Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
 Konsep Kepemimpinan: Teori & Syarat

Konsep Kepemimpinan: Teori & Syarat

Konsep Kepemimpinan

Pemimpin merupakan seorang yang memimpin bawahannya di dalam ruang lingkup organisasi, lembaga atau komunitas. Sedangkan kepemimpinan adalah cara atau konsepsi atau strategi yang dilakukan seorang pemimpin dalam mengendalikan sebuah organisasi, lembaga atau komunitas.

Akan tetapi sangat sedikit dan minim sekali pengetahuan yang ada di lapangan, yang menegaskan bahwa pemimpin hanya menjalankan rutinitas kegiatan atau agenda yang di lakukan melalui sebuah rapat kerja sehingga hanya monoton saja.

Maka dalam tulisan ini saya akan memberikan sedikit dari pada konsep-konsep kepemimpinan agar menjadi pemimpin dan juga mempunyai kredibilitas yang di milikinya. Sehingga pemimpin bisa menjadikan organisasi, lembaga atau komunitas menjadi baik secara efisien dan efektif.

Pemimpin dapat mempengaruhi orang lain. Secara sehat dikatakan bahwa pemimpin dapat mempengaruhi jajaran di bawahannya. Sehingga ia mempunyai karismatik tersendiri dan mempunyai sifat yang berbeda dengan yang lain. Maka ia akan mempengaruhi orang lain, termasuk jajaran bawahannya.

Menjadi pemimpin juga bukan berarti ia menunjukkan eksistensi dirinya sehingga ia mampu memimpin. Akan tetapi dikarenakan ia mempunyai kapabilitas lebih maka ia dijadikan pemimpin yang mampu dan bisa menggerakkan suatu organisasi, lembaga atau komunitas yang dimilikinya.

Kuisioner Pemimpin

Dalam buku manajemen organisasi karya H. Muhammad Rifa’i, M.Pd. Muhammad Fadhli, M.Pd telah dikupas detail bagaimana dan apa saja yang di lakukan ketika berorganisasi. Sebelum pembahasan lebih mendalam, kami sampaikan bahwa seorang pemimpin hendaknya mempunyai :

1. Kapasitas; intelegensia, kehati-hatian, kemampuan berbicara, keaslian, pertimbangan,

2. Prestasi; pendidikan, pengetahuan, prestasi olah raga,

3. Tanggung jawab; ketergantungan, inisiatif, ketekunan, agresifitas, percaya diri, hasrat untuk kesempurnaan,

4. Partisipasi; aktivitas, kesosialan, kooperatif, menyesuaikan diri, homoris, dan

5. Strata; sosial ekonomi, ketenaran/ popularitas.

Dengan memahami kuesioner di atas, maka untuk mengemban sebuah amanah bagi pemimpin dalam organisasi, lembaga atau komunitas dapat dikatakan sebuah organisasi, lembaga dan komunitas tadi menjadi produktif dan progresif.

Teori Kepemimpinan untuk Menjadi Produktif dan Progresif

Seorang pemimpin akan memimpin organisasi, lembaga dan komunitasnya jika pemimpin tadi mengetahui polanya. Untuk mengetahuinya, setidaknya pemimpin belajar mengenai teori kepemimpinan. Di antara teori kepemimpinan itu adalah :

1. Kepemimpinan situasional.

Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Studistudi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan

tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya, bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin.

2. Pemimpin yang efektif

Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi, yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration).

Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi.

Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan

kerja antara pemimpin dan bawahannya, dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan, kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi.

3. Pemimpin yang kontingensi

Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional.

Disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa

kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya.

Ada tiga faktor yang dijadikan tolak ukur dalam model kepemimpinan ini, yakni : hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).

4. Kepemimpinan Transformasional

Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi.

Disamping itu, pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka, para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya.

Model kepemimpinan Transformasional Pada Hakekatnya Menekankan Seseorang

pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi, dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya.

Dengan memahami model atau konsep kepemimpinan, maka seorang pemimpin mempunyai gambaran bagaimana dan apa saja yang harus di lakukan ketika memimpin sebuah organisasi, lembaga dan komunitasnya.



Dampak Sampah Plastik: Bagi Lingkungan, Laut, serta Kesehatan

Dampak Sampah Plastik: Bagi Lingkungan, Laut, serta Kesehatan

dampak sampah plastik
Dampak sampah plastik yang semakin menghawatirkan. Foto: Pexels.com/lucien Wanda 

Hingga saat ini, dampak sampah plastik masih menjadi masalah yang tak kunjung terselsaikan. Banyaknya penggunaan plastik dan kesadaran masyarakat jadi penyebab utama tak berujungnya masalah ini.

Data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penggunaan sampah plastik pada tahun 2021 di Indonesia mencapai 64 juta ton pertahun. Ironisnya, sebanyak 3,2 juta ton lainnya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Tak berhenti disitu, kantong plastik yang terbuang di lingkungan sekitar bisa mencapai 10 miliar lembar pertahun atau sekitar 85.000 ton kantong plastik.

Tentu masih banyak data yang menyebutkan hal serupa. Namun kali ini kita akan langsung ulas bagaimana sampah bisa memiliki dampak yang sangat buruk bagi manusia sehingga bisa menyadarkan kita agar lebih memperhatikan sampah plastik.

Kapan Plastik bisa Terurai?

Penggunaan plastik yang berlebihan tentu mengakibatkan jumlah sampah plastik yang semakin tak terkendali. Yang perlu diketahui, plastik memerlukan waktu yang lama untuk terurai. Karena bukan merupakan senyawa biologis, plastik memerlukan waktu untuk terurai hingga 100-500 tahun.

Baca juga: Dampak Sampah Hingga Pentingnya Pengelolaan Sampah di Perkotaan

Plastik memiliki sifat non biodegradable atau sulit terdegradasi, hal ini menyebabkan plastik sulit terdekomposisi atau terurai.

Dampak sampah plastik bagi Lingkungan

Kesehatan lingkungan jadi faktor yang paling pertama kali terkena dampak sampah plastik dari pengelolaan sampah yang buruk. Sampah plastik yang menumpuk dari tahun ke tahun akan merusak ekosistem kita secara perlahan mulai dari kualitas air, udara, hingga tanah.

Sampah plastik yang dibuang berpotensi untuk menjadi limbah hingga akhirnya merusak lingkungan. Jika dibiarkan terus menerus, dampak sampah plastik bisa sangat berbahaya bagi lingkungan dan ekosistem bumi. Berikut dampak sampah bagi lingkungan yang sudah di himpun oleh Exploring Indonesia:

Polusi Udara

Dampak sampah plastik bagi lingkungan yang pertama adalah polusi udara yang meningkat. Proses pembusukan yang terjadi akan menyebabkan polusi udara yang sangat parah. Selain itu, jika terdapat pembakaran sampah plastik, partikel mikroplastiknya akan menyebar diudara sehingga bisa berpotensi menyebabkan penyakt pernapasan.

Tercemarnya Tanah & Air

Dampak sampah plastik bagi lingkungan yang kedua adalah tercemarnya tanah dan air. Sampah yang dibuang sembarangan, tentu akan merusak elemen tanah dan air yang ada. Hal ini terjadi karena adanya zak kimia pada plastik seperti bifenil poliklorinasi dan pestisida. Zak kimia itu bisa mengontaminasi air hingga merusak habitat hewan yang ada disekitarnya. Jika zat-zat itu dimakan oleh ikan dan ikan tersebut dikonsumsi oleh manusia, maka secara tidak langsung zat tersebut masuk kedalam tubuh sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis.

Selain itu, zat plastik yang terserap dalam tanah juga bisa menempel pada tumbuhan. Tumbuhan-tumbuhan yang terkontaminasi tersebut akan sangat beresiko bagi kesehatan tubuh jika di konsumsi.

Pemanasan Global

Tak hanya berhenti disana. Dampak sampah juga bisa memperparah pemanasan global. Penumpukan sampah juga bisa memicu pemanasan global yang saat ini sudah makin parah. Pembusukan dari sampah yang menumpuk akan mengeluarkan gas metana dan pada akhirnya justru memicu efek rumah kaca.

Baca juga: Prinsip Leave No Trace: Solusi Sampah di Lingkungan Pariwisata

Dampak Sampah Plastik bagi Laut

Tak hanya di lingkungan, dampak sampah juga sangat buruk bagi laut. Seperti djelaskan diatas bahwa sebanyak 3,2 juta ton sampah berakhir dibuang ke laut. Hal ini tentu menyebabkan dampak-dampak tertentu.

Sampah yang berakhir di laut akan menyebabkan pencemaran air sehingga mengganggu habitat hewan laut. Pencemaran ini akan semakin parah jika hewan-hewan laut tersebut tak sengaja memakan partikel-partikel dan juga zat-zat kimia yang berbahaya.

Ikan yang terkontaminasi dan dikonsumsi manusia akan menimbulkan berbagai penyakit kronis.

Dampak Sampah Plastik bagi Kesehatan

Sampah juga memiliki dampak bagi kesehatan manusia. menumpuknya sampah akan menyebabkan pencemaran lingkungan dan laut sehingga menimbulkan efek yang buruk bagi kesehatan. Berikut dampak sampah plastik bagi kesehatan yang perlu kamu ketahui:

Kanker

Dampak sampah plastik bagi kesehatan yang pertama adalah bisa menyebabkan kanker. Berbagai senyawa kimia beracun yang berasal dari plastik bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara, makanan, dan minuman yang terkontaminasi limbah plastik.

Limbah plastik ini bisa menghasilkan zat karsinogenik yang dapat memicu kanker, seperti kanker paru-paru, kanker payudara, kanker prostat, dan kanker testis.

Kerusakan Organ

Dampak sampah plastik bagi kesehatan yang kedua adalah bisa menyebabkan kerusakan organ. Paparan logam berat dan mikroplastik dapat menyebabkan kerusakan kulit dan memicu berbagai gangguan pada tubuh, seperti gangguan saraf, masalah pencernaan, gangguan pernapasan, dan gangguan kelenjar endokrin, misalnya penyakit tiroid.

Demikian ulasan mengenai dampak sampah dari Exploring Indonesia. Semoga bisa menambah kesadaran kita semua terkait berbahayanya sampah plastik bagi lingkungan, kesehatan, dan juga laut. 


Agama Itu Memudahkan

Agama Itu Memudahkan

Agama Itu Memudahkan
Agama itu memudahkan dan tidak akan mempersulit. Foto: Pixabay.com 

Kehadiran Islam Adalah Untuk Mempermudah, Bukan Mempersulit “Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang bersikap keras (mempersulit) dalam agama kecuali ia akan dikalahkan (semakin kesulitan). Maka berlaku luruslah, mendekatlah (kepada kebenaran), berilah kabar gembira dan minta tolonglah (kepada Allah) di waktu awal pagi, awal sore dan sesuatu di awal malam.” (Shahih Al-Bukhari: 39 dan An-Nasa`i: 5034).

Ajaran Islam sangatlah komprehensif. Tidak ada ajaran yang lebih sempurna melainkan Islam. Dan ajaran Nabi-Nabi terdahulu, sebelum Nabi Muhammad SAW sampai sekarang telah di manipulasi oleh sebagian kelompok manusia untuk kepentingannya. Sehingga kebanyakan perjanjian antara nabi dan manusia dahulu-pun tidak orisinil.

Kedatangan Islam adalah sebagai agama penyempurna dari ajaran Para Nabi dan Rasul terdahulu melalui lisan Nabi Muhammad SAW agar para manusia masuk dan memiliki pandangan dalam menjalankan dan menyikapi kehidupan di dunia sehingga kehidupannya telah masuk dalam bimbingan Allah SWT. Yakni melalui Al-Qur’an dan As-sunnah yang telah orisinil.

Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan As-sunnah yang menjelaskan tentang kebahagiaan atau ganjaran atau pahala atau korelasi orang yang berbuat kebaikan sangatlah banyak dan yang akan dijadikan motivasi bagi seseorang agar bersemangat dalam berbuat kebaikan.

Seyogyanya bagi kaum muslimin agar selalu bergairah dan berlomba-lomba dalam menjalankan kebaikan agar ia mendapatkan pahala yang setimpal dengan apa yang ia perbuat. Karena pada dasarnya sifat manusia adalah mengharap sesuatu, yang sesuatu itu bisa berupa kerelaan Alllah atau pahala. Dari hal yang terkecil-pun pahala dapat diraih.


Kesungguhan dalam menjalankan ibadah bukanlah tolok ukur dari sebuah pahala yang Allah berikan kepada seorang hamba. Bisa jadi ia memperbanyak ibadah digunakan untuk menutupi ibadah yang dirasa kurang khusuk. Maka hemat kami dalam menjalankan ibadah seperti ini kuranglah baik, sebab yang lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah adalah ibadah yang sedikit tapi ia terus-menerus dilakukan. Hal seperti ini senada dengan perkataan Nabi SAW

“اَحَبُّ عَمَلِ اِليَ اللَّهِ اَدْوَامُهاَ وَ اِنْقاَلَ”

Kecil, sedikit akan tetapi istiqomah adalah tolok ukur bagaimana amalan-amalan ibadah kita di terima dan di setujui oleh Allah. Bagaimana tidak, orang yang mengajak kebaikan saja diberi pahala 10 kebaikan, apalagi yang diajak tadi mau dan melakukannya, maka yang mengajak akan mendapatkan 2 kali lipat dari pahala yang diajak.

Setidaknya dengan adanya pahala maka seorang yang beriman kepada Allah maka ia akan termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi dan mampu memperhatikan bagaimana ia akan kembali kepada Allah.

Apakah ia kembali kepadaNya dengan membawa catatan amalan perbuatan dan diterimanya dari tangan kanan atau tangan kiri? atau ia tidak akan membawa apa-apa karena semasa hidupnya ia tidak tau dan tidak mau tau bagaimana ia menjalankan aktivitas hidup di dunia ini.

Dalam hal ini hidupnya adalah semaunya. Setiap aktivitas yang kita lakukan jika diniatkan untuk beriadah kepada Allah akan menjadi pahala, sebab kita berbuat sesuatu karna Allah. Adapun jika kita masih mengharap materi, maka yang kita dapatkan adalah keringat yang tidak ada keberkahan dari Allah serta yang didapat akan cepat habis pula.

Amalan kecil ini yang apabila di jalankan secara konsisten akan mengalahkan timbangan al mizan Timbangan al mizan adalah timbangan amal perbuatan kita selama hidup di duia. Dan siapa sangka bahwa seseorang akan selamat di akhirat itu di sebabkan oleh amalan-amalan kecilnya? bukan amalan-amalan besarnya?.

Padahal secara logika atau rasionalnya akal, hal semacam ini akan bertentangan dikarenakan yang ada tidak sesuai dengan kenyataan. Dan yang harus kita fahami, bagi seorang yang beriman kewahyuan yang berupa ajaran Islam tidaklah semua yang ada di dalamnya dapat di rasionalkan menggunakan akal, sebab akal tidak akan bisa menembus sesuatu yang Allah tetapkan tidak bisa ditembus.

Akan tetapi dengan menggukan keimanan yang merupakan identitas orang beriman. Disebutkan di dalam hadis Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ia berkata :

“Dua kalimat yang ringan dilisan, namun berat di timbangan, dan disukai oleh Ar-Rahman(Allah SWT) adalah subhanallah wabihamdihi, subhanallah hil adhim”.

Hanya bermodal 2 kalimat ini, yakni subhanallah wabihamdihi, subhanallah hil adhim yang apabila setelah sholat fardhu kita membacanya dikala berdzikir kepada Allah dengan bacaan minimal 10 kali, sedangkan sholat fardhu tersendiri berjumlah 5 kali, maka dapat diambil hitungan 50 kali kita telah mengalahkan timbangan al-mizan di hari pertanggung jawaban kelak.


Ditambah lagi jika kita menganggur atau di jam kosong atau tatkala setelah sholat sunah kita selalu membacanya, maka berapakah kebaikan yang kita dapatkan dalam satu hari ini? dan semuanya itu berawal dari hal-hal terkecil seperti 2 kalimat ini.

Semua dimulai dari yang terkecil. Tindakan seorang dalam proses menuju kebaikan adalah dari yang termudah atau dari yang terkecil. Dari yang terkecil akan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi seorang yang berproses dalam kebaikan. Dari yang terkecil pula akan menimbulkan kecintaan yang dapat mengalahkan amalan atau perbuatan-perbuatan yang lebih besar. Sehingga seorang akan termotivasi dan akan tetap di jalan yang baik.

Sebuah contoh misalnya, apabila seorang yang kita dakwahkan untuk melakukan perbuatan yang besar dengan ganjaran yang besar pula, tidak menutup kemungkinan dia di pertengahan jalan akan loyo. Sedangkan jika kita dakwahkan dengan melakukan amalan kecil tapi istiqomah, maka pelakunya akan merasa senang dari apa yang kita dakwahkan.

Tatkala kita sudah mendapatkan hati pelaku dakwah atau audien, maka tahap selanjutnya adalah bagaimana pelaku dakwah bisa melakukan amalan-amalan yang berbobot dan pahalanya juga besar. Menurut hemat kami, yakni dengan mengkolaborasikan amalan kecil dan amalan besar dalam berdakwah.

Sebagai contoh adalah; sebuah masjid mengadakaan kajian di pagi hari setelah sholat subuh sembari menunggu matahari terbit dan di siapkan makan-makan agar audien terpacu untuk berangkat sholat subuh sekaligus mendapatkan pahala seperti ia melaksanakan haji secara sempurna.

Hal semacam ini lah yang seharusnya dilakukan para da’i agar audien bisa mendapatkan amalan-amalan berbobot dengan pahala besar dan juga ia mendapatkan amalan kecil dengan ganjaran yang besar pula, yakni seperti halnya melaksanakan haji.

Penulis : Muhammad Haris Nurdiansyah

Kerendahan Hati yang Menuntun Jiwa

Kerendahan Hati yang Menuntun Jiwa

Ilustrasi. Foto: Merdeka.com

Hanya sebab tauhid rantai kemanusian ini terus ada! Apakah misi suci ini menjadi titik kesatuan yang berujung pada sujud simpuh dihadapanNya? 

Atau menjadi titik pertikaian dan perpecahan?

“Berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan.” {Bhineka tunggal ika}

Air yang berada di bumi hanya akan bermuara pada satu tempat terendah. Akan mengalir dan memberi kesuburan pada tanah yang dilewatinya. Dan ia tidak bisa mengalir menanjak dengan congkak, sebab ketinggian merupakan kebalikan sifat dari air.

Himpunan air yang mengalir, memberi jejak kesejahteraan dan ketentraman lingkungan. Keberadaannya yang terus membesar dan meluas menjadi kekuatan yang tak terbendung. Juga menjadi tabungan banyak pihak untuk bisa bertahan di masa sulit.

Semakin banyak air terhimpun maka akan semakin banyak kesejahteraan yang terbentuk secara massif. Nampaknya kesejahteraan memicu banyak himpunan alam di lain wilayah, tergiur ingin ikuti. Sebab kebaikan akan selalu mengundang kebaikan-kebaikan lainnya. Sekumpulan orang baik akan menggoda banyak orang tuk berbuat baik. Solidaritas yang kokoh juga akan mengundah banyak orang untuk lebih solid.

Persatuan dengan tujuan murni, akan membuahkan kekokohan yang tak lekang di hempas badai dan tak lapuk dihantam panas terus-menerus. Kemurnian niat tulus-lah yang menolong sekelompok manusia untuk terus dalam jalan fitrohnya. Tujuan untuk bisa berjalan bersama menapaki dunia yang fana. Sebab seratus orang melangkah satu kali, lebih baik dari pada seseorang melangkah seratus kali. Kemudian sedikit demi sedikit menjadi kekompakan yang didasari oleh kecintaan. Salah seorang ahli hikmah berkata:

ثَمْرَةُ الْقَنَاعَةِ اَلرَّاحَةُ وَثَمْرَةُ التَّوَاضُعِ اَلْمَحَبَّةُ.

“Buah dari qana’ah adalah ringan, dan buah dari tawadhu’ adalah kecintaan.”

Terkadang beberapa persoalan garus dihentikan sejenak guna memberi jalan masuknya mashlahat yang lebih besar. Dapat kita lihat, sebuah kereta melaju dengan kencang, yang membawa mashlahat untuk orang banyak, maka ia dapat memberhentikan jalan raya dengan palang merah-putihnya, agar tidak ada kerusakan dan pihak yang dirugikan.

Kerendahan hati bukan berarti membuat diri kita hina dimata manusia lainnya. Hal ini akan berguna untuk menundukkan ego dan mempertahankan langkah yang dibuat bersama, untuk niat yang mulia memperjuangkan agamaNya.

Apapun profesi yang dimiliki, ketika sudah niat tulus untuk Allah semata, maka akan ada banyak hasil yang diraih melalui banyak lini kehidupan. Sebab di balik kebersamaan dan kesatuan ada banyak kekuatan dan perubahan yang akan didapat.

Begitulah kerendahan hati, juga merupakan tanda akan mengalirnya ilmu ilahi, serta menghentikan laju syahwat dan gemerlap duniawi. Sebab keduanya dapat memicu kesombongan yang harus ditahan terlebih dahulu. Hingga waktu yang tepat Allah beri jalan keduanya untuk didapatkan dengan halal.

Rendah hati merupakan sifat pertama seorang hamba. Hal ini dijelaskan dalam potongan akhir surat al-Furqon, tepatnya dalam ayat 63:

وَعِبادُ الرَّحْمنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً

“Para hamba ar-Rahman adalah mereka yang berjalan di atas bumi dengan kerendahan hati.” (al-Furqan 25: 63) dijelaskan dalam tanbih al-Ghafilin yang dimaksud sifat hamba Allah di sini adalah kerendahan hati atau dikenal dengan tawadhu’.

Kerendahan hati merupakan salah satu akhlak mulia, yang menjadi tujuan diutusnya Nabi. Problematika sosial akan terselesaikan oleh akhlak mulia. Perpaduan antara ilmu dan amal. Sebab nilai islam ini harus membumi sehingga manfaatnya dapat dirasakan tak hanya bagi diri sendiri tapi juga oleh banyak manusia.

Syaihk Wahbah Az-Zuhaili menerangkan perihal ayat ini, bahwasa sifat pertama seorang hamba adalah rendah hati. Berikut penuturannya:

هُمُ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ فِي سَكِيْنَةٍ وَوِقَارٍ، مِنْ غَيْرِ تَجَبُّرٍ وَلَا اسْتِكْبَارٍ، يَطَؤُوْنَ الْأَرْضَ بِرِفْقٍ، وَيُعَامِلُوْنَ النَّاسَ بِلَيِّنٍ، لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا، كَمَا قَالَ تَعَالَى حَاكِيًا وَصِيَّةَ لُقْمَانَ لِابْنِهِ: 

“Merekalah orang-orang yang berjalan dengan ketenangan dan kepantasan, tanpa merasa besar hati dan sombong. Mereka-lah orang-orang yang berjalan dengan kasih sayang, berinteraksi pada manusia dengan kelembutan, serta tidak menginginkan adanya derajat yang tinggi dan tidak pula menginginkan kerusakan. Sebagaimana Allah berkisah wasiat Luqman untuk anaknya: ”

وَلا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً، إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتالٍ فَخُورٍ.

“Dan jangan-lah kamu berjalan di bumi dalam keadaan sombong! Sesungguhnya Allah itu tidak menyukai setiap insan yang sombong lagi congkak.” [Luqman 31: 18]

Nabi mengajarkan, “Tidaklah harta itu berkutang karena disedekahkan, tidaklah seorang hamba memaafkan seseorang dari kezhaliman, malinkan Allah akan tambah untuknya kemuliaan, dan tidaklah seseorang berlaku rendah hati kecuali Allah tambah kemualian pula untuknya.” {HR. Muslim}

Kerendahan hati dapat menjadi pemicu kesatuan. Sebab dengannya persaudaraan ini bisa kembali terjalin. Menerobos sekat pangkat dan jabatan. Tanpa pandang perbedaan suku, dan warna kulit. Mari menjaga hati, jangan sampai congkak tak memandang dan tak peduli sesama di lingkungan.


Muara Persatuan

Merajut asa,

Meleburkan diri di dalam cinta.

Menghiraukan ego sementara,

Tuk menyatukan persaudaraan.

    Ikatan nurani semua insan.

    Tauhid terpatri dalam-dalam.

    Semua menjadi bersaudara.

    Persaudaraan kokoh di atas keimanan.

Air yang bersumber dari segala penjuru,

dari langit, daratan tinggi, dan gunung,

akan juga turun pada tempat terendah.

Itulah muara kesatuan.

    Kesatuan yang tiada lagi pandang jabatan,

    tiada lagi pandang harta.

    Semua disingkirkan tuk satukan visi.

    Menyongsong tinggi, kibarkan kalimat Ilahi.

Kesatuan yang didamba masa kini.

Perbedaan bukan lagi penghalang.

Bahkan menjadi kekuatan.

Pernak-pernik perjuangan, 

sampai darah penghabisan.

    Fikr Room (Al-Muhsin Metro, 16 Juni 2020)

Refrensi:

Tanbihul Ghafilin, Abu Laits Nashr bin Muhammad al-Hanafi as-samarqandi, (Maktabah al-Iman, Mesir), hal: 141-142.

Tafsir al-Munir, DR. Wahbah az-Zuhaili, (Dar Fikr Mu'ashir, Damaskus), jilid: 19, hal: 105.



Salam Adalah Obat Perselisihan

Salam Adalah Obat Perselisihan

Islam sangat damai dengan salam. Foto: pexels.com

Hidup bersosial tentu memiliki resiko perselisihan. Sebabnya pun bisa beragam; dari masalah remeh, salah komunikasi, salah paham, kebencian, dendam kesumat, perebutan pangkat, cinta yang kandas di tikungan, dan lain sebagainya. Hal ini biasa terjadi antar teman, tetangga, rekan kerja, dan bahkan di tubuh keluarga sendiri. Maka bagaimanakan Islam menjawab hal ini?

Mengelus dada, merajut asa, dan meleburkan diri di dalam cinta-Nya!

Masalah perselisihan yang terus dibiarkan, bisa jadi melebur dan bisa jadi akan meledak pada momennya seperti bom waktu.

Ada satu solusi yang bisa meleburkan berbagai polemik perselisihan. Solusi itu adalah menjalin kembali komunikasi. Solusi ini memang tak gampang, pasalnya masalah sosial akan menimbulkan kesenjangan dan dendam. Termasuk di antaranya berjauhan, tiada lagi tegur sapa, dan sulit untuk mencairkan suasana yang seolah sudah membeku. Maka dari itu, menjalin kembali komunikasi atau merajut kembali hubungan sosial adalah hal positif  dan solusi yang harus dilakukan. 

Lalu bagaimana memulainya?

Salah satu caranya adalah dengan mengucapkan salam. Sebab salam ini adalah doa antara muslim satu sama lain. Semoga kalian selamat, dirahmati, dan diberkahi oleh Allah. Betapa indahnya persaudaraan ini terus berjalan dengan saling mendoakan. Bahkan terkadang secara tidak sadar terus diucapkan dan dilakukan, ternyata hal itu adalah upaya saling mendoakan dan menjaga keharmonisan sosial.

Masalah itu akan melerai dengan adanya kerendahan hati, serta tidak ada lagi keangkuhan. Kerendahan hati merupakan salah satu akhlaq terpuji yang ada dalam Islam. Dengan hal ini, umat Islam akan bersatu memperkokoh barisan, dan meretas keretakan dalam tubuhnya.

Nabi mengajarkan:

وَقَالَ ﷺ: اَلسَّلَامُ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى وَضَعَهُ اللهُ فِي الْأَرْضِ فَافْشُوْهُ بَيْنَكُمْ

Nabi bersabda, “As-Salam itu termasuk dari nama-nama Allah. Kemudian Dia turunkan ke Bumi, maka sebarkanlah salam di antara kalian!”

وَقَالَ ﷺ: رَأْسُ التَّوَاضُعِ اَلْإِبْتِدَاءُ بِالسَّلَامِ.

Nabi bersabda, “Pokok kerendahan hati adalah memulai ucapan dengan salam.”

Hukum mengucapkan salam adalah sunnah. Akan tetapi menjawabnya adalah wajib. Sebab hal itu merupakan hak bagi muslim yang memulai salam. Hak satu muslim atas muslim lainnya haruslah ditunaikan. Kita pun diajarkan untuk membalas dengan yang setara atau dengan yang lebih baik. Allah berfirman:

{وَإِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا}.

“Apabila kalian diberi penghormatan, maka jawablah dengan yang lebih baik atau serupa darinya.” (An-Nisa 4: 86)

Dari sini kita bisa pahami bahwa jalan melerai kebekuan adalah dengan kembali menjalin komunikasi. Sebab tiada gading yang tak retak, begitu pula tiada manusia yang sempurna. Dan manusia tidak mungkin hidup sendirian, sebab ia pasti butuh orang lain. Bila butuh orang lain, maka kerukunan harus dijaga, dan bila ada masalah harus diselesaikan. 

Gimana enaknya masalah ini diselesaikan dengan kepala dingin dan saling mengelus dada. Bertolerasi satu sama lain, pasti ada jalan tengahnya. Salah satu jalan pemantiknya adalan ucapkan salam. 

Bravo brother fillah!


Syair:

Salam dalam Shalat


    Kala adzan dikumandangkan.

    Berbondong datangi dengan riang.

    Sebagai penikmat jiwa,

    menghadap Sang Maha Raja.

    Sebab jiwa ini hanya seorang hamba.


Pengepul amal pendamba ridha-Nya.

Berharap kembali, dengan hati bening.

Sebening embun pagi yang menunggu mentari.

Pelangi nan Indah di Hati.


    Berbaris dalam shaf berlapis.

    Lurus dan kokoh sebuah persaudaraan.

    Melaju bersama, kibarkan syiar.

    Tebar harumnya naungan Islam.


Mengangkat kedua tangan bersama.

Terucap takbir dari lisan.

Pengagungan kepada Sang Maha Agung.

Memulai perjalanan rohani menujuNya.


    Merunduk, tulang belakang serata air.

    Melihat ke tanah, asal manusia.

    Merenung sama-sama makhluk-Nya.

    Hingga tiada berlaku angkuh pada yang lain.


Bersujud, merendah di hadapan Sang Pencipta.

Sadari diri bukan siapa-siapa.

Menghinakan diri, memelas.

Memohon pada keadaan terdekat-Nya.


    Mengakhiri dengan salam.

    Salam membelah bagian bumi, kanan dan kiri.

    Saling mendoakan, kesejahteraan dan keselamatan.

    Untuk semua yang sama vertikal menyembahNya.

Bawah Tower (Tanjung Jaya, 6 Juni 2020)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh!


Kala Tambang dan PLTU Berada di Daerah Rawan Bencana

Kala Tambang dan PLTU Berada di Daerah Rawan Bencana

Kala Tambang dan PLTU Berada di Daerah Rawan Bencana. Foto: Tobasatu.com

Koalisi Bersihkan Indonesia, setidaknya menemukan ada 13 PLTU beroperasi di KRB gempabumi, dengan kapasitas 803 Megawat (MW), salah satu PLTU Panau di Palu, Sulawesi Tengah. Dua PLTU kapasitas total 250 MW dalam proses konstruksi, dua sedang proses perolehan izin, dengan kapasitas 480 MW dan enam PLTU bakal dibangun, kapasitas 530 MW.

Pada 2018, Yayasan Kompas Peduli Hutan (Komiu), meluncurkan lembar fakta yang memperlihatkan, dampak limbah PLTU Panau bagi warga. Warga mengeluh sesak napas. Sebagian terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bahkan, kanker getah bening.

Temuan lain dalam laporan “Bencana yang Diundang,”, dari ujung ke ujung Indonesia, ada 131 izin tambang di KRB gempabumi, dengan luasan 1,6 juta hektar. Ada sekitar 2.104 konsesi tambang di KRB rawan banjir dengan 4,5 juta hektar, setara luas Swiss. Kemudian, ada 744 konsesi tambang di atas KRB rawan tanah longsor, seluas 6 juta hektar lebih.

Catatan Koalisi Bersihkan Indonesia, sepanjang 2014-2020, daya rusak tambang dan cakupan konflik mencapai 1,6 juta lebih hektar, setara tiga kali luas Bali. Sepanjang 2014-2020, tercatat, 269 korban kriminalisasi dan penyerangan. Fakta ini, bakal diperparah dengan UU yang memberi karpet merah bagi industri ekstraktif ini.

Pada penghujung September 2018, tsunami setinggi 1,5 meter bergulung menuju Teluk Palu, setelah gempa 7,4 Magnitudo menghantam Sulawesi Tengah, 20 menit sebelumnya. Teluk Palu membentang dari utara ke selatan, letak Pusat Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Kala menerjang Teluk Palu, sisi timur, di Kelurahan Panau, tsunami merontonkkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara, dalam hitungan detik. Cerobong yang sabah hari memuntahkan asap pembakaran batubara seajk 2007 ini berhenti.

Gempa tsunami petang itu dipicu aktivitas sesar geser Palu Koro, kawasan seismik Pulau Sulawesi. Dampak gempa bahkan menjangkau Kabupaten Donggala dan sekitar. Di Panau, 1.174 warga mengungsi.

Letak PLTU Panau persis di pesisir dan berdekatan pemukiman. Rumah Arzad H. Hasan, tinggal terpaut hanya 50 meter dengan PLTU Panau. “Langsung berhadapan dengan posisi PLTU,” katanya.

Hidup bertetangga dengan PLTU adalah kepahitan bagi Arzad, dan warga lain. Saban hari warga terpapar asap pembakaran batubara. Debu batubara di lokasi penimbunan pun berterbangan.

Pada 2018, Yayasan Kompas Peduli Hutan (Komiu), meluncurkan lembar fakta yang memperlihatkan, dampak limbah PLTU Panau bagi warga tak main-main. Mereka mengeluh sesak napas. Sebagian terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bahkan, kanker getah bening. Komiu wawancara 23 warga.

Sebelumnya, rentang 2015-2017, masih dalam lembar fakta Komiu, lima warga meninggal karena kanker dan penyakit paru-paru.

“Kami menderita selama 11 tahun, terpapar dengan berbagai dampak PLTU,” kata Arzad.

Baca Juga: Dampak Sampah hingga Pentingnya Pengelolaan Sampah di Perkotaan 

Arzad bercerita saat temu virtual, peluncuran laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) bersama Tren Asia dan Bersihkan Indonesia, berjudul “Bencana yang Diundang”.

Laporan ini mencoba memotret sebaran entitas industri ekstraktif dan pengaruh pada keselamatan warga di kawasan risiko bencana (KRB) di Indonesia.

Arzad dan PLTU kelolaan PT. Pusaka Jaya Palu Power (PJPP) ini hanya satu contoh di Sulawesi, bagaimana bisnis ekstraktif berada di kawasan risiko bencana yang menyimpan ancaman tinggi, yakni, gempabumi dan tsunami.

Koalisi setidaknya menemukan ada 13 PLTU beroperasi di KRB gempabumi, dengan kapasitas 803 Megawat (MW). Dua PLTU kapasitas total 250 MW dalam proses konstruksi, dua sedang proses perolehan izin, dengan kapasitas 480MW dan enam PLTU bakal dibangun, kapasitas 530MW.

“Sejak awal kami sudah mengatakan PLTU PJPP ini tidak layak dibangun, apalagi di tengah-tengah permukiman,” kata Arzad.

Termasuk, katanya, lahan tempat berdiri PLTU ini kawasan pertanian produktif masyarakat.

Beberapa hari setelah tsunami, Arzad masuk PLTU Panau. Sejumlah fasilitas tetap menjulang. Sebagian hancur. Sambil mengangkat gawai, dia merekam kondisi PLTU itu. Dia menuju liang persegi panjang dengan dasar karung-karung yang tampak berisi sesuatu tergeletak berhamburan di genangan berkelir hitam pekat. Di sekitar liang, karung yang berhamburan lebih banyak.

Arzad menduga, genangan hitam itu adalah bottom ash, limbah pembakaran batubara yang mengendap dan tercampur air.

“Inilah fakta-fakta. Dengan fly ash dan bottom ash sekian juta ton hanya disembunyikan seperti ini modelnya. Merusak lingkungan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya. Video itu dia unggah ke YouTube, pada 19 November 2018.

Pengelolaan limbah PLTU Panau diwarnai masalah. Warga Panau berulang kali protes. PJPP digugat persoalan limbah di Pengadilan Negeri Palu, pada 2015. Pengadilan memutuskan perusahaan tidak bersalah. Pada 2016, Mahkamah Agung, membatalkan putusan pengadilan Palu lewat No: 1199 K/Pid.Sus/2016.

Putusan MA ini sekaligus membuktikan, PLTU Panau “tanpa izin dumping limbah ke media lingkungan.” Pada 2017, PJPP mengusulkan permintaan izin buat membangun tempat penyimpanan sementara (TPS) limbah FABA. Warga menolak, sekaligus mendesak PJPP segera berhenti operasi. Hasilnya, rencana pembangunan TPS kandas.

PLTU Panau diduga tetap membuang limbah ke lingkungan. Pada Februari 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyegel lokasi itu. KLHK menilai, PLTU Panau tidak mengelola limbah dengan baik, hanya dibuang di bantaran sungai—bagian muara.

Dampak PLTU Panau, juga menggerus penghasilan nelayan kecil pesisir Tawaeli. Tangkapan ikan teri berkurang sejak PLTU ini operasi. “Setelah PLTU tidak beroperasi—kurang lebih satu tahun pascagempa, nelayan dalam semalam [melaut] itu bisa mendapat berkah Rp1-Rp2juta. Alhamdulillah,” kata Arzad.

Belakangan muncul rencana rekonstruksi PLTU Panau. Arzad cemas lagi, apalagi limbah FABA bukan lagi masuk dalam daftar limbah B3, setelah Presiden Joko Widodo, meneken Peraturan Pemerintah (PP) No. 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sebagai aturan turunan UU Cipta Kerja.

“Sangat berbahaya sekali.”

Sejak PLTU Panau berhenti operasi, Arzad bilang, warga semangat memperbaiki kondisi lingkungan. Mereka tanam mangrove di sepanjang pesisir. “Begitu antusias respons masyarakat Panau di sini. Semacam ada kesadaran tentang lingkungan yang sehat pasca tidak operasinya PLTU PJPP ini.”

Baca juga: Mengantisipasi dan Meningkatkan Kesadaran Rawan Bencana 

Taufik dari Jatam Sulteng mengatakan, pascagempa Palu peta zona rawan bencana, terbagi dalam kategori-kategori zonasi. Zona terlarang, zona terbatas, hingga zona bersyarat.

Kategori zona rawan bencana ini seperti macan ompong. Alih-alih memulihkan, izin tambang hingga PLTU, tetap terbit.

“Saya kira ini juga harus menjadi perhatian serius, selain berdiri di atas KRB, ini juga bencana dan ancaman bencana bagi masyarakat di sekitar PLTU,” kata Taufik.

Rawan bencana

Wilayah lain Sulteng bukan berarti tak punya risiko bencana. Morowali Utara, misal, kata Taufik juga, tetapi dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW), masih terbebani izin tambang.

“Dampak yang ditimbulkan dalam proses ini bencana. Pemberian izin ekstraktif, saya kira ini menjadi bencana industri juga,” katanya.

Di Morowali Utara, kata Taufik, warga harus mengungsi. Mereka terdampak polusi PLTU dan pabrik smelter, yang sangat dekat dengan permukiman.

Erci Lamaloa, warga Morowali Utara juga cerita. “Kami di sini lebih dampak ke polusi udara, karena asap pabrik sudah kelewat batas, sudah berlebihan sekali.”

Dia menarik napas. “Setiap hari, setiap saat, gunung-gunung yang tadi warna hijau sudah tidak kentara hijau lagi karena asap itu. Kami di sini mendung terus. Mendung karena dampak dari pabrik.”

Erci adalah Ketua Kelompok Peduli Lingkungan (KPL) Dusun Lambolo, Desa Ganda-Ganda, Morowali Utara. PT COR yang Erci sebut, adalah perusahaan smelter ferronikel, hasil kerjasama antar PT Central Omega Resources (COR) dan PT Macrilink Nickel Development. Kerjasama ini membentuk perusahaan baru: PT COR Industri Indonesia (CORII).

Dalam situs mereka, CORII berkomitmen menempuh langkah strategis, dari perbaikan tata kelola tambang berkelanjutan. Erci melihat kebalikannya.

“Kami di sini, terutama anak-anak sudah banyak sekali sakit-sakitan, batuk-batuk, sampai batuk darah. Sudah ada divonis dokter batuk darah, karena asap di sini memang berlebihan,” katanya.

“Bukan sekadar asap, juga disertai bau busuk yang bikin pusing kepala.”

Erci bilang, warga lain sudah menyerah untuk tinggal sekitar CORII. Mereka ingin pindah dan meminta perusahaan bertanggungjawab. Perusahaan mengabulkan.

“Itu sekarang sedang berprogres, hasilnya sudah ada, kami sudah mau dibayar oleh PT COR, rumah kami mau dibayar, segera pindah.”

Tapi, ada kendala. “Masalah harga rumah,” kata Erci.

Warga lain klaim Erci, merasa harga dari CORII tidak cukup. “Kami mau mencari tempat lebih sehat, masih mau beli tanah, mau bikin rumah, harga yang mau dibayarkan ke kami sangat tidak sesuai.”

Humas Eksternal CORII Ratnawati mengatakan dalam pemberitaan Maret lalu, harga ganti rugi ditentukan tim appraisal. Ratnawati juga membantah dampak asap terhadap kesehatan warga sekitar. Baginya, yang dikeluhkan warga penyakit bawahan, tanpa bukti diagnosa.

“Kami belum bisa bangun klinik seperti yang kami janjikan. Rencananya ada. Tidak sekarang karena saat ini kemampuan perusahaan belum stabil.”

Tak siap hadapi bencana

Dalam laporan “Bencana yang Diundang,” ditemukan, dari ujung ke ujung Indonesia, ada 131 izin tambang di KRB gempabumi, dengan luasan 1,6 juta hektar. Ada sekitar 2.104 konsesi tambang di KRB rawan banjir dengan 4,5 juta hektar, setara luas Swiss. Kemudian, ada 744 konsesi tambang di atas KRB rawan tanah longsor, seluas 6 juta hektar lebih.

Kemudian, 67 PLTU total kapasitas 8.887 MW beroperasi dan 31 PLTU lain masih tahap pembangunan, dengan kapasitas 6.950 MW, berada di KRB gempabumi. Kemudian, 41 pabrik smelter dalam perencanaan, proses pembangunan dan sebagian berdiri di kawasan berisiko tinggi bencana.

Di Sulawesi, 24 konsesi tambang seluas 321.970 hektar, didominasi tambang emas, batuan, pasir, dan nikel tergelar di KRB gempabumi. Kemudian, di KRB banjir, ada 318 konsesi tambang di kawasan risiko tinggi, seluas 234.749 hektar berupa tambang emas, pasir, batu kapur dan gamping hingga nikel, yang mendominasi di wilayah Sulteng dan Sulawesi Tenggara.

Kemudian di kawasan risiko longsor, ada 148 konsesi tambang 936.111 hektar dominasi nikel, bijih besi, pasir dan kerikil. Kemudian pabrik smelter ada 41 dalam perencanaan, dan sebagian sudah berdiri. Ada 14 pabrik smelter di KRB masuk rawan tanah longsor, didominasi smelter doxit dan nikel. Lalu, 32 nikel berada di KRB banjir dan 18 di KRB gempa.

“Kami melakukan analisis terhadap proyek-proyek ekstraktif dalam hal ini PLTU, pertambangan, smelter dengan daerah risiko bencana gempa bumi, banjir, tanah longsor. Berkaitan juga tsunami,” kata Ahmad Ashov, dari Bersihkan Indonesia.

“Dari temuan singkat ini, laporan ini mau bilang, Indonesia tidak siap menghadapi bencana.”

Ashov bilang, tim menemukan ada kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan (science-policy gap). Kesenjangan itu muncul, katanya, karena konflik kepentingan industri, oligarki ekstraktif dan tentu dengan keselamatan alam dan manusia di berbagai tempat di Indonesia.

“Ada satu kami tekankan, proyek-proyek ekstraktif menimbulkan risiko bencana.”

“Kita ingin soroti pengetahuan yang cukup luas, bahwa kehadiran proyek ekstraktif, seperti tambang, PLTU, dan smelter, itu dapat memicu kerentanan, atau memicu bencana.”

Industri ekstraktif, katanya, merusak dan mendegradasi lingkungan. Sisi lain, banyak makhluk hidup termasuj manusia bergantung hidup dari lingkungan.

Bagaimana ketika daya dukung alam sudah berkurang? “Bisa kita bayangkan saat bencana datang, seperti apa warga dan lingkungan sekitar telah direntankan. Baik itu untuk pangan, kemudian udara dan sumber air yang tercemar.”

Menurut catatan koalisi, sepanjang 2014-2020, daya rusak tambang dan cakupan konflik mencapai 1,6 juta lebih hektar, setara tiga kali luas Bali. “Semua diiringi praktik kriminalisasi terhadap warga yang protes tambang,” kata Ashov.

Sepanjang 2014-2020, tercatat, 269 korban kriminalisasi dan penyerangan. Fakta ini, katanya, bakal diperparah dengan UU yang memberi karpet merah bagi industri ekstraktif ini.

Sumber: Mongabay Indonesia


Apakah Ramadhan Kali ini Makin Berarti?

Apakah Ramadhan Kali ini Makin Berarti?

Selamat Hari raya Idul Fitri. Foto: Detik.com

Keluarga ku yang semoga dirahmati Allah.

Atas landasan iman kita semua bersaudara. Tanpa sekat apa pun, baik itu suku, warna kulit, Bahasa, atau pun negara. Semua menjadi keluarga atas kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. Mari kita bersyukur masih dalam keadaan muslim dan mu’min di hari ini, hari raya Idul Fitri. Sebab ini semua sudah rencana Ilahi.

Shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita, sayyidina Muhamad SAW. Beserta keluarganya, parasahabatnya, begitupun para pengikutnya yang setia. Semoga kita termasuk umatnya yang mendapat syawafaatnya di hari kiamat kelak.

Keluargaku sekalian!

Buya Hamka pernah berkata: “Kalau hidup hanya sekadar hidup, kera di rimba juga hidup. Kalau hidup hanya sekadar kerja, kerbau di sawah juga kerja…”

Lantas pertanyaannya: Apakah hidup ini makin berarti? Apakah momen Ramadhan menambah kecintaan pada sang pencipta? Apa yang bisa menuntun kita untuk lebih baik?

Jawabannya adalah ilmu. Ilmu adalah lentera di kegelapan hati dan akal. Dengan ilmu semua bisa menjadi lebih baik. Sebab kewajiban menuntut ilmu tak pandang umur, terutama ilmu syar’i. Sejak lahir hingga berbaring di liang lahat.

Allah telah menciptakan semesta ini dengan kecintaan, dan mengurusi kita semua dengan kecintaan. Tak pernah luput satupun dari pandangan Dan pemeliharaan-Nya. Tak pernah mengantuk apalagi tidur.

Jika Allah cinta kita, bagaimanakah membalas cinta-Nya?

Yaitu dengan menunaikan Hak-Nya dan pasti Allah juga tunaikan hak kita. Suatu ketika Nabi bersabda kepada Abu Hurairah:

“Wahai Abu Hurairah, ‘apakah kamu tahu apa hak Allah atas hamba-Nya? Dan apa hak hamba atas Allah?” 

Abu Hurairah menjawab:

“Allah dan Rasullnya itu lebih tahu!”

Rasulullah menjawab:

“Hak Allah atas hamba, adalah hamba beribadah hanya pada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan hak hamba atas Allah adalah tidak akan mengadzab hamba yang tidak menyekutukannya.” (HR. Musaddad)

Sedikit kalimat ini jadi renungan yang sangat bermakna untuk kita. Mengapa kita bisa lantang mengatakan: “Ini tanah milik saya! Harta ini milik saya!” dengan bangga dan yakin. Bagaimana dengan shalat dan puasa kita? Apakah kita sudah yakin dan bangga mengatakan “Itu semua milik Allah!”.

Kenapa kita dibiasakan mengutarakan niat:

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

Sebab lisan ini bisa menggoreskan luka. Dan dengan niat kita menuliskan bahwa ibadah ini milik Allah, dan hanya untuk Allah semata. Setiap hari dilafalkan hingga sadar, terbiasa, bangga, dan yakin bahwa ibadah ini milik Allah, haknya Allah. Walapaun tanpa imbalan.

Hingga ingat Allah tanpa harus imbalan surga, menunggu sertifikasi, diangkat PNS, dagangan bakso, pecel, dan martabaknya laris, nunggu jadi Kabag (Kepala bagian), dan juga tidak menunggu musibah datang tabrakan, sakit dan lainnya. Sebab ibadah memang milik Allah, dan kita manusia yang tercipta dari tanah hanyalah hamba dan budak.

Demikianlah yang Nabi ajarkan:

إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

“Sesungguhnya shalatku, sembalihanku, masa hidupku, dan matiku hanya milik Allah Rabb semesta Alam.”

Dalam Hadits Qudzi:

“Demi jiwaku yang berada di kekuasaannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah dari pada aroma minyak wangi. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya orang yang puasa rela meninggalkan syahwatnya, makannya, dan minumnya hanya karena Aku. Dan puasa adalah spesial milikku dan Aku yang akan mengganjarnya. Setiap kebaikan itu dilipat gandakan 10X hingga 700X kebaikan. Kecuali puasa, sebab ia khusus untukku dan Aku sendiri yang akan menentukan pahalanya.” (HR. Bukhari)

Kesimpulan dan jawaban pertanyaan di awal. Hidup kita makin berarti dengan cinta pada Allah, dan membuktikan cinta kita pada-Nya.

Mudah-mudahan Ramadhan ini makin berarti dalam hidup kita dari yang lalu. Dan makin cinta pada Sang Maha Kuasa. Makin senang menjadi hamba-Nya, sebab hidayah ini mahal harganya. Tidak semua manusia mendapatkan manisnya hidayah. Dan butuh bukti dan perjuangan untuk mendapatkan ridhanya.

Semoga semua yang kita kerjakan di Ramadhan kali ini mendapatkan ganjaran spesiar dariNya. Dan semoga amal kita diterima dan diridhai di sisi-Nya. 

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ--- تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمْ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.


Sedikit Syair

Hujan Api Palestine

Iman mereka jauh lebih teruji.

shalat dengan todongan laras panjang.

Puasa dengan dibayangi takdir kematian.

Tulus ikhlas mereka hanya untuk Sang Maha Esa.


        Kala Muslimin gembira di bulan suci.

        Hujan api menghujam bumi palestina.

        Bangunan lebur berantakan.

        Renggut banyak nyawa melayang.

   

Kehilangan merasuk dalam jiwa.

Ditinggal pergi bagian tubuhnya.

Tetesan darah, luka, jadi saksi perjuangan.

Menjaga belahan bumi para pejuang.


        Bumi yang berkah lagi indah.

        Daratan al-Quds arah kiblat pertama.

        Bumi umat Islam sedunia.

        Berikut bumi merah berpeluh darah.

   

Doa umat Islam tiada henti,

iringi para pejuang masjid suci.

Harta jiwa jadi pengorbanan.

Kobaran Api perjuangan yang tak tertahan.

Pasti Sang Maha Raja tentukan kemenangan.


Kamar kalajengking, (Petiyin, Jatim 12 Mei 2021)




Miliki Teman Baik Agar Hidup Lebih Tenteram

Miliki Teman Baik Agar Hidup Lebih Tenteram

Miliki Teman Baik Agar Hidup Lebih Tentram. Foto: liputan6

Setiap individu mempunyai karakter yang berbeda-beda. Dengan adanya sifat yang beragam ini, kita akan mendapati manusia yang baik dan buruk. Sebagai orang yang berakal, maka kita akan memilah dan memilih siapa yang pantas untuk dijadikan teman. Sebab apabila kita mempunyai teman yang buruk atau yang lebih parah lagi tak mau beribadah kepada Allah, maka jangan heran jika hidup yang kita jalani nantinya akan mengalami kesusahan atau mendapatkan berbagai polemik kehidupan.

Tatkala berteman dengan teman yang buruk, maka yang dihasilkan adalah melanggar aturan-aturan tuhan. Sebab yang mereka pikirkan adalah kesenangan dan kepuasan atas sebuah acara-acara yang mereka selenggarakan. Seperti minum-minuman keras, berbuat mesum atau kegiatan berkonotasi buruk lainnya. Mereka juga tak segan berbicara bohong dan kotor untuk terus menjunjung solidaritas.

Padahal yang di maksud dengan solidaritas atau dalam dunia islam dikenal dengan kerukunan adalah mereka yang mengajak kepada kebaikan dan bisa mengingatkan satu sama lain.

Maka, penting bagi setiap individu agar menjaga dirinya dengan memfilter berbagai perbuatan atau informasi yang di ucapkan dari teman yang buruk sehingga ia tidak terjebak  rayuan-rayuan yang fana.

Sejatinya setiap individu itu mempunyai fitrah yang baik dan menyukai hal-hal yang baik pula. Ia akan sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, yang termasuk sebagai salah satu lingkungannya adalah seorang teman. Sebab temanlah yang nantinya akan menentukan kepribadian yang dimiliki. Maka sangat perluu menyadari untuk apa ia berteman dan dengan siapa ia berteman.

Memilih yang baik lebih menenangkan dan menyenangkan

Siapa yang tak ingin jika perbuatannya itu dibalas dengan balasan yang sepadan atau bahkan lebih?. Pasti kita semua menginginkannya. hal ini bisa kita dapatkan melalui teman yang baik. Sebab teman yang baik akan mengantarkan kepada pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu ketenangan.

Berbeda dengan teman yang buruk, yang mereka tau hanya kesenangan belaka. Teman yang baik lebih dari itu, mereka juga bersenang-senang jua mengetahui kekurangan satu sama lain, sehingga kebanyakan mereka itu dapat menutupi aib (kekurangan) yang ada di dalam diri satu sama lain.

Saat berteman dengan orang yang baik, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih seperti; bisa diajak traktir, menutup kekurangan yang ada di dalam diri ini, mengingatkan jika kita salah, bahkan mereka itu sering mengajak kepada kebaikna dan mencegah kemungkaran.

Manfaat mendapatkan teman yang baik untuk akhirat

Janganlah merasa diri ini gelisa atau cemas jika kita mendapatkan teman yang baik. Sebab ia tak akan mengecewakan kita baik ketika kita di dunia atau kita di akhirat kelak.  Teman yang baik akan mengantarkan kita ke surga Allah kelak.

Pernah ada kisah di dalam hadits yang mengatakan bahwa ada seorang yang berteman dengan seorang yang baik. Kemudian ia berkomentar kepada Allah, “Ya Allah, dimana temanku yang biasa mengaji bersama, bermain bersama dan berdakwah bersama, sekarang kenapa tidak bersama dengan saya?”. Diceritakan temannya ini telah berada di dalam neraka. Kemudian Allah dengan sifatnya yang maha Ar-Rahman, maka Allah angkat si fulan tadi dari neraka. Kemudian si fulan tadi bersama dengan temannya sewaktu di dunia dulu yang selau berbuat baik.

Ini menunjukkan bahwasannya asumsi untuk berteman dengan orang baik yang hanya akan menjadikan dirinya menjadi culun, atau tidak tegas adalah asumsi yang salah. sebab dengan adanya keberadaan orang yang baik ini, ia akan mempengaruhi orang-orang disekitar dan ia akan menjadi pendobrak untuk kebaikan. Maka janganlah kita malu tuk berteman dengan orang yang baik.


Fakta Penelitian: Hiu Paus Bisa Menyembuhkan Lukanya Sendiri

Fakta Penelitian: Hiu Paus Bisa Menyembuhkan Lukanya Sendiri

Seorang peneliti sedang menyelam bersama hiu paus atau whale sharks di Teluk Cendrawasih, Papua. Foto: Shawn Heinrichs/Conservation International

Studi terbaru menunjukkan, luka pada hiu paus dapat sembuh dengan sendirinya dalam hitungan minggu. Para peneliti juga menemukan bukti bahwa sebagian sirip punggung hiu paus yang luka dapat tumbuh kembali.

Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan sumber data berupa indentifikasi foto yang diunduh di website Wildbook for Whale Sharks, dari dua lokasi yang ada di Samudera Hindia.  

Hasil riset ini menunjukkan, pada hari ke-25, luas permukaan yang mengalami cedera utama pada hiu paus menurun rata-rata 56 persen dan penyembuhan paling cepat menunjukkan pengurangan luas permukaan sebesar 50 persen dalam empat hari.

Hiu paus telah mengalami penurunan populasi secara global dari berbagai ancaman akibat aktivitas manusia. Studi dasar seperti ini dapat memberikan bukti penting bagi pengambil keputusan untuk mengelola dan melindungi masa depan hiu paus.

Seperti kita ketahui, hiu paus [Rhincodon typus] atau whale shark merupakan satwa yang ramah dengan manusia. Kemunculan hiu paus secara periodik di suatu tempat bahkan dianggap sebagai berkah karena dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata. Kehadirannya dijadikan sebagai wisata minat khusus untuk menarik wisatawan, baik itu domestik maupun mancanegara.

Misalkan di Botubarani, Gorontalo, hiu paus menjadi destinasi utama bagi para pengunjung. Lokasinya tak begitu jauh dari pusat kota. Pengunjung pun dengan mudah berinteraksi, cukup naik perahu yang tak sampai lima menit atau dengan cara snorkeling.

Namun, aktivitas pariwisata yang tidak dikontrol dapat memberikan dampak buruk pada hiu paus. Satwa laut raksasa ini berisiko terluka akibat tubuhnya kerap bertabrakan dengan perahu nelayan atau perahu pengunjung.

Baca Juga: Dampak Hingga Pentingnya Pengelolaan Sampah di Perkotaan

Terbaru, para peneliti melaporkan temuan menggembirakan bahwa satwa laut dengan tubuh yang bisa mencapai panjang 20 meter ini, memiliki kemampuan menyembuhkan luka sendiri yang cukup cepat. Penelitian berjudul “Wound-healing capabilities of whale sharks [Rhincodon typus] and implications for conservation management” ditulis oleh Freya Womersley, James Hancock, Cameron T Perry, David Rowat dan dipublikasikan di jurnal Conservation Physiology, edisi 4 Februari 2021.

Temuan ini mengungkapkan, cedera atau luka pada hiu paus dapat sembuh dalam hitungan minggu. Para peneliti juga menemukan bukti bahwa sebagian sirip punggung hiu paus yang luka dapat tumbuh kembali.

Meski begitu, luka antropogenik akan lebih sering karena meningkatnya aktivitas laut komersial dan rekreasi. Hiu paus sangat berisiko cedera karena penggunaan air permukaan dan kepentingan wisata satwa liar, tabrakan dengan perahu akan semakin meningkat. Untuk melakukan penelitian, para peneliti mengumpulkan sumber data berupa indentifikasi foto yang diunduh di website Wildbook for Whale Sharks dari dua lokasi yang ada di Samudera Hindia.

“Temuan dasar ini memberi kami pemahaman awal tentang penyembuhan luka pada hiu paus. Jadi kami menemukan teknik pemantauan dan analisis cedera satwa ini dari waktu ke waktu,” ungkap Freya Womersley, penulis utama yang juga seorang mahasiswa PhD dari University of Southampton, berbasis di Marine Biological Association, Inggris.

Kehadiran hiu paus di pantai Botubarani, Gorontalo telah menjadi magnet bagi wisatawan. Tampak pengujung berinteraksi dengan hiu paus. Foto: Adiwinata Solihin

Para peneliti mengikuti perkembangan penyembuhan hiu paus dengan menyelediki karakteristik cedera dan mengukur jangka waktu penyembuhan. Luka tersebut diukur dari waktu ke waktu dengan menggunakan metode standarisasi gambar. Hasilnya menunjukkan, pada hari ke-25, luas permukaan yang mengalami cedera utama menurun rata-rata 56 persen dan kasus penyembuhan paling cepat menunjukkan pengurangan luas permukaan sebesar 50 persen dalam empat hari.

Setelah itu, semua luka mencapai titik penutupan 90 persen dari luas permukaan pada hari ke-35. Juga, terdapat perbedaan percepatan penyembuhan berdasarkan jenis luka dengan laserasi [penyobekan] dan lecet yang membutuhkan waktu 20 dan 22 hari untuk mencapai kesembuhan 90 persen.

“Dengan menggunakan metode baru ini, kami dapat menentukan bahwa hiu paus dapat sembuh dari cedera yang sangat serius dalam jangka waktu berminggu dan berbulan. Artinya, kami saat ini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang cedera dan dinamika penyembuhan hiu paus, yang bisa menjadi sangat penting untuk pengelolaan konservasi,” ujar Freya sebagaimana dilansir dari Science Daily.

Menurut Freya, kemampuan penyembuhan ini menunjukkan bahwa hiu paus mungkin tahan terhadap dampak yang disebabkan oleh manusia. Akan tetapi, ia mencatat bahwa bisa jadi ada banyak dampak cedera lain yang kurang dikenali pada satwa laut ini, seperti berkurangnya kebugaran, kapasitas mencari makan, dan terjadi perubahan perilaku, sehingga cedera pada hiu paus perlu dicegah.

Hiu paus telah mengalami penurunan populasi secara global dari berbagai ancaman akibat aktivitas manusia. Freya mengatakan bahwa betapa pentingnya bagi kita untuk meminimalkan dampak manusia terhadap hiu paus dan melindungi spesies laut raksasa ini karena mereka rentan terhadap ancaman, terutama di tempat interaksi. Ia berharap, studi dasar seperti ini dapat memberikan bukti penting bagi pengambil keputusan untuk mengelola dan melindungi masa depan hiu paus.

Luka pada hiu paus yang sembuh dengan sendirinya. Foto: Dok. Jurnal Conservation Physiology, edisi 4 Februari 2021

Di Gorontalo, yang merupakan salah satu destinasi wisata hiu paus di Indonesia, kemunculannya satwa ini dicatat oleh enumerator setiap hari. Petugas enumerator melakukan monitoring dengan melakukan pengambilan identifikasi foto. Di pangkalan utama, yang merupakan pintu masuk untuk melihat hiu paus, terdapat kalender musim kemunculan yang selalu diisi oleh petugas pemantau. Sehingga, pola kemunculannya diketahui.

“Jika hiu paus mengalami cedera, penelitian seperti ini dapat membantu tim lokal untuk memperkirakan usia cedera dan membuat penilaian tentang di mana dan bagamana hal itu ditimbulkan. Tentunya, berdasarkan pengetahuan tentang pergerakan hiu paus dan kecenderungan untuk kembali ke lokasi yang sama,” ungkap Freya.

Sumber: Mongabay Indonesia


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia