populasinya masih banyak dan sering dijumpai, sehingga keberadaan burung cinenen pisang kurang menarik perhatian para peneliti.

Ukuran tubuhnya kecil, sekitar 10 sampai 11 cm. Geraknya lincah berpindah dari ranting tanaman satu ke ranting tanaman lain. Saking lincahnya, kaki mungilnya itu selalu pas mencengkeram ranting kecil yang bergoyang-goyang karena terpaan angin.

Hanya berselang beberapa menit ,dia pun berpindah lagi ke ranting yang lain. Sesekali bertingkah lucu dikala mencari makan di dalam sebatang bambu yang dijadikan pagar. Kepalanya masuk, sehingga hanya terlihat badannya saja. Saat tidur pun kepalanya tidak terlihat, posisinya membulat seperti bola pingpong.

Dialah burung cinenen pisang, selain bentuk fisiknya yang kecil burung yang mempunyai nama latin Orthotomus sutortus juga tergolong burung yang cantik. ciri lain dari burung ini yaitu memiliki paruh sedikit agak panjang dan meruncing, sehingga sangat cekatan dalam memangsa pakan.

Burung ini mudah diamati, sebab keberadaanya masih banyak dijumpai di halaman rumah yang ada pepohonan atau tanamannya. Karena seringnya berkicau sehingga membuat burung cinenen pisang mudah untuk ditebak keberadaanya.

Secara keseluruhan burung cinenen pisang mempunyai warna tubuh terdiri dari warna kuning, putih dan hijau zaitun. Untuk tubuh bagian punggung dan kedua sayapnya sebagian besar mempunyai warna hijau zaitun. Sementara pada bagian bawah tubuhnya dimulai dari dagu, perut, dada hingga bagian pangkal ekornya berwarna putih dengan sisi tubuh abu-abu. Warna kuning juga terlihat menutupi bagian alis dekat matanya.

Kemudian di atas kepalanya seolah ada mahkota yang tampak berwarna merah karat, kekang dan sisi kepala keputihan dengan alis kekuningan. Tengkuk keabu-abuan.

Baca juga: Kedih, Primata Endemik Sumatera dan Habitatnya yang Terancam

Habitat burung cenenen pisang terbilang banyak. Diantaranya seperti di pekarangan rumah milik warga, area terbuka perbukitan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Musim Berbiak

Burung cinenen pisang merupakan sejenis burung pengicau dari suku Sylviidae. Dalam bahasa Inggris burung ini disebut Common Tailorbird, itu karena kebiasaanya menjahit dedaunan sebagai sarangnya. Adapun dalam bahasa Jawa burung ini dikenal juga dengan sebutan burung prenjak, dalam bahasa Betawi disebut dengan burung cici.

Untuk berbiaknya burung cinenen pisang ini hampir terjadi sepanjang tahun, dimulai dari bulan September hingga bulan Januari. Selain itu juga akan berkembang biak pada bulan April. Sementara sarangnya tersusun dari kepompong, beberapa lembar daun kering dan jaring laba-laba, dan seringnya berada di permukaan tanah.

Pada umumnya, burung cinenen pisang betina itu bisa mengerami telur sebanyak antara 2 sampai dengan 3 butir telur sekaligus dalam sekali melakukan perkawinan. Telurnya berwarna putih kehijauan dengan bercak merah jambu.

Burung cinenen pisang jantan dan betina serupa, kecuali di musim berbiak, dimana bulu tengah ekor si jantan tumbuh memanjang. Secara kasat mata untuk burung cinenen pisang jantan mempunyai bulu hitam dipinggir leher atau kerongkongannya, sedangkan betina tidak punya. Perbedaan lainnya yaitu panjang pendeknya ekor.

Secara keseluruhan burung cinenen pisang mempunyai warna tubuh terdiri dari warna kuning, putih dan hijau zaitun. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 Baca juga: Anjing Menyanyi Khas Pegunungan Papua

Dari kicauannya burung cinenen pisang bisa dikatakan lebih bervariasi atau bersuara nyaring dengan aneka lagu, suaranya terdengar melengking dan juga kadang monoton yang dibunyikan menggunakan suara keras secara berulang-ulang.

Tempat hidup atau habitat burung cenenen pisang terbilang banyak. Diantaranya seperti di pekarangan rumah milik warga, area terbuka perbukitan, sawah, semak belukar dan juga berhabitat di hutan produksi ataupun sekunder. Di Indonesia burung ini terdapat di Pulau Jawa. Sementara di Asia persebarannya tergolong luas, selain di Indonesia juga tersebar di Sri Lanka, Malaysia, Bhutan, Pakistan, India, Myanmar, Bangladesh, Thailand dan Kamboja.

Adapun untuk jenis pakan yang sering dimakan yaitu berasal dari berbagai macam serangga berukuran kecil, diantaranya seperti ulat, tempayak, jangkrik, telur semut atau kroto, dan juga kumbang.

Ukuran tubuh burung dengan nama latin Orthotomus sutortus ini kecil, sekitar 10 sampai 11 cm. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Kurangnya Penelitian

Afinna Aninnas, pengamat burung yang tergabung dalam Kelompok Studi Biologi dan Kelompok Pengamat Burung Zoothera Andromedae Universitas Brawijaya (UB) Malang punya kesan lain tentang burung cinenen pisang. Bagi dia burung ini terlihat gagah ketika berkicau di alam bebas. Sehingga beberapa peneliti merasa takjub melihat dan juga mendengarkan suaranya.

Selain itu, bagi pria kelahiran 1998 ini kesan lain dari burung cenenen pisang yaitu teknik membangun sarangnya, manusia bisa terinspirasi dalam membuat teknik-teknik kontruksi bangunan. “Perilakunnya yang berbeda-beda setiap jenisnya juga menjadikan burung lebih menarik, membuat saya jadi takjub untuk mempelajari lebih lanjut,” ujar Afin, panggilan akrabnya. Karena populasinya masih banyak dan sering dijumpai, sehingga keberadaanya kurang menarik perhatian para peneliti.

Untuk itu, dia berharap agar burung ini lebih banyak diteliti. Apalagi ketika perilaku birding dan juga prilaku respon terhadap berbagai macam intervensi di dalam habitat yang berbeda, dan juga respon burung cenenen pisang ketika membuat sarang.

Karena burung cinenen ini masih banyak diminati para kicau mania sehingga keberadaan burung ini juga rentan di alam liar. Meskipun status konservasinya belum dilindungi. Namun tidak menutup kemungkinan jika perburuan terjadi secara masif dan terjadi sangat cepat, itu memungkinkan terjadi penurunan populasi. Apalagi saat ini juga banyak anak-anak kecil di desa yang mengisi waktu luangnya digunakan untuk berburu, salah satu perburuannya termasuk burung cenenen pisang.

“Karena sering terlihat, bagi penghobi burung ini juga kerap kali menjadi sasaran tembak,” pungkas pria yang pernah pengamatan burung cinenen pisang di Tuban dan Malang ini.

Dalam bahasa Inggris burung ini disebut Common Tailorbird, itu karena kebiasaanya menjahit dedaunan sebagai sarangnya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Dilansir: Mongabay.co.id


Fakta Bunga Daisy yang Banyak Tersebar di Puncak Gunung Prau

Fakta Bunga Daisy yang Banyak Tersebar di Puncak Gunung Prau

Bunga Daisy termasuk salah satu keunikan Puncak Prau. Foto: Irkhas Febri 

Soal panorama destinasi pariwisata alam, Dieng punya keindahan yang seolah tak habis. Mulai dari danau, bukit, goa, hingga gunung. Kekayaan alam ini membuat Dieng memiliki banyak sekali hal unik di setiap destinasinya yang selalu menarik untuk diulik. Salah satunya adalah keindahan bunga Daisy di Puncak Gunung Prau.

Bunga Daisy banyak tersebar di bukit teletubbies puncak Gunung Prau yang berada di ketinggian 2565 Mdpl.  Tidak banyak yang tahu, berikut beberapa fakta menarik bunga Daisy di Gunung Prau yang perlu kamu ketahui:

Fakta Bunga Daisy

Sengaja Ditanam

Dilansir dari Inews, bunga Daisy yang tersebar di Gunung Prau ternyata sengaja ditanam oleh penduduk lokal. Hal ini bertujuan agar kawasan puncak Prau semakin hijau dan indah. Dan benar saja, bunga Daisy menambah keindahan panorama Gunung Prau menjadi semakin menakjubkan.

Meskipun berukuran kecil, Bunga Daisy mempercantik bukit teletubbies serta bisa menjadi foreground foto yang menarik.

Mekar pada Musim Penghujan

Bunga Daisy akan mekar sempurna pada musim penghujan. Pada musim tersebut, bunga Daisy akan mekar dengan warna kelopak putih dan pink. Hal ini membuat Prau menjadi sangat indah dikunjungi ketika musim penghujan.

Namun, saat mendaki di musim penghujan, pastikan kamu membawa perlengkapan yang standar agar mendaki tetap nyaman.

Arti Bunga Daisy

Secara umum, bunga ini memiliki banyak sekali makna atau arti mulai dari polos, jujur, bahkan kemurnian. Hal ini membuat banyak orang berasumsi bahwa bunga daisy adalah bunga yang sangat cocok untuk mengungkapkan perasaan 

Penampakannya yang putih juga dikaitkan dengan simbol ketulusan dalam sebuah hubungan. selain itu, bunga yang biasa disebut dengan aster ini juga dikaitkan dengan kesederhanaan. bentuk dan warnanya seakan-akan menggambarkan keindahan dengan kesederhanaan. 

Namun, arti bunga daisy bisa berbeda-beda tergantung bagaimana persepsi orang yang memaknainya.

Meski memiliki penampilan yang sangat sederhana, namun bunga ini memiliki ciri khas yaitu bunga ini selalu mekar saat matahari terbit dan kuncup kembali saat matahari terbenam. Tampilan warnanya yang mudah dipadukan dengan warna dari bunga lainnya membuat bunga ini juga sering dibuat sebagai sebuah rangkaian bunga.


Anjing Menyanyi Khas Pegunungan Papua

Anjing Menyanyi Khas Pegunungan Papua

Anjing menyanyi khas pegunungan Papua. Foto: Dok. Anang Dianto

Anjing bernyanyi yang ditemukan di wilayah pegunungan Papua belum lama ini menjadi pusat perhatian. Anjing ini bernama latin Canis familiaris hallstromi dan lebih dikenal dengan sebutan New Guinea singing dogs [NGSD] atau anjing bernyanyi New Guinea.

Jenis ini juga disebut sebagai anjing liar dataran tinggi [Highland Wild Dog] yang dapat dikenali dari ciri khas suaranya yang tidak melolong, namun seperti bernyanyi. Para peneliti mengungkap, anjing bernyanyi New Guinea pertama kali dideskripsikan mengikuti koleksi spesimen di ketinggian sekitar 2.100 mdpl di Central Province Papua New Guinea pada 1897.

Anjing bernyanyi yang ditemukan di wilayah pegunungan Papua belum lama ini menjadi pusat perhatian. Banyak yang menganggap bahwa anjing liar ini sudah hilang. Bahkan, para ahli biologi dan konservasi pernah memperkirakan anjing bernyanyi ini mendekati kepunahan di alam liar karena hilangnya habitat.

Lantas seperti apakah wujudnya?

Anjing ini bernama latin Canis familiaris hallstromi dan lebih dikenal dengan sebutan New Guinea singing dogs [NGSD] atau anjing bernyanyi New Guinea. Jenis ini juga disebut sebagai anjing liar dataran tinggi [Highland Wild Dog] yang dapat dikenali dari ciri khas suaranya yang tidak melolong, namun seperti bernyanyi.

Tahun 2016, sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh lembaga bernama New Guinea Highland Wild Dog Foundation [NGHWDF], bekerja sama dengan Universitas Papua melaporkan adanya temuan 15 anjing liar dataran tinggi di sisi barat Pulau New Guinea. Lokasinya dekat tambang terbuka Grasberg.

Lalu pada 2018, lembaga yang sama yaitu NGHWDF melakukan penelitian, kolaborasi dengan Universitas Cendrawasih Papua. Lokasi riset di Puncak Jaya, Distrik Tembagapura di Kabupaten Mimika. Para peneliti membuat kandang perangkap selama dua minggu dan terdapat 18 anjing bernyanyi yang berhasil diamati.

Baca Juga: Bunglon Jambul Hijau: Si Reptil yang Mampu Berubah Warna

Dari jumlah tersebut, 10 di antaranya merupakan anjing bernyanyi yang baru diteliti, dan 8 merupakan anjing bernyanyi yang sudah teramati pada tahun 2016. Penelitian itu telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.

“Meskipun secara genetik mirip dingo [anjing liar Australia], akan tetapi anjing bernyanyi New Guinea mewakili populasi berbeda, sebagaimana dibuktikan oleh morfologi dan perilaku,” tulis para peneliti.

Wujud anjing bernyanyi yang ditemukan di wilayah pegunungan Papua. Foto: Dok. Anang Dianto

Dalam jurnal itu disebutkan, populasinya yang sangat kecil dan tidak lebih dari 200 hingga 300, maka sebagian yang ditangkap ini, dikembangbiakkan untuk tujuan konservasi.

Sehingga, populasi anjing bernyanyi di alam liar tidak hanya mewakili unit evolusi penting untuk konservasi dan pengelolaan, tetapi juga merupakan tautan penting untuk memahami domestikasi anjing.

Para peneliti mengungkap, anjing bernyanyi New Guinea pertama kali dideskripsikan mengikuti koleksi spesimen di ketinggian sekitar 2.100 mdpl di Central Province Papua New Guinea pada 1897.

Baca Juga: 5 Binatang Purba yang Masih Hidup di Indonesia

Awalnya, diklasifikasikan sebagai spesies yang berbeda dari Canis hallstromi, namun taksonomi mereka tetap kontroversial karena ketersediaan spesimen hanya di penangkaran untuk analisis genetik.

Bagi Suku Moni yang tinggal di sekitar pegunungan Carstensz, Intan Jaya, anjing bernyanyi ini memiliki hubungan erat dengan cerita nenek moyang mereka. Foto: Dok. Anang Dianto

Anjing sakral

Sementara itu, menurut Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua dan juga dosen di Universitas Cendrawasih, masyarakat yang hidup di sekitar Danau Habema, danau tertinggi di Indonesia yang juga merupakan bagian dari Taman Nasional Lorentz, menganggap bahwa anjing ini sangat sakral. Alasannya, anjing tersebut yang mula-mula menjaga nenek moyang mereka.

“Jadi, mereka tidak akan membunuh dan mengonsumsi anjing tersebut. Bahkan mereka juga tidak memelihara. Mereka hanya memelihara anjing kampung biasa,” ungkap Hari, Sabtu [20/2/2021].

Sementara, bagi Suku Moni yang tinggal di sekitar pegunungan Carstensz, Intan Jaya, anjing bernyanyi ini memiliki hubungan erat dengan cerita nenek moyang mereka.

“Yang unik, masyarakat Suku Moni di Intan Jaya juga menyebut anjing bernyanyi ini dingo. Mirip dengan anjing dingo di Australia. Kalau secara linguistik, sepintas mirip karena pada zaman dulu pasti ada hubungan,” ujarnya lagi.

Dari perspektif arkeolog, dengan melihat kesamaan nama dingo untuk menyebut anjing bernyanyi, maka diperkirakan dulu ada hubungan antara Papua dan Australia. Kondisi ini terjadi saat permukaan air laut rendah.

Hal ini juga terlihat pada beberapa tebing di Raja Ampat dan Fak Fak yang terdapat lukisan prasejarah dengan motif bumerang, senjata yang identik dengan Suku Aborigin di Australia.

“Usia lukisan bumerang itu diperkirakan sekitar 10 ribu tahun lalu. Hubungan antara orang Papua dan Aborigin lebih dulu ada, kemudian anjing bernyanyi datang belakangan ke Papua diperkirakan 3.500 tahun silam.”

Berdasarkan penelitian di situs-situs arkeologi, Hari mengatakan, anjing bernyanyi ini dibawa oleh penutur Austronesia sekitar 3.500 tahun lalu, dari Asia Timur atau dari China selatan. Mereka membawa tiga binatang yang didomestikasi, yaitu anjing, babi, dan ayam. Imigran yang datang ke Papua di jaman prasejarah tiba di wilayah pesisir sebelum naik ke dataran tinggi Papua.

“Bagi Suku Moni sendiri, nyanyian dingo bisa diartikan ada tanda bahaya datang atau memanggil cuaca. Sebab, anjing ini dipercaya dapat memanggil hujan atau angin,” tutup Hari.

Sumber: Mongabay


Kedih: Primata Endemik Sumatera dan Habitatnya yang Terancam

Kedih: Primata Endemik Sumatera dan Habitatnya yang Terancam

Kedih dengan cirikhas jambul di kepala. Foto: merahputih.com

Kedih [Presbytis thomasi] adalah primata endemik Sumatera dengan jambul hitam dan abu-abu di kepala yang sulit dilihat.

Sejauh ini, kedih hanya ditemukan di hutan bagian utara Danau Toba [Sumatera Utara], Riau, dan Aceh. Kedih mengandalkan suaranya yang khas dan keras. Tujuannya, memanggil keluarganya untuk berkumpul.

Habitat kedih mulai terancam akibat kebakaran hutan dan alih fungsi lahan ditambah ancaman perburuan. Kedih merupakan jenis satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Jika Anda berjalan di hutan Sumatera, dan beruntung melihat primata dengan jambul hitam dan abu-abu di kepala, itulah kedih [Presbytis thomasi]. Matanya sedikit sayu dan berparas sedih.

Kedih adalah spesies primata yang tergabung dalam famili Cercopitecidae, dari marga Presbytis. Hewan ini endemik Sumatera yang sulit dilihat. Sejauh ini, ia ditemukan di bagian utara Danau Toba [Sumatera Utara], Riau, dan Aceh.

Jenis ini hanya menempati hutan primer dataran rendah, hutan sekunder, dan sesekali mengunjungi perkebunan karet.

Baca Juga: Primata Endemik Sulawesi yang Kini Berstatus Krisis

Sebagai penanda, kedih mengandalkan suaranya yang khas dan keras. Tujuannya, memanggil keluarganya berkumpul. Wilayah jelajah kedih digunakan sebagai tempat mencari makan, berkembang biak, bersembunyi dari predator, serta bersarang.

Dalam satu kelompok, biasanya ada satu pejantan dengan betina dan sejumlah anaknya. Kedih jantan selalu melindungi kelompoknya dari ancaman hewan lain, atau intervensi kedih jantan pesaing.

Makanan utama kedih adalah buah-buahan, daun, serangga kecil, dan bunga cabang. Bagi upaya pelestarian hutan, kedih sangat berperan penting, karena biji yang ia makan dan dikeluarkan dalam bentuk kotoran, akan tumbuh kembali sebagai bentuk upaya meregenerasi pepohonan.

Kedih memiliki ekor lebih panjang dari badannya. Jika panjang badannya sekitar 420-610 milimeter, maka ekornya sekitar 500-850 milimeter. Beratnya antara 5 hingga 8,1 kilogram.

Berkembang biak di hutan larangan

Inilah kedih, primata khas Sumatera yang jarang terlihat. Foto: Mongabay

Berdasarkan penelitian Ade Mukhtar, Defri Yoza, dan Tuti Arlita dari Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Riau, berjudul Pola Perilaku Thomas Langur [Presbytis thomasi, collect 1892] di Sekitar Hutan Larangan Adat Rumbio [2016], diketahui kedih di wilayah ini sekitar 15 kelompok. Dalam satu kelompok terdiri 12-15 individu.

Di hutan larangan seluas 530 hektar itu, kedih melakukan kegiatan di tiga tempat, yaitu di hutan, perkebunan karet, dan permukiman warga. Namun, paling dominan di hutan dan perkebunan karet.

“Ruang hidup habitat kedih ini, daerah jelajahnya sering tumpang tindih,” tulis Ade Mukhtar, dkk.

Banyaknya populasi kedih di hutan larangan karena hutannya masih alami dengan tingkat ketersediaan tumbuhan penghasil makanan cukup baik.

Pada musim panen, kedih sering keluar hutan dan mendatangi kebun warga untuk memetik dan memakan buah-buahan. “Aktivitasnya di pagi hingga sore hari.”

Habitat terganggu

Dalam Jurnal Natural yang ditulis Syaukani, dari Jurusan Biologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, berjudul Study of Population and Home Range of Thomas Langur [Presbytis thomasi] at Soraya Research Station, Leuser Ekosistem [2012], ditegaskan bahwa terdapat enam kelompok kedih di wilayah tersebut. Setiap kelompok memiliki anggota sekitar 5-12 individu. Namun, beberapa di antaranya memiliki wilayah jelajah yang tumpang tindih.

“Luas daerah jelajah kedih di Soraya adalah antara 8,48-25,06 hektar. Lebih sempit dari kedih yang hidup di Ketambe [30 hektar] dan hampir sama dengan wilayah jelajah kedih di Bohorok [12,3-15,7 hektar],” tulis Syaukani.

Kondisi Hutan Soraya yang didominasi hutan sekunder, ketersediaan pangan yang terbatas, ditambah tingkat kejarangan pohon diduga menjadi faktor yang membuat jelajah kedih menjadi pendek.

Sedikitnya kedih di Hutan Soraya dan jelajahnya yang dekat tersebut diduga akibat pengrusakan habitat, mulai dari penebangan kayu, pembakaran hutan, hingga perburuan.

Sementara, dalam Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam yang ditulis Ruskhanidar, Hadi S. Alikodra, dkk., berjudul Analisis Populasi Kedih [Presbytis thomasi] di Cagar Alam Pinus Jantho, Aceh Besar, Provinsi Aceh [2020] diterangkan bahwa jumlah kedih di wilayah ini hanya sekitar 7 kelompok.

Setiap kelompok teridiri 4-5 individu. Rinciannya, 2 kelompok di blok rehabilitasi dan 5 kelompok lain di blok perlindungan.

“Dari 184 hektar luas sampel pengamatan, kedih hanya ditemukan pada area 0,67 hektar di tujuh jalur berbeda dari total 23 jalur pengamatan,” tulis Ruskhanidar, dkk.

Kedih ditemukan pada jalur pengamatan di sekitar sumber air, dengan ketinggian di bawah 380 meter. Sedangkan di jalur yang jauh dari air dan di atas 500 meter di atas permukaan laut, primata ini tidak terlihat.

Kedih di cagar alam tersebut memanfaatkan hutan sekunder pada blok rehabilitasi sebagai tempat mencari makan dan sebagai jalur lintasan untuk bergerak menuju blok perlindungan.

Ruskhanidar menegaskan, permasalahan kedih di Cagar Alam Pinus Jantho adalah akibat gangguan kebakaran hutan dan kehadiran pemburu satwa liar.

“Konservasi dapat dilakukan dengan mengintensifkan pengawasan kebakaran hutan serta meningkatkan sarana pendukung kerja terhadap pemburu satwa liar.”

Lembaga Konservasi Dunia [IUCN] memasukkan kendih dalam status Rentan [Vulnerable/VU]. Di Indonesia, kedih merupakan jenis satwa yang kehidupannya dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Sumber: Mongabay


Banggai Cardinal Fish, Salah Satu Ikan Endemik Sulawesi Tengah

Banggai Cardinal Fish, Salah Satu Ikan Endemik Sulawesi Tengah



Banggai Cardinal Fish termasuk salah satu ikan endemik Sulawesi Tengah. Foto: bulelengkab.go.id 

Banggai Cardinal Fish adalah jenis ikan hias yang banyak diminati para penyuka akuarium laut. Bentuk tubuhnya kecil, unik, dan eksotik. Sesuai namanya, ikan ini endemik yang berasal dari perairan laut Banggai, Sulawesi Tengah.

Pada tahun 2000-2001 diperkirakan volume perdagangan Banggai Cardinal Fish mencapai 700.000–1,4 juta ekor per tahun. Angka yang cukup tinggi ini dinilai tidak berkelanjutan serta terindikasi berdampak pada jumlah populasi.

IUCN memasukkan capungan banggai dalam daftar merah dengan kategori Genting [Endangered]. Di dalam negeri, untuk menjaga keberadaan ikan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan secara resmi menetapkan statusnya sebagai dilindungi terbatas.

Salah satu jenis ikan di perairan Indonesia yang banyak diminati dan mendapatkan permintaan pasar internasional adalah Banggai Cardinal Fish atau ikan capungan banggai. Ikan dengan nama latin Pterapogon kauderni ini merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati para penyuka akuarium laut, karena karena bentuk tubuhnya yang kecil, unik, dan eksotik.

Sesuai namanya, ikan capungan ini adalah biota laut endemik di perairan laut Banggai, Sulawesi Tengah. Bahkan pemerintah daerah di Kabupaten Banggai membuat tugu Banggai Cardinal Fish di pusat keramaian Kota Luwuk, sebagai upaya mengingatkan kembali dan menjaga kelestarian ikan ini.

Dalam jurnal Marine Fisheries yang ditulis oleh Samliok Ndobe, dkk [November, 2013] dijelaskan bahwa jenis ini diperdagangkan sebagai ikan hias sejak sekitar tahun 1990, dengan nama dagang Banggai Cardinal Fish dan capungan banggai.

Baca Juga: Primata Endemik Sulawesi yang Kini Berstatus Kritis

Penelitian itu juga menyebutkan, pada 2000-2001 diperkirakan volume perdagangannya mencapai 700.000–1,4 juta ekor per tahun. Kondisi ini dinilai cukup tinggi dan tidak berkelanjutan, serta terindikasi berdampak pada jumlah populasi.

“Beberapa permasalahan terungkap pada studi tahun 2004, bahwa ikan jantan yang mengerami ditangkap dan telur/larvanya dibuang oleh nelayan dan mortalitas tergolong tinggi pada rantai perdagangan panjang dan rumit,” ungkap para peneliti.

Dalam dokumen Rencana Aksi Nasional [RAN] Konservasi Ikan Capungan Banggai periode 2017-2021, disebutkan bahwa populasi ikan ini di alam menurun drastis. Penyebabnya karena penangkapan berlebihan, serta adanya degradasi habitat yang diakibatkan faktor kegiatan manusia dan juga perubahan iklim. Disebutkan bahwa Banggai Cardinal Fish yang berukuran kecil mempunyai nilai jual lebih tinggi dibandingkan ukuran lebih besar.

Dalam jangka panjang, dampak penangkapan Banggai Cardinal Fish sebelum dewasa akan menyebabkan rendahnya laju recruitment populasi. Hal ini disebabkan karena hanya sedikit yang dapat mencapai usia dewasa dan berkembang biak di habitat alam.

Pterapogon kauderni merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati para penyuka akuarium laut. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

Berkelompok

Ikan ini hidupnya berkelompok. Biasanya, yang berukuran lebih kecil banyak berlindung di bulu babi, sementara yang agak besar berada di anemon dan berbaur bersama ikan jenis lain seperti nemo atau clown fish. Bulu babi dan anemon adalah mikrohabitatnya Banggai Cardinal Fish.

Di perairan laut Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, jenis ini masi mudah dijumpai. Bahkan, di bawah rumah panggung Suku Bajo yang ada di Desa Uwedikan, bisa dilihat langsung bagaimana ikan ini bermain di antara bulu babi.

Namun, keberadaan Banggai Cardinal Fish yang berkelompok di perairan dangkal membuatnya mudah ditangkap dalam jumlah banyak.

Banggai Cardinal Fish merupakan jenis ikan mouthbrooder atau memelihara anak di mulutnya. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Tahun 2007 dan 2016, capungan banggai dua kali dimasukkan dalam daftar Appendiks II CITES [Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna] atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar terancam punah. Namun dua kali pula proposal usulan itu ditarik oleh Amerika dan Uni Eropa. Akan tetapi ada kemungkinan negara-negara ini mengusulkan kembali dalam aturan tersebut.

Di dalam negeri, untuk menjaga keberadaan ikan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan secara resmi menetapkan statusnya sebagai dilindungi terbatas. Pengesahannya melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 49/KEPMEN-KP/2018. Dalam Kepmen tersebut, dijelaskan bahwa perlindungan dilakukan secara terbatas berdasarkan tempat dan waktu. Yakni, hanya di wilayah Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah dan pada Februari-Maret dan Oktober-November. Hal ini sesuai hasil rekomendasi LIPI yang menyebutkan bahwa pada bulan tersebut capungan banggai mengalami puncak musim pemijahan.

Dalam surat keputusan Menteri itu juga dijelaskan mengenai ciri-ciri morfologinya yaitu tubuhnya berwarna keperakan dan berbentuk pipih dengan ekor terbelah dua. Panjang tubuh dari ujung mulut sampai cagak berkisar antara 1,2 – 7,9 cm, lalu terdapat tiga garis hitam pekat menyilang di bagian kepala dan badan mulai tepi atas sampai bawah sirip dorsal dan anal. Terdapat pula totol-totol putih pada bagian tubuhnya.

“Pada sirip punggung relatif panjang dan sirip ekornya membentuk cabang yang dalam mulutnya lebar sampai melewati garis vertikal pertengahan pupil, serta rongga mulut jantan lebih besar dari betina.”

Lembaga konservasi dunia International Union for Conservation of Nature [IUCN] memasukkan capungan banggai dalam daftar merah dengan kategori Genting [Endangered/EN].

Namun, dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, ikan ini tidak masuk dalam perlindungan.

Sumber: Mongabay.co.id


Bunglon Jambul Hijau: Si Reptil yang Mampu Berubah Warna

Bunglon Jambul Hijau: Si Reptil yang Mampu Berubah Warna

Di Indonesia, bunglon ini tersebar di pulau-pulau Jawa, Bali, Borneo, Sulawesi, Sumatra, Nias, mentawai, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara, Maluku. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Bunglon jambul hijau merupakan hewan jenis reptil yang mempunyai kemampuan merubah warna tubuhnya, dengan menyesuaikan warna tempat dimana dia berada.

Reptil yang mempunyai nama latin Bronchocela cristatella ini berubah menjadi warna hijau kecoklatan atau coklat. Perubahan warnanya ini biasa digunakan sebagai teknik untuk mengelabuhi musuhnya.

Mempunyai lubang telinga yang besar, ukurannya sebesar matanya sehingga bisa dilihat jelas. Sementara kepala dan leher memiliki warna hijau muda dengan daerah mulut hingga bagian bawah mata berwarna hijau pucat atau keputihan.

Bunglon kerap ditemukan di semak, perdu dan pohon-pohon peneduh di kebun dan pekarangan rumah. Sering juga kedapatan jatuh dari pohon atau perdu disaat mengejar mangsanya. Makanan utamanya yaitu serangga kecil.

Pembawaannya tenang dikala hinggap di atas daun pohon jati (Tectona grandis) di malam hari. Warna kulitnya tidak mencolok karena bepadu dengan warna daun. Saat berpindah dari daun satu ke daun lain jalannya pelan, sehingga memudahkan untuk diabadikan dengan kamera.

Begitu pindah ke daun yang kering warnanya berubah menjadi kuning kecoklatan. Dia lah bunglon jambul hijau, si kadal yang mempunyai kemampuan merubah warna tubuhnya, dengan menyesuaikan warna tempat dimana dia berada. Atau sesuai dengan keadaan emosi, cahaya, suhu, dan kelembaban lingkungannya.

Baca Juga: Primata Endemik Sulawesi yang Kini Berstatus Kritis

Biasanya reptil yang mempunyai nama latin Bronchocela cristatella ini berubah menjadi warna hijau kecoklatan atau coklat. Perubahan warnanya ini biasa digunakan sebagai teknik untuk mengelabuhi musuhnya. Ketika dia marah, warna kulitnya cenderung lebih gelap. Kemampuan mengubah warnanya ini selain digunakan untuk melindungi diri dari predator juga digunakan untuk mencari mangsa.

Sebagian orang mengartikan bahwa bunglon mengubah warna kulitnya sebagai kamuflase atau respon terhadap musuh yang membahayakannya. Padahal, tidak juga seperti itu. Reptil ini memang mempunyai kemampuan untuk merubah warna kulitnya.

Akan tetapi, dia tidak bisa merubah warna warna kulit kesemua warna, melainkan hanya warna-warna tertentu saja. Sementara sel yang mendukung dan membuat perubahan ini terjadi disebut dengan chrismatophores.

Seekor bunglon jambul hijau saat bertengger di atas daun jati. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Persebaran

Bunglon jambul hijau bisa tumbuh, panjangnya bisa mencapai sekitar 57 cm (22 inci). Di leher atasnya terdapat deretan jambul berwarna hijau terang, bentuknya bergerigi yang menjadikannya disebut dengan bunglon jambul, meskipun jumlahnya tidak sebanyak seperti pada bunglon surai.

Mempunyai lubang telinga yang besar, ukurannya sebesar matanya sehingga bisa dilihat jelas. Sementara, kepala dan leher memiliki warna hijau muda dengan daerah mulut hingga bagian bawah mata berwarna hijau pucat atau keputihan. Begitu juga dengan punggungnya yang berwarna hijau muda, hanya lebih gelap daripada kepala dan leher.

Tubuh bagian bawah berwarna hijau muda kekuningan atau hijau pucat. Warna ekornya berwarna hijau kekuningan atau hijau kecoklatan. Kaki dan punggung berwarna sama, dengan telapak kaki berwarna lebih terang. Bunglon adalah hewan yang eksotis dari kelas repil yang hidupnya di pohon.

Baca Juga: 5 Binatang Purba yang Masih Hidup di Indonesia

Bentuknya mirip dengan iguana. Dia adalah salah satu reptil yang paling terkenal terutama di daerah penduduk asli benua Afrika dan Madagaskar, bisa juga ditemukan di beberapa kawasan lain di Eropa dan Asia. Tetapi ada lebih dari 120 spesies yang termasuk dalam keluarga bunglon Chameleon ditemukan di wilayah Mediterania.

Bunglon ini tersebar di Myanmar bagian selatan, Kepulauan Nikobar, Semenanjung Malaya, dan Thailand bagian selatan. Sementara di Indonesia, bunglon ini tersebar di pulau-pulau Jawa, Bali, Borneo, Sulawesi, Sumatra, Nias, mentawai, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara, Maluku.

Bagi orang awam, mengetahui bunglon sebagai kadal yang pandai merubah warna kulit dan bisa memanjat dengan handal. Bunglon adalah reptil yang termasuk dalam suku Agamidae. Marganya ada banyak, seperti Bronchocela, Calotes, Gonocephalus, Pseudocalotes, Aphaniotis dan juga saudara dekatnya yaitu cicak terbang (Draco) dan Soa-Soa (Hydrosaurus).

Bunglon kerap ditemukan di semak, perdu dan pohon-pohon peneduh di kebun dan pekarangan rumah. Sering juga kedapatan jatuh dari pohon atau perdu disaat mengejar mangsanya, tetapi dengan segera berlari menuju pohon terdekat. Makanan utamanya yaitu serangga kecil.

Pola Reproduksi

Pada umumnya, bunglon berkembang biak dengan bertelur (ovivar), akan tetapi terdapat pula spesies bunglon yang bertelur di dalam perut dan membersarkan anaknya di dalam perut sebelum dilahirkan (ovovivivar). Spesies bunglon yang bertelur mempunyai telur setelah 3-6 minggu setelah kawin.

Jika akan bertelur, bunglon betina akan turun ke tanah dan mulai menggali lubang antara 10-30 cm tegantung spesies bunglon. Dia akan masuk ke dalam liang tersebut. Spesies bunglon yang bertelur mempunyai telur setelah 3-6 minggu setelah kawin.

Spesies bunglon berkudung (Chamalelo calyptratus) mempunyai telur 80-100 telur, sementara spesies bunglon Brookesia.

Ukuran telur dan bayi bunglon yang baru menetas bervariasi tergantung spesies. Biasanya, telur akan menetas setelah 4-12 bulan, tergantung spesiesnya. Spesies bunglon yang bertelur beranak seperti bunglon Jackson (Trioceros jacksonii) yang mempunyai masa kehamilan 5-7 bulan.

Masing-masing anak akan lahir dalam membran lengket yang merupakan kantong kuning telur. Induknya akan menempelkan telur tersebut pada ranting dimana membran akan pecah dan bayi bunglon bisa keluar. Spesies bunglon ini bisa mempunyai 30 ekor anak sekaligus sekali kehamilan.


Primata Endemik Sulawesi yang Kini Berstatus Kritis

Primata Endemik Sulawesi yang Kini Berstatus Kritis

Yaki merupakan primata berstatus Kritis. Foto: Rhett Butler/Mongabay

Setiap tanggal 30 Januari, Indonesia memperingati Hari Primata sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan terhadap perburuan dan perdagangan ilegal primata di Indonesia.

Macaca nigra atau monyet hitam sulawesi berjambul [Crested black macaque] atau dengan nama lokal Yaki, adalah primata endemik Indonesia yang hanya bisa ditemui di Sulawesi Utara. Namun primata ini berstatus Kritis.

Ada cara unik mengenali primata ini, yaitu jambul yang ada di atas kepalanya seperti model punk serta wajahnya yang hitam. Hal mencolok adalah tubuh bagian pantatnya yang berbentuk hati dan berwarna pink atau merah muda.

Perubahan warna tersebut erat kaitanya dengan perubahan hormonal terutama menjelang kelahiran yaitu meningkatnya hormon estrogen yang menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah.

Sejak tahun 2014, Indonesia mencetuskan peringatan Hari Primata setiap tanggal 30 Januari. Peringatan Hari Primata ini sebagai bentuk keprihatinan dan juga kepedulian terhadap masalah perburuan dan perdagangan ilegal primata yang ada di Indonesia.

Salah satu primata unik dan endemik di Indonesia, yang populasinya terancam punah adalah Macaca nigra atau monyet hitam sulawesi berjambul [Crested black macaque]. Kera ini hanya bisa ditemukan di Sulawesi Utara. Masyarakat di sana menyebutnya Yaki.

Macaca nigra adalah satu dari tujuh spesies macaca yang ada di Sulawesi dan menjadi simbol konservasi primata di Indonesia. IUCN menetapkan statusnya Kritis [Critically Endangered/CR], atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar.

Hal ini sekaligus menggambarkan semakin berkurangnya jumlah mereka di alam liar, sekitar 90 persen dalam 30 tahun terakhir. Berdasarkan Permen LHK Nomor P.106/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, jenis ini berstatus sebagai satwa dilindungi.

 Baca Juga: Cerita Mereka yang Mendokumentasikan Satwa Liar

Ancaman yang kerap dihadapi oleh Yaki antara lain adalah perusakan habitat untuk permukiman atau perkebunan, perburuan untuk dikonsumsi hingga diperdagangkan sebagai satwa peliharaan, bahkan untuk atraksi.

Namun, beberapa lembaga terus bekerja untuk penyelamatan kera hitam berjambul ini, salah satunya seperti yang dilakukan oleh sebuah program bernama Selamatkan Yaki. Hingga saat ini Yaki menjadi salah satu ikon konservasi di Sulawesi Utara.

Lokasi yang menjadi benteng populasi Yaki ada di hutan Dua Sudara dan Taman Wisata Alam Batupuih yang berada di Cagar Alam Tangkoko, di Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Macaca nigra atau monyet hitam sulawesi merupakan satwa endemik Sulawesi. Foto: Rhett Butler

Lantas bagaimana mengenali Yaki dengan jenis macaca lainnya di Indonesia?

Seperti namanya, kehadiran kera ini akan terlihat dengan jambulnya yang unik seperti model rambut punk. Ciri lainnya adalah wajah yang seluruhnya berwarna hitam. Namun yang unik dan sangat mencolok ketika dilihat dari kejauhan adalah tubuhnya pada bagian pantat yang berwarna pink atau merah muda dan menyerupai bentuk hati.

Para peneliti mengungkapkan, warna yang mencolok itu terjadi pada kera betina karena mengalami pembengkakan pada bagian pantat dan warnanya menjadi kemerahan pada masa estrus.

Penelitian yang dilakukan oleh Andre Pasetha, Dyah Perwitasari Farajallah, dan Gholib dalam Jurnal Sumberdaya Hayati [Juni 2019], menjelaskan mengenai perubahan intensitas warna di sekitar daerah urogenital Yaki. Berdasarkan riset berjudul “Perilaku Harian Monyet Hitam Sulawesi [Macaca nigra] pada Masa Kebuntingan di Cagar Alam Tangkoko-Batuangus, Sulawesi Utara” dijelaskan bahwa perubahan warna yang jelas terjadi pada periode kebuntingan dan menjelang melahirkan. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pendugaan kebuntingan dan prediksi waktu melahirkan.

Masa kebuntingannya kurang lebih enam bulan yang dapat dibagi menjadi tiga mester yaitu: dua bulan pertama [mester 1], dua bulan kedua [mester 2], dan dua bulan ketiga [mester 3]. Proporsi perilaku harian tiap fase kebuntingan menunjukkan hal berbeda. Misalkan, pada perilaku makan, hasil penelitian itu menunjukkan bahwa perilaku makan pada mester kedua lebih besar atau 33.16 persen dibandingkan pada mester pertama 25.21 persen, dan mester ketiga 25.38 persen.

Baca Juga: 5 Binatang Purba yang Masih Hidup di Indonesia

Ketika masa kebuntingan sudah sampai mester ketiga warna kulit di sekitar daerah urogenital tersebut akan mulai berwarna merah sedikit gelap. Dua sampai tiga minggu sebelum melahirkan warna merah akan semakin gelap ungu.

Ketika sudah sampai pada satu minggu menjelang melahirkan warna akan semakin ungu gelap. Intensitas warna akan kembali seperti sebelum bunting beberapa minggu setelah melahirkan yaitu berwarna merah muda [light pink].

“Perubahan intensitas warna ini erat kaitanya dengan perubahan hormonal terutama menjelang kelahiran yaitu meningkatnya hormon estrogen. Hal ini menyebabkan terjadinya vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah,” ungkap para peneliti.

Dijelaskan lagi bahwa betina bunting menunjukkan intensitas warna kulit yang lebih merah dibandingkan betina tidak bunting. Warna kulit pada betina tidak bunting lebih cerah dibandingkan ketika bunting. Intensitas warna kulit tersebut berubah menjadi merah keungu-unguan [magenta] terutama pada periode mendekati waktu melahirkan atau beberapa hari sebelum melahirkan.

Cagar Alam Tangkoko memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ekosistem yang khas. Foto: Rhett Butler/Mongabay

Penelitian ini juga membandingkan dengan beberapa genus di primata, di mana individu betina menampilkan perubahan warna cerah selama masa kebuntingan. Misalkan pada spesies Macaca mulatta, betina bunting menunjukkan perubahan warna wajah dari merah menjadi merah keungu-unguan.

Hal tersebut merupakan strategi betina bunting memberikan sinyal peringatan kepada individu lain untuk mengurangi perilaku agonistik terhadap dirinya, sehingga kebuntingan dapat terus dipertahankan.

Selain pada masa kebuntingan, perubahan warna kulit juga terjadi pada periode folikuler, ovulasi, dan luteal. Contoh lainnya adalah pada spesies Macaca fascicularis yang menunjukkan perubahan warna kulit seksual di daerah perineal, di mana pada periode folikuler berwarna merah dan semakin merah pada periode ovulasi. Pada periode luteal, kulit seksual di daerah perineal kembali menjadi merah muda.

Sumber: Mongabay.com/Christopel Paino


5 Binatang Purba Yang Masih Hidup di Indonesia

5 Binatang Purba Yang Masih Hidup di Indonesia

Foto: GNFI

Sudah sejak lama Indonesia dikenal sebagai rumah bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan tropis. Bersama-sama, tumbuhan dan hewan tersebut menjaga keseimbangan ekosistem alam yang menopang kehidupan manusia. Tak banyak yang tahu, Indonesia juga merupakan rumah bagi beberapa spesies purba yang telah ada sejak jutaan tahun lalu.

Keberadaan hewan purba ini dapat ditemui di beberapa wilayah di Indonesia. Pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus agar hewan-hewan purba ini tetap lestari di alam. Berikut adalah beberapa spesies hewan purba yang masih hidup di Indonesia.

Komodo

Komodo (Varanus komodoensis) adalah jenis kadal terbesar. Tercatat Komodo terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3,13 meter dan berat 166 kilogram. Komodo dapat ditemukan di Pulau Komodo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Habitat asli Komodo hanya bisa ditemukan di kepulauan Indonesia dan tidak ada di belahan dunia lain.

Baca Juga: Cerita Mereka Yang Mendokumentasikan Satwa Liar

Komodo merupakan spesies reptil purba endemik yang hidup semenjak zaman purba. Evolusi komodo dimulai dengan genus varanus yang mulai berkembang di Asia antara 40-25 juta tahun yang lalu. Komodo adalah kerabat dekat dari dinosaurus. Hal ini dilihat dari ditemukannya fosil-fosil dari jenis dinosaurus tertentu yang menunjukkan kemiripan struktur tubuh dengan komodo.

Dinosaurus sudah lama punah tetapi Komodo sampai sekarang masih ada. Komodo disebut sebagai Dinosaurus terakhir di dunia. Hewan yang satu masa dengan dinosaurus ini dikenal sebagai kadal karnivora, namun mereka juga hewan kanibal karena kadang mereka memangsa anak-anak mereka.

Trenggiling

Foto: GNFI

Trenggiling atau Pangolin termasuk salah satu hewan purba, beberapa fosil trenggiling sudah ditemukan pada masa Oligosen dan Miosen. Hewan ini memakan serangga dan terutama semut dan rayap. Rambutnya termodifikasi menjadi semacam sisik besar yang tersusun membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola.

Trenggiling hidup di hutan hujan tropis dataran rendah. Trenggiling dapat ditemukan di Asia Tenggara. Trenggiling yang ada di Indonesia dikenal dengan nama Trenggiling Jawa (Manis Javanica) dijumpai di daerah pegunungan di Sumatera, Kalimantan dan Jawa serta Bali. Walaupun tampak seperti reptil, hewan ini tergolong mamalia. Sekarang di Indonesia sendiri hewan ini termasuk hewan yang dilindungi. Di Provinsi Jambi populasi trenggiling masih cukup banyak ditemui.

Belangkas

Foto: GNFI

Hewan mirip kepiting ini adalah hewan jenis artopoda yang hidup di perairan dangkal dan kawasan mangrove. Kadang disebut juga dengan nama kepiting ladam, mimi, atau mintuna. Mimi adalah nama dalam bahasa Jawa untuk yang berkelamin jantan dan Mintuna adalah untuk yang berkelamin betina.

Hewan ini merupakan salah satu hewan purba yang tidak mengalami perubahan bentuk berarti sejak masa Devon (400-250 juta tahun yang lalu) dibandingkan dengan bentuknya yang sekarang, meskipun jenisnya tidak sama. Bentuk hewan ini berbentuk seperti ladam kuda berekor.

Penyu Belimbing

Foto: GNFI

Penyu belimbing atau Dermochelys Coriacea disebut telah mendiami Bumi semenjak 100 juta tahun silam semasa dinosaurus merajai planet bumi. Penyu belimbing adalah jenis penyu terbesar. Berat penyu belimbing bisa mencapai 900 kg, dengan panjang badan sekitar satu setengah hingga dua meter.

Tidak seperti penyu lainnya, penyu belimbing tidak memiliki karapas keras. Karapasnya seperti sebuah mosaik dari tulang-tulang kecil yang keras, kulitnya elastis dengan punggung membujur. Penyu belimbing dapat ditemukan dari perairan tropis hingga ke lautan kawasan sub kutub dan biasa bertelur di pantai-pantai di kawasan tropis.

Penyu belimbing hanya makan ubur-ubur, dan hanya ada sedikit tempat di dunia yang dipilihnya untuk bertelur. Salah satu tempat bertelurnya ada di Pantai Jamursba Medi dan Warmon terletak di Utara Kepala Burung Provinsi Papua Barat, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Penyu belimbing mempunyai kebiasaan berkeliling dunia menjelajahi berbagai wilayah di belahan bumi ini.

Buaya Muara

Foto: GNFI

Buaya merupakan salah satu hewan purba yang tersisa di bumi ini. Buaya muara atau buaya bekatak (Crocodylus Porosus) adalah salah satu spesies buaya terbesar di dunia, jauh lebih besar dari Buaya Nil (Crocodylus Niloticus) dan Alligator Amerika (Alligator Mississipiensis). Panjang tubuh termasuk ekor bisa mencapai 12 meter seperti yang pernah ditemukan di Sangatta, Kalimantan Timur.

Buaya masih mempunyai kerabat dekat dengan hewan reptil purba, Crocodile Saurus yaitu nenek moyang buaya yang mempunyai panjang hampir 30 meter. Namun karena pengaruh alam, tubuh Crocodile Saurus menyusut hingga menjadi buaya muara. Buaya muara dapat ditemukan mulai dari Teluk Benggala (India, Sri Langka, dan Bangladesh) hingga Kepulauan Fiji. Indonesia menjadi habitat terfavorit bagi buaya muara selain Australia.

Sumber: GNFI


Cerita Mereka Yang Mendokumentasikan Satwa Liar

Cerita Mereka Yang Mendokumentasikan Satwa Liar

Foto julang sulawesi yang menjadi juara Kategori Jurnalis. Foto: Basrul Idrus

Untuk mendokumentasikan satwa liar di alam, butuh kesabaran, perencanaan matang dan kekuatan fisik beserta mental yang kuat. Informasi yang akurat harus dikumpulkan sebelum melakukan perjalanan untuk memotret satwa di alam liar.

Memotret satwa liar juga harus memperhatikan etika, dengan tidak menggaggu bahkan menyakiti satwa tersebut. Patut diperhatikan, memotret satwa liar tidak bisa dilakukan sembarangan. Termasuk publikasi, harus dengan pertimbangan matang. Jangan sampai karya untuk kampanye penyelamatan tersebut dijadikan referensi pemburu gelap untuk memburu satwa liar.

Mendokumentasikan kehidupan satwa liar dalam foto, bukan perkara mudah. Butuh kesabaran, perencanaan matang, dan tentunya harus dibarengi kekuatan fisik dan mental yang kuat.

Empat fotografer yang terpilih sebagai Pemenang Kompetisi Fotografi Hari Konservasi Kehidupan Liar 2020, yang dilaksanakan Yayasan KEHATI bersama Mongabay Indonesia, menceritakan susah senangnya mereka memotret satwa liar di habitat alaminya. Obrolan ringan tersebut terekam dalam acara Bincang Alam Mongabay Indonesia, Jumat [11/12/2020].

Foto rangkong badak yang menjadi juara Kategori Umum. Foto: Bonfilio Yosafat Budi Hartono

Bonfilio Yosafat Budi Hartono, juara Kategori Umum dengan foto rangkong badak [Buceros rhinoceros] mengatakan, selain mendokumentasikan satwa liar, dia juga sering mengambil gambar kehidupan masyarakat yang hidup di pinggir hutan, atau masyarakat adat.

Baca Juga: Mengenal Ekidna, Mamalia Keramat Asal Papua

“Foto rangkong badak ini saya dokumentasikan di Pulau Kalimantan. Saya sangat beruntung, bisa mendapatkannya dengan bagus,” sebut pria yang kerap disapa Bonbon.

Belum lagi, tambah dia, lokasi pemotretan yang cukup jauh sehingga membutuhkan perencanaan. Harus banyak informasi yang dikumpulkan sebelum berangkat ke tujuan.

Basrul Idrus, juara Kategori Jurnalis, yang berkerja sebagai jurnalis di Sulawesi Tengah dengan gambar julang sulawesi atau burung alo [Rhyticeros cassidix], mengatakan, tantangan utama memotret kehidupan satwa liar adalah peralatan yang cukup menguras kantong.

“Cuaca juga harus menjadi perhatian, karena jika tidak diperhitungkan maka agenda pemotretan akan kacau,” tuturnya.

Foto elang terbang di daerah Paralayang, juara Favorit Kategori Umum. Foto: Khaleb Yordan

Juara Favorit Kategori Umum, Khaleb Yordan berhasil mengambil gambar elang saat terbang di Paralayang. Dia mengatakan, mendokumentasikan satwa liar, khususnya burung juga sangat sulit. Salah satunya adalah fotografer harus selalu siap karena burung bisa terbang tanpa bisa diprediksi.

“Jika telah terbang, kemungkinan untuk ditemukan kembali sangat sulit,” ujarnya.

Biasanya, tambah Khaleb, untuk  memancing agar burung bisa diambil gambar, digunakan bunyi-bunyian. Namun, tidak bisa dipakai sembarangan, karena dapat mengganggu burung.

“Itu ada etikanya. Menghidupkan suara atau bunyi-bunyian tidak bisa dilakukan terus menerus. Ketika burung tengah bersarang, tentunya sangat mengganggu atau bisa saja akibat suara tersebut sang burung akan diserang predator lain,” ujarnya.

Baca Juga: Anggrek Jadi Bunga Populer Kala Pandemi

Baiknya, bunyi-bunyian disingkirkan karena menganggu dan mengancam. “Alangkah indahnya bila kita hendak motret, cari saja burung di tempat dia makan atau lainnya,” katanya.

Foto siamang yang menjadi juara Favorit Kategori Jurnalis. Foto: Damai Oktafianus

Juara Favorit Kategori Jurnalis, Damai Oktafianus yang berasal dari Sumatera Utara dengan foto siamang mengatakan, memotret satwa liar juga butuh keberuntungan. Bisa saja dicari berhari, tapi satwa itu tidak ditemukan. Atau, saat sedang tidak dicari justru terlihat dengan sendirinya.

“Jadi kesabaran untuk terus mencari sangat menentukan.”

Namun, sambung Damai, yang harus diperhatikan bersama adalah di beberapa tempat, karena banyak wisatawan yang datang, sejumlah orang memanfaatkan kondisi itu untuk mengambil keuntungan, dengan memanggil satwa tersebut. Termasuk dengan memberi makan atau memancing dengan suara-suara tertentu.

“Hal ini sangat berpengaruh terharap pola hidup satwa liar itu. Seperti yang terjadi di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus [KHDTK] Aek Nauli, berlokasi di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara. Untuk menyenangkan pengunjung, pawang memanggil siamang dengan memberi makan atau membunyikan suara agar siamang turun dan bisa dilihat pengunjung sekaligus dipotret,” ujarnya.

Damai juga menyebutkan, untuk melakukan pengambilan gambar di alam atau hutan, persiapan cukup matang adalah hal sangat penting.

“Masuk hutan tidak bisa dilakukan sembarangan. Tanpa informasi yang lengkap, bisa mencelakai diri sendiri atau mengganggu satwa,” sambungnya.

Patut diperhatikan, memotret satwa liar tidak bisa dilakukan sembarangan. Termasuk publikasi, harus dengan pertimbangan matang karena bisa berdampak serius pada keberadaan satwa liar dilindungi di habitat alaminya.

Saat ini, pemburu juga memanfaatkan media termasuk media sosial, untuk mencari lokasi satwa liar yang dilindungi dan terancam punah. Jika lokasinya dijelaskan detil di keterangan foto, maka bisa mengundang pemburu untuk menangkap, bahkan membunuh satwa tersebut.

“Fotografi bisa menjadi alat untuk mengkampanyekan penyelamatan satwa liar terancam punah. Tapi juga sebaliknya, dapat menjadi bahan referensi pemburu,” ujarnya.

Sumber: Mongabay/Junaidi Hanafiah


Anggrek Jadi Bunga Populer Kala Pandemi

Anggrek Jadi Bunga Populer Kala Pandemi

Bunga anggrek jadi makin populer di masyarakat kala pandemi. Foto: Republika.com

Selama pandemi COVID-19 hobi memelihara bunga makin populer di masyarakat, tidak terkecuali juga tanaman anggrek. Bagi penghobi anggrek di Lamongan, Jawa Timur, merawat bunga dengan nama latin Orchidaceae ini di wilayahnya yang panas memberikan kesan tersendiri.

Potensi ekonomi anggrek sebagai salah satu komoditas hortikultura telah dimanfaatkan dan dikembangkan oleh banyak negara, begitu juga Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong adanya inovasi teknologi tanaman hias dari para pembudidaya.

Di masa pandemi seperti sekarang ini hobi memelihara bunga makin populer di masyarakat, tidak terkecuali juga tanaman anggrek. Terutama bagi kalangan ibu-ibu. Seperti halnya yang dilakukan Yayuk Setia Rahayu. Perempuan berprofesi sebagai guru ini mengaku, selama pandemi COVID-19 dia bisa lebih banyak waktu dalam merawat bunga dengan nama latin Orchidaceae ini. Karena masa pembelajaran siswa masih dilakukan secara online.

“Adanya pandemi ini positif dan negatif ya. Salah satu positifnya setelah mengajar online saya bisa lebih banyak waktu untuk merawat tanaman,” ungkap perempuan yang tinggal di Made, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ini, Kamis (19/11/2020).

Yayuk Setia Rahayu disaat merawat tanaman anggrek di depan rumahnya di Made, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Bagi dia, ada kesan tersendiri dalam merawat tanaman anggrek di Lamongan yang memiliki cuaca panas. Sementara karakteristik bunga anggrek ini sebetulnya lebih cocok di daerah yang mempunyai suhu yang dingin seperti di Kota Batu maupun Bandung.

Untuk itu, Yayuk hanya merawat bunga anggrek yang berbunga saja. Karena menurutnya anggrek yang berbunga lebih bisa beradaptasi dengan cuaca panas. Sementara anggrek yang daun itu membutuhkan tempat yang sejuk.

Baca Juga: Mengenal Ekidna, Mamalia Keramat dari Papua

Selama ini, lanjutnya, meski cuaca panas tidak masalah asalkan dirawat lebih maksimal, misalnya harus dilakukan penyiraman yang rutin setiap hari. Selain itu yang harus diketahui juga yaitu suasana cuacanya. “Kalau anggrek ini kan di pot tidak ada penyimpanan airnya. Jadi akarnya kan langsung keluar. Kalau misalnya sore mau disiram juga tidak apa-apa. Karena langsung hilang, penyimpanannya kan langsung di akar,” imbuhnya.

Saat musim kemarau, kata dia, penyiraman harus dilakukan lebih serius, sehari bisa dua kali, antara pagi dan sore hari. Karena jika kenak panas akarnya akan cepat kering. Bagi penghobi anggrek di Lamongan, merawat bunga dengan nama latin Orchidaceae ini di wilayahnya yang panas memberikan kesan tersendiri. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Ibarat Manusia

Untuk kendala yang dihadapi saat ini menurut perempuan 53 tahun ini yaitu hama tikus. Sehingga yang harus diperhatikan adalah kebersihan di sekitar bunga anggrek yang di rawat. Yayuk sendiri merawatnya di depan rumah. Sampai saat ini hal yang menjadi perhatian penting bagi dia yaitu bagaimana membuat tanaman anggrek yang dirawat itu bisa berbunga semua.

Tanaman anggrek sebagai pilihan untuk hiasan rumah karena menurutnya tanaman ini dari masa ke masa selalu dikenal orang. Berbeda halnya dengan bunga lain seperti adenium atau bunga janda bolong yang sifatnya sementara saja ramainya. “Kalau musiman itu harganya bisa mahal saat ramai, tapi kalau tidak musim itu harganya bisa turun,” katanya.

Selain itu, karakter bunga anggrek yang beragam juga menjadi alasan dia memilih merawat bunga yang tersebar luas dari daerah tropika basah hingga wilayah sirkumpolar ini. Untuk kedepannya dia juga tertarik untuk menambah koleksi dengan bisa melakukan persilangan.

“Resepnya, kalau memelihara sesuatu itu harus senang dulu ya. Jika hanya setengah hati itu bunga anggrek juga terlihat tidak mau berbunga. Beda halnya jika kita rawat dengan hati, diajak ngomong seperti halnya manusia, dia ini bisa lebih cepat berbunga. Ada kepuasan batin. Lho, kamu kok kering gini kenapa ya?,” jelasnya menirukan obrolan disaat merawat tanaman anggrek miliknya.

Hal sama juga diungkapkan Etik Sulistiani, ada kesan tersendiri ketika merawat tanaman yang cenderung mempunyai organ-organ yang sukulen atau berdaging ini. Bagi perempuan berkepala dua tersebut memelihara anggrek itu memberi perhatiannya ibarat manusia. Tidak boleh terlalu dikalem, atau tidak boleh juga terlalu kasar.

Sepengalamannya, jika dibuat santai tanaman ini sulit untuk berkembang, begitu juga jika diperlakukan kasar. Selain dilakukan penyiraman setiap hari. Anggrek juga perlu di pupuk “Biasanya saya hanya menaruh pupuknya disela-sela daun. Hanya sebulan sekali saya beri pupuk,” kata Etik yang bekerja sebagai sekretaris inspektorat di Kabupaten Lamongan ini.

Dia juga tidak menampik, merawat anggrek di Lamongan yang notabene mempunyai karakter cuaca panas juga menjadi tantangan tersendiri. Di Lamongan sendiri, kata dia, yang cocok itu memelihara anggrek jenis dendro dan vanda, itupun dibutuhkan perawatan yang lebih maksimal. Apalagi ketika musim kemarau produktifitas dalam berbunga bisa menurun karena kekurangan air. Pernah dia merawat anggrek jenis bulan tetapi tidak cocok dengan iklimnya.

Baca Juga: 10 Jenis Burung dengan Paruh Unik

Selama pandemi ini daripada beraktifitas di luar rumah, dia mengaku lebih rajin berinteraksi dengan tanaman anggrek. Selain memberikan nutrisi, merawat anggrek juga harus diajak berbicara “Jadi lucu gitu ya, bisa dijadikan teman. Kalau misalnya tidak mau berbunga gitu saya tanya, kok tidak mau berbunga kenapa?,” ujarnya sambil terkekeh.

Bagi Etik, susahnya merawat anggrek itu ketika tidak berbunga. Selain itu juga hama belalang yang makan daun juga menjadi tantangan tersendiri. Dia sendiri merawatnya di atas rumah, agar suasanannya bisa pas antara matahari, udara dan juga kelembabannya. Agar tidak terlalu kering maka atasnya harus dikasih jaring.

Potensi Ekonomi

Potensi ekonomi anggrek sebagai salah satu komoditas hortikultura telah dimanfaatkan dan dikembangkan oleh banyak negara, begitu juga Indonesia. Melihat potensi tersebut Joko Wardoyo, pengusaha bengkel motor di Dusun Buluteratai, Desa Sumur Genok, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, mencoba untuk mencari keberuntungan dengan merawat tanaman anggrek untuk dijual.

Di atas rumahnya yang berada di pinggiran jalan raya tersebut dia merawat bibit anggrek sebanyak 450 botol yang dia dapatkan dari Kota Batu, Malang. Kebetulan di Kota Wisata itu dia punya keluarga yang berhasil merawat anggrek hingga ekspor ke luar negeri. Sehingga dia tertarik untuk ikut merawat dan mengembangkan.

“Ini merupakan pengalaman pertama, hanya buat sampingan saja. Kalau sekarang ini masih tahap coba-coba, tapi Alhamdulillah ternyata di tempat yang panas seperti Lamongan ini anggrek masih bisa bertahan,” ujarnya disela menyemprot bibit anggrek yang dirawatnya, Minggu (29/11/2020). Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk saat ini kendala yang dihadapi yaitu hama tikus. Untuk cuaca tidak ada masalah, hanya beberapa tanaman rusak karena tikus yang menyerang.

Joko Wardoyo (50) seorang pengusaha bengkel motor mencoba peruntungan dengan memelihara bibit anggrek yang dia dapatkan dari Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Sementara itu, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong adanya inovasi teknologi tanaman hias dari para pembudidaya. Hal tersebut dilakukan untuk mendongkrak kualitas dan volume ekspor yang bisa menambah ekspor devisa negara.

Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian menjelaskan, sekarang ini Indonesia mempunyai berbagai varietas khas tanaman hias yang sangat dibutuhkan bahkan diminati hampir seluruh negara di dunia seperti Jepang, Asia, Arab, Inggris, Saudi Arabia, Eropa maupun di Amerika Serikat.

“Pada saat ini preferensi pasar Internasional mulai berubah ke arah tanaman hias tropis. Hal ini memberikan peluang bagi para pengusaha di dalam negri,” ujarnya dilansir dari Republika.

Sumber: Mongabay


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia