Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Destinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Destinasi. Tampilkan semua postingan
Batas Indonesia: Mengenal Batas Ujung ke Ujung Pulau Indonesia

Batas Indonesia: Mengenal Batas Ujung ke Ujung Pulau Indonesia

Batas Indonesia dari sebelah Utara, Barat, Selatan, dan Timur.
Batas Indonesia dari sebelah Utara, Barat, Selatan, dan Timur. Foto: Pontas.ID

Batas Indonesia menjadi salah satu materi yang kita pelajari dalam pelajaran di Sekolah Dasar. Batas Indonesia dari sebelah Utara, Timur, Barat, dan Selatan tentu sudah kita hapal hingga saat ini.

Pelajaran ini juga kita hapal melalui lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” sejak sekolah dasar dulu. Namun dalam sejarahnya, lagu ini pertama kali diciptakan oleh R Soerarjo pada tahun 1942 dan berjudul asli “Barat sampai ke Timur”. Soerarjo menciptakan lagu ini sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Jepang pada waktu itu yang menutup semua sekolah.

Beberapa tahun kemudian, Bung Karno yang sedang mengadakan rapat umum di Ujung Pandang Sulewesi Selatan, meminta sang pencipta lagu untuk mengubah judulnya menjadi “Dari Sabang Sampai Merauke”.

Penggantian judul ini terjadi sekitar tahun 1963 saat Indonesia sedang berusaha untuk mempersatukan Papua Barat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejak itu, lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” menjadi lagu wajib yang dihapal anak-anak SD sebagai pengetahuan NKRI.

Dari sini pula, kita jadi mengetahui bahwa Merauke dan Sabang merupakan salah satu nama tempat paling ujung dari Indonesia dan juga menjadi batas kepulauan Indonesia sebelah Barat dan Timur.

Kemudian, di masa sekarang yang tentu saja lebih canggih. Kita baru bisa melihat dimana titik-titik paling ujung yang menjadi batas Indonesia. Nah berikut akan kita ulas titik-titik batas Indonesia dari sebelah Utara, Barat, Selatan, dan Timur.

Batas Indonesia Sebelah Utara

Mungkin ada beberapa orang yang mengira bahwa titik batas Indonesia sebelah utara ada di Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan Negara Filipina. Namun, ternyata anggapan ini salah besar. Titik batas Indonesia sebelah Utara terletak di Pulau Rondo, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi Aceh.

Pulau Rondo terletak di​ 1​6°4′30″ Lintang Utara dan 95°6′45″ Bujur Timur​​. Pulau ini tidak berpenghuni dan hanya dijaga oleh pos jaga TNI (TNI).

Jika ditarik garis lurus ke arah timur, maka letaknya hampir sejajar dengan perbatasan Malaysia-Thailand, juga sejajar dengan sebuah wilayah Sandakan di Sabah Malaysia, dan mungkin sejajar dengan titik paling ujung pulau Mindanao, Filipina.

Batas Indonesia Sebelah Barat

Kemudian, jika bisa menebak, kira-kira dimana titik batas Indonesia sebelah Barat?

Nah titik ini juga berada di Provinsi Aceh tepatnya berada di Pulau Benggala, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Sama seperti Pulau Rondo, Pulau ini juga tidak berpenghuni dan berada pada kordinat 5’ 47’ 34” Lintang Utara dan 94’ 58’ 21” Bujur Timur.

Posisinya berada di sebelah barat Pulau Breueh dan Pulau Weh serta berbatasan langsung dengan perairan laut Samudera Hindia.

Pulau Benggala disebut juga sebagai Batutigabelas oleh masyarakat sekitar. Mungkin karena pulau ini terdiri atas beberapa gundukan batu yang membentuk gugusan pulau.

Pulau yang tidak berpenghuni ini memang merupakan pulau batu yang terdiri atas batuan-batuan vulkanik. Luasnya hanya sekitar 4 hektare dengan titik tertinggi di pulau ini yang hanya 14 meter di atas permukaan laut.

Batas Indonesia Sebelah Selatan

Menyoal batas Indonesia sebelah Selatan, pasti diantara kita juga mengira bahwa titik ini berada di sekitar Jawa ataupun Papua. Namun ternyata salah. Titik batas Indonesia sebelah selatan adalah Pulau Panama yang berada di Kepulauan Sunda Kecil, Nusa Tenggara Timur.

Pamana merupakan salah satu pulau kecil yang berada di sebelah Barat daya Pulau Rote. Dalam garis administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Ndao.

Batas Indonesia sebelah timur

Terakhir ada titik batas Indonesia sebelah Timur yaitu Muara Torasi di Kampung Kondo, Kecamatan Naukenjerai, Merauke. Daerah Muara ini berbatasan langsung dengan Papua Nugini dan dijaga ketat oleh TNI.

Muara Torasi sendiri merupakan muara dari Sungai Bensbach yang terkenal dengan wisata alamnya di Papua Nugini.


4 Pantai di Bali dengan Panorama Menakjubkan, Wajid Dikunjungi Saat Weekend

4 Pantai di Bali dengan Panorama Menakjubkan, Wajid Dikunjungi Saat Weekend

4 Pantai di Bali dengan Panorama Menakjubkan, Wajid Dikunjungi Saat Weekend
4 Pantai di Bali dengan Panorama Menakjubkan, Wajid Dikunjungi Saat Weekend. Foto: baligateway.co.id

Bali sebagai salah satu icon pariwisata Indonesia di kancah dunia memiliki berbagai potensi pariwisata alam yang sangat wajib untuk kamu kunjungi. Diantara pariwisata alam yang ada, pantai menjadi salah satu daya tarik utama Pulau Dewata.

Bali memiliki bentang pantai yang sangat menakjubkan. Hal ini menyebabkan Bali memiliki banyaknya pilihan wisata pantai yang ditawarkan, dari mulai yang sepi dan tersembunyi hingga yang ramai dan mainstream. Tak heran, keindahan dan banyaknya pantai tersebut bisa membuat wisatawan mancanegara gemar berkunjung ke Bali untuk liburan.

Nah jika kamu juga ingin menghabiskan liburan di pantai, Pulau Bali adalah satu-satunya destinasi yang wajib kamu kunjungi. Kamu bisa menikmati pantai dengan tenang, santai, keindahan yang tak didapatkan di pantai-pantai lain.

Jika bingung mau berkunjung kemana, berikut kami rangkum beberapa pantai di Bali yang memiliki panorama sangat cantik dan sangat sayang untuk dilewatkan.

Pantai Kuta

Panorama sunset di Pantai Kuta. Foto: tempatwisata.com

Siapa yang tak kenal dengan Pantai Kuta? Salah satu pantai paling populer di Bali ini memiliki panorama pasir putih yang sangat indah. Debur ombak yang tak terlalu besar sangat cocok untuk wisatawan yang ingin mulai belajar surfing.

Selain itu, Pantai Kuta juga menjadi Spot terbaik untuk menikmati sunset di Bali. Sambil menikmati suasana sunset ditemani oleh keluarga atau teman jadi lebih menyenangkan.

Baca juga: Menikmati Perpaduan Laut dan Sunset di Pantai Ngetun

Pantai Kuta juga memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang lengkap sehingga ramah untuk wisatawan. Hotel, restoran, hingga mall semuanya dapat ditemukan dengan jarak yang dekat.  Lokasi nya yang tak jauh dari Bandara Ngurah Rai membuat pantai ini mudah untuk diakses.

Pantai Pandawa

Terdapat patung lima pandawa yang sangat unik. Foto: Instagram.com/kvntli

Jika sedang berkunjung ke daerah selatan Bali, kamu wajib berkunjung ke Pantai Pandawa. Pantai ini sedang populer dikalangan wisatawan domestik karena panorama nya yang sangat indah dan menakjubkan.

Pasir putih yang luas dan bersih jadi salah satu kelebihan pantai ini. Kita juga bisa melihat tebing batu dengan patung lima pandawa yang sangat iconik. Air laut yang sangat biru menjadi perpaduan yang sangat memanjakan mata. Namun, untuk kamu yang suka surfing, pantai ini tidak memiliki ombak yang bagus.

Sebagai gantinya, kamu bisa bermain kano dan berenang dengan lebih nyaman karena air laut yang cenderung tenang. Akses untuk menuju pantai dari Bandara Ngurah Rai sedikit berliku dan akan menemui beberapa titik kemacetan. Setidaknya, butuh waktu satu jam perjalanan untuk sampai disana.

Pantai Jimbaran

Makan malam di pantai Jimbaran lebih asik dengan panorama yang sangat indah. Foto: watersportbali.com

Jika kamu ingin bersantai dengan teman dan keluarga, Pantai Jimbaran adalah salah satu yang terbaik. Pantai jimbaran sangat cocok untuk wisatawan domestic yang sedang berlibur bersama keluarga karena menawarkan wisata kuliner unik.

Baca juga: Merasakan Sensasi Ombak di Pantai Balangan

Kamu bisa menikmati hidangan seafood bakar di pinggir pantai bersama keluarga, pacar, atau teman sambil menikmati panorama sunset yang sangat indah.

Ada berbagai opsi akses untuk menuju Pantai Jimbaran karena luas pantainya yang hampir 2 kilometer. Jaraknya pun tak jauh dari Bandara Ngurah Rai. Kamu hanya perlu menempuh jarak 7 kilometer atau sekitar 15 menit perjalanan untuk sampai ke Pantai Jimbaran.

Pantai Tanah Lot

Pura diatas tebing jadi salah satu keunikan Pantai Tanah Lot. Foto: Harry Kessel

Selain Pantai Kuta, Pantai Tanah Lot adalah salah satu pantai yang juga sangat populer. Pantai ini akan sangat ramai oleh pengunjung baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pantai ini memiliki keindahan panorama yang unik yaitu pura tengah laut yang sangat indah saat sore hari. Saat matahari mulai terbenam, siluet pura dan tebing yang terlihat dari pantai akan sangat memanjakan mata.

Saat laut mulai pasang, lokasi tebing pura Tanah Lot akan terlihat seperti berada di tengah lautan. Pura-pura tersebut tepat menghadap ke lautan Samudera Hindia. Salah satu keindahan Pantai Tanah Lot adalah paronama sunsetnya yang sangat menakjubkan. Jadi waktu terbaik untuk mengunjungi pantai ini adalah sore hari.

Pantai Tanah Lot bedara di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan. Adapun akses untuk menuju Pantai Tanah Lot memerlukan waktu sekitar 1 jam jika ditempuh dari Pantai Kuta atau sekitar 23 kilometer perjalanan.


Bukit Bintang Jogja: Menyaksikan Gemerlap Kota yang Menakjubkan

Bukit Bintang Jogja: Menyaksikan Gemerlap Kota yang Menakjubkan

Bukit Bintang Jogja: Menyaksikan Gemerlap Kota yang Menakjubkan
Bukit Bintang jadi destinasi yang sangat cocok dikunjungi untuk menikmati malam. Foto: Instagram.com/@albetgunawan_

Saat berada di Yogyakarta, menikmati wisata malam adalah hal wajib. Yogyakarta memang dikenal  menjadi salah satu kota yang memiliki banyak pilihan dan alternatif wisata malam. Kita bisa menikmati kuliner malam khas seperti kopi joss, jalan-jalan dan menikmati suasana seperti di Malioboro dan Alun-alun, atau menikmati gemerlap kota Jogja dari ketinggian.

Nah jika kamu menginginkan opsi yang terakhir, destinasi yang cocok dan sangat menarik untuk kamu kunjungi adalah Bukit Bintang. Bukit Bintang merupakan destinasi bukit yang memiliki view lanskap kota Jogja. Saat malam, gemerlap lampu kota akan terlihat romantis dan sangat menakjubkan.

Selain itu, disekitar Bukit Bintang juga terdapat berbagai restoran dan warung makan. Hal ini tentu bisa menjadi spot favorit untuk menghabiskan weekend bersama keluarga, teman, dan gebetan.  Menikmati gemerlap kota Jogja sambil mengisi perut.

Lokasi Bukit Bintang

Bukit Bintang berada di sekitar Bukit Patuk. Tepatnya berada di Area Kebun, Srimulyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Rute Menuju Bukit Bintang

Bukit Bintang memiliki akses jalan yang sangat mudah dilalui. Berada di jalan raya Wonosari, akses jalannya sudah beraspal nan mulus, membuat kendaraan roda empat ataupun roda dua bisa sampai dengan mudah. Namun, meski mulus,anda harus tetap berhati-hati karena jalur yang dilalui berkelok dan menanjak.

Jika anda dari pusat kota Yogyakarta, anda hanya perlu menuju Jalan Wonosari dan terus melaju hingga melewati Pasar Piyungan dan tikungan Bokong Semar. Bukit Bintang tak jauh dari tikungan tersebut.

Jam Buka Bukit Bintang

Bukit Bintang buka setiap hari selama 24 jam.

Tiket Masuk Bukit Bintang

Tidak ada biaya restribusi apapun di Bukit Bintang. Saat berkunjung, anda hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan dan makanan yang anda santap

Gemerlap kota Jogja jadi view yang sangat menakjubkan. Foto: Tempo.com

Penginapan di Sekitar Bukit Bintang

Bagi anda yang datang dari luar kota dan lelah melakukan perjalanan, anda bisa beristirahat dan mencari penginapan yang ada di sekitar Bukit Bintang. Berikut beberapa penginapan yang dekat dengan Bukit Bintang:

  • Gunung Kucing Hospiz
  • Kopilimo Café and Homestay
  • Watu Wayang Camp & Tracking, serta masih banyak yang lain.


Ranukumbolo: Danau Tertinggi yang Diselimuti Mitos

Ranukumbolo: Danau Tertinggi yang Diselimuti Mitos

Ranukumbolo: Danau Tertinggi yang Diselimuti Mitos
Ranukumbolo: Danau Tertinggi yang Diselimuti Mitos. Foto: Travelspromo.com
 

Siapa yang tak mengenal Ranukumbolo? Salah satu danau tertinggi yang ada di Gunung Semeru ini menjadi primadona pariwisata yang wajib dikunjungi ketika singgah ke Malang. Ranukumbolo berada di ketinggian 2.400 Mdpl dan berada di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Soal panorama, Ranukumbolo memiliki lanskap yang sangat indah. Sunrise yang mengintip di balik bukit akan memantulkan cahaya danau yang menguap. Bersantai ditepi danau juga jadi salah satu aktivitas yang sangat menyenangkan. Ngobrol dengan kawan ditemani angin yang berhembus perlahan. Kita seperti berada pada negeri dongeng.

Melalui populernya film 5 CM pada beberapa waktu lalu, Ranukumbolo tak pernah sepi pengunjung. Selalu ada wisatawan yang berkunjung mulai dari wisatawan lokal hingga mancanegara. Ada yang ingin mencapai puncak Mahameru, ada pula yang hanya ingin berkemah di Ranukumbolo.

Namun, dari keindahan dan pesonanya, Ranukumbolo adalah salah satu danau yang diselimuti mitos. Sejarah dan letak geografis bekas daerah kekuasaan Majapahit juga menjadi salah satu sebab Ranukumbolo kerap dikaitkan dengan mitos-mitos yang sudah menjadi kearifan lokal bagi warga Tengger.

Lalu, apa saja mitos yang ada di Ranukumbolo? Berikut jawabannya.

Air Suci Danau

Ranukumbolo memiliki luas sekitar 24 hektar. Penduduk setempat percaya bahwa air di danau tersebut merupakan air suci. Ranukumbolo juga menjadi salah satu tempat ritual adat setempat yang biasa dilakukan oleh warga Tengger.

Karena dianggap suci, danau Ranukumbolo terus dijaga dari segala bentuk eksploitasi dan pencemaran. Bahkan pihak pengelola juga membuat aturan bagi seluruh pengunjung bahwa dilarang untuk mandi, mencuci, dan buang air kecil di danau. Jika terdapat keperluan seperti mencuci, pendaki harus mengambil air danau dengan sebuah wadah lalu menjauh sekitar 5 meter dari tepi danau.

Hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian air danau. Saat berkunjung ke Ranukumbolo, pendaki juga harus tetap menghormati kearifan lokal ini sehingga Ranukumbolo tetap terjaga dari eksploitasi dan pencemaran.

Tanjakan Cinta

Seperti namanya, tanjakan cinta sangat erat hubungannya dengan masalah asmara. Tanjakan cinta menjadi salah satu trek yang sangat iconik di Gunung Semeru. Terletak tepat di sisi barat danau Ranukumbolo, tanjakan ini punya mitos yang dipercaya penduduk setempat.

Siapapun yang menanjak di Tanjakan Cinta sambil memikirkan orang yang ia kasihi, maka cinta tersebut jadi kenyataan. Namun saat menanjak kita dilarang menoleh kebelakang karena akan membatalkan mitos tersebut.

Belum jelas berkembang sejak kapan, namun mitos ini benar-benar menjadi salah satu daya tarik Gunung Semeru. Percaya atau tidak, pengunjung harus tetap menghormati kearifan lokal ini dan tidak menjadikannya sebagai bahan candaan.

Tanjakan Cinta jadi tanjakan paling iconik di Gunung Semeru. Foto: pegipegi.com

Sosok Penunggu Ranukumbolo

Selain memiliki air yang dianggap suci, Ranukumbolo juga dipercaya memiliki sosok penunggu. Sosok ini diyakini sebagai dewi yang mengenakan kebaya berwarna kuning. Dewi tersebut menjelma sebagai ikan mas yang ada di Ranukumbolo. Hal ini menjadi sebab larangan memancing di danau Ranukumbolo.

Selain itu, masyarakat Tengger juga percaya bahwa sosok dewi ini akan muncul pada bulan purnama ditandai dengan uap yang muncul dari danau. Percaya atau tidak, mitos Ranukumbolo ini jadi nilai kearifan lokal bagi masyarakat setempat yang harus dihormati.


Krakatau: Gunung yang Selalu Menarik untuk Diteliti

Krakatau: Gunung yang Selalu Menarik untuk Diteliti

Krakatau: Gunung yang Selalu Menarik untuk Diteliti
Krakatau: Gunung yang Selalu Menarik untuk Diteliti. Foto: Dispar Banten

Krakatau merupakan gunung api bersejarah yang berada di Selat Sunda. Cagar Alam Kepulauan Krakatau merupakan kawasan konservasi yang ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 85/Kpts-II/1990 tanggal 26 Februari 1990, tentang Penunjukan Pulau Anak Krakatau seluas 130 hektar.

Kawasan cagar alam menurut UU Nomor 5 Tahun 1990 dan PP Nomor 28 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, dapat dimanfaatkan sebagai penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan konservasi alam, serta pemanfaatan plasma nutfah untuk menunjang budidaya.

Krakatau merupakan laboratorium alami yang sangat penting untuk diteliti, dari segi keanekaragaman hayati, sifat tanah dan pergerakan bumi. Menyebut nama Krakatau, pikiran kita akan selalu terbanyang pada gunung api di Selat Sunda yang meletus hebat pada 1883 silam.

“Pak Jamalam, ayo cepat turun!” begitu teriakan para mahasiswa pada 7 Juli 2018 lalu, mengingatkan Jamalam karena ada pergerakan dari Gunung Anak Krakatau. Mendengarkan teriakan itu, Prof. Jamalam Lumanraja, peneliti cum dosen Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung [Unila], yang tengah asik meneliti, segera turun. 

“Kami tim dosen dan mahasiswa, saat itu melakukan pengamatan di Krakatau, mengambil  sampel,” katanya Sabtu, 21 Agustus 2021, saat ditemui di kampus Unila.

Menurut dia, Anak Krakatau pada 2018 lalu memang rajin “batuk” dan mengeluarkan lava pijar. Puncaknya, empat bulan setelah riset, gunung api yang ada di Selat Sunda itu erupsi, mengakibatkan tsunami pada 22 Desember 2018.

“Saat kami ke sana sebelum ada letusan, masih banyak tumbuhan. Namun, setahun setelahnya kami kembali, Agustus 2019, sudah tidak ada apa-apa lagi.”

Bagi Prof. Jamalam, Gunung Anak Krakatau yang sering disebut Krakatau, memiliki historis sangat menarik. Berawal dari Krakatau Purba yang meletus dan menyisakan tiga pulau: Sertung, Panjang, dan Rakata, kemudian meletus kembali pada 27 Agustus 1883, membuat gempar dunia.

Dalam buku “Lampung dan Masa Depan Sumatera” terbitan Mongabay Indonesia Juli 2021, disebutkan suara ledakan pada 1883 terdengar hingga India, Australia, dan Pulau Rodrigues yang tak jauh Afrika; serta gelombang pasangnya tereteksi hingga Jepang.

“Krakatau muncul ke permukaan tahun 1927, terus tumbuh, dan erupsi pada 2018 itu membuat tingginya sekitar 300-an meter. Fenomena alam ini membuat kami tertarik untuk melakukan penelitian,” ujarnya.

Penampakan Gunung Anak Krakatau 3 bulan setelah erupsi pada 22 Desember 2018. Foto: Dok. KLHK/BKSDA Bengkulu-Lampung

Menurut Jamalan, erupsi pada 2018 itu menjadikan peneliti dapat melihat pembentukan tanah mulai dari awal. Hal ini erat kaitannya dengan pergerakan bumi yang membentuk bahan induk tanah.

“Ini dipengaruhi iklim, topografi, mahkluk hidup lain, dan waktu. Hubungannya dengan waktu, kami sangat tertarik dengan erupsi yang terbaru karena membuat keadaannya menjadi nol.”

Hasil riset yang dilakukan setelah erupsi itu menunjukkan, mulai ada makhluk hidup berupa mikroba dan fungi. Namun belum ada tanaman di sana.

“Kami juga mencoba simulasi proses pembentukan tanah dengan curah hujan. Penelitian dilakukan dengan pencucian [leaching] terhadap tephra [batuan vulkanik atau magma] Anak Krakatau. Kami mekaukan simulasi pembentukan tanah, biasanya karena air dari lapisan atas tercuci kemudian di bawah akan terbentuk liat.”

Dalam perkembangannya, setelah di-leaching selama tiga bulan, sampel yang diteliti mulai menunjukkan pelapukan. Bahan organik yang ada pada tanah juga mulai meningkat.

“Tetapi memang hasilnya belum nyata benar. Bahan organiknya dan kapasitas tukar kation [KTK] selama tiga bulan meningkat,” terangnya.


Gunung Anak Krakatau yang meneluarkan asap awal April 2020. Foto: KPHK Kepulauan Krakatau

Menarik untuk penelitian

Prof. Jamalam menjelaskan, banyak penelitian yang bisa dilakukan di areal Gunung Anak Krakatau. Dari sisi geologi, dapat dipelajari tiga pulau terisa dari letusan Krakatau Purba. Dari sisi biodiversiti, dapat ditinjau keragaman vegetasinya.

Diharapkan, kedepan akan ada pusat studi Krakatau yang bisa digunakan untuk penelitian semua bidang keilmuan. “Para ilmuan sangat tertarik dengan Krakatau, dari bidang keilmuannya masing-masing. Saya pikir ini menjadi aset nasional, bahkan aset dunia,” tuturnya. 

Hal senada disampaikan Astriana Rahmi Setiawati, Dosen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Menurut dia, Krakatau merupakan laboratorium alami yang menarik perhatian banyak pihak.

Astriana melakukan penelitian terkait pedogenesis atau ilmu yang mempelajari proses pembentukan tanah. Dia juga meneliti sifat fisik dan kimia tanah di Anak Krakatau.

“Hasil muntahannya berbagai macam partikel. Ada yang berukuran boom, blockly, kerikil, pasir vulkanik, dan abu vulkanik. Sekitar gunung, yang berukuran pasir paling banyak. Sementara abunya terbang ke pulau-pulau sekitar,” jelasnya di kampus Unila, Sabtu [21/82021].

Menurut dia, ada korelasi antara ketinggian permukaan dengan ukuran tanah yang terbentuk. Karena saat Krakatau memuntahkan isi perutnya, partikel yang lebih besar tidak terlempar terlalu jauh dari kawah gunung. Sementara, partikel yang ukurannya lebih kecil terlempar lebih jauh.

“Jika sudah dimuntahkan, otomatis yang berukuran lebih berat dekat dengan sumbernya. Makanya, semakin ke atas kita akan menemukan partikel yang lebih besar.”

Astriana menjelaskan, vegetasi juga mempengaruhi proses pembentukan tanah. Semakin banyak organisme di dalam tanah, semakin intensif pelapukan yang terjadi.

“Kalau ada organisme, proses pelapukkan tanah semakin cepat. Makanya di bagian bawah Anak Krakatau sebelum erupsi, sudah ada yang membentuk tanah liat karena dibantu akar tanaman cemara,” paparnya. 

Bukan tempat wisata

Edarwan, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, menuturkan kawasan Krakatau tidak bisa dijadikan destinasi wisata. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut merupakan cagar alam. 

“Jadi yang boleh menyentuhkan kaki di sana harus memiliki izin. Itu juga hanya untuk keperluan riset dan pendidikan,” terangnya, Selasa, 24 Agustus 2021. 

Walaupun kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki daya tarik, dia merekomendasikan untuk berwisata ke pulau lain di Provinsi Lampung. 

“Potensi yang ada di sekitar Anak Krakatau tentunya taman laut. Maksudnya, beberapa mil dari kawasan gunung tersebut boleh. Kita bisa snorkling, diving, atau menikmati alam yang memang sangat mungkin dilakukan,” katanya.

Menurut dia, Pemerintah Lampung Selatan ingin mengajukan penurunan status kawasan Gunung Anak Krakatau dari cagar alam menjadi kawasan taman wisata alam. Namun, wacana itu tidak direalisasikan karena mendapat masukan dari berbagai pihak.

“Sebelum terjadi erupsi terakhir ini, ada pemikiran bahwa pemerintah ingin menurunkan status sebagian kecil, ada bagian-bagian tertentu yang bisa kita jadikan objek wisata, tapi hanya bagian kecil. Itu sempat ditinjau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” jelasnya.

Anak Krakatau, gunung api aktif yang diperkirakan terbentuk sejak 1927. Foto ini diambil pada April 2015. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

Krakatau berstatus Cagar Alam dan Cagar Alam Laut berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 85/Kpts-II/1990 tanggal 26 Februari 1990 seluas 130 hektar. Kawasan cagar alam menurut UU Nomor 5 Tahun 1990 dan PP Nomor 28 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, dapat dimanfaatkan sebagai penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan konservasi alam, serta pemanfaatan plasma nutfah untuk menunjang budidaya.

Syarifudin, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi [KPHK] Krakatau SKW III BKSDA Bengkulu-Lampung, menjelaskan perlu beberapa prosedur untuk dapat melakukan riset ke Anak Krakatau. Antara lain menyerahkan surat dan proposal kegiatan penelitian dan mempresentasikan apa yang akan dikerjakan.

“Dari pihak BKSDA mengawasi kegiatan,” jelasnya, Selasa [24/8/2021] 

Irhamuddin, Pengendali Ekosistem Hutan SKW III BKSDA Bengkulu-Lampung, menambahkan upaya yang dilakukan pihaknya dengan melakukan sosialisasi di wilayah cagar alam.

“Dalam pengelolaannya, kami melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada tiap masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan wisata di Gunung Anak Krakatau,” pungkasnya. 

Sumber: Mongabay Indonesia


Melihat Rumah Adat Toraja di Sillanan

Melihat Rumah Adat Toraja di Sillanan

Melihat Rumah Adat Toraja di Sillanan
Melihat Rumah Adat Toraja di Sillanan. Foto: indonesiakaya.com

Sillanan adalah nama sebuah perkampungan tradisional masyarakat Toraja. Secara administratif, perkampungan ini masuk ke wilayah Desa Sillanan, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. 

Perkampungan yang struktur tanahnya berbatu-batu ini dihuni oleh penduduk yang bekerja sebagai petani kopi, dan terletak sekitar 35 kilometer ke arah selatan Rantepao.

Di tempat ini terdapat bangunan-bangunan megalit berupa menhir maupun kubur batuyang berkaitan dengan tradisi dan upacara-upacara adat masyarakat Toraja yang hingga kini masih diselenggarakan. Dari upacara-upacara adat itu, wisatawan akan mendapatkan gambaran mengenai fungsi dan peranan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut terhadap kehidupan masyarakat setempat.

Beberapa rumah tongkonan dan lumbung padi yang berusia sangat tua pun masih bisa ditemukan di sini, sementara beberapa diantaranya sudah direnovasi akibat termakan usia.

Tongkonan merupakan rumah adat masyarakat Toraja. Kata “tongkonan” berasal dari bahasa Toraja yaitu “tongkon” yang berarti duduk. Disebut tongkon karena memang bangunan ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan adat.

Tongkonan bukanlah rumah pribadi perseorangan tetapi diwariskan secara turun temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja. Di rumah adat inilah, keluarga Toraja biasanya berkumpul untuk berdiskusi ataupun bertukar pendapat.

Tidak semua Tongkonan dapat dikunjungi, kecuali Tongkonan yang memang secara khusus dijadikan obyek wisata. Sementara Tongkonan milik keluarga Tana Toraja hanya boleh dikunjungi oleh anggota keluarga saja. Wisatawan bisa menanyakan tetua adat atau penduduk mengenai Tongkonan mana yang boleh dikunjungi.

Baca Juga: Pasar Terapung: Salah Satu Pasar Terunik di Indonesia

Tongkonan terbuat dari kayu dan memiliki atap yang terbuat dari daun nipa atau kelapa. Bangunan adat ini selalu dibangun menghadap ke utara, arah yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Jika dilihat dari bagian samping, bentuk atap Tongkonan akan mirip seperti tanduk kerbau. Di kehidupan masyarakat Toraja, kerbau memang dijadikan simbol status sosial.

Ketika keluarga Toraja menyelenggarakan upacara adat pemakaman, mereka akan menyembelih kerbau yang jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga penyelenggara adat. Setelah disembelih, tanduk-tanduk kerbau dipasang pada Tongkonan milik mereka. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau pada Tongkonan, berarti semakin tinggi pula status sosial pemiliknya di kalangan masyarakat Toraja.

Dapur yang ada di rumah adat Toraja
Dapur yang ada di rumah adat Toraja. Foto: indonesiakaya.com

Rumah adat Toraja ini berbentuk rumah panggung, dan kolong rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Di depannya terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung terbuat dari batang pohon palem (‘bangah‘) yang licin, sehingga tikus tidak dapat memanjat masuk ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.

Orang Toraja menganggap tongkonan sebagai simbol ‘ibu‘, sedangkan alang sebagai ‘bapak‘. Tongkonan tidak hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, tetapi juga sebagai tempat mengadakan kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah dan selatan.

Bagian utara atau ‘tengalok’ berfungsi sebagai ruang tamu, ruang tidur anak-anak, dan juga tempat meletakkan sesaji. Bagian tengah yang disebut ‘sali‘ berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, tempat menyemayamkan orang mati, dan juga sebagai dapur. Dan bagian selatan disebut ‘sumbung‘, merupakan ruangan untuk kepala keluarga.

Rumah adat Toraja memiliki beberapa ornamen ukiran khas Toraja yang terbuat dari tanah liat, biasanya menggunakan empat warna dasar yakni hitam, merah, kuning, serta putih. Bagi suku Toraja, keempat warna itu memiliki makna tersendiri. Warna hitam melambangkan kematian, kuning menjadi simbol anugerah dan kekuasaan Illahi, putih lambang warna daging dan tulang yang berarti suci, sementara merah menjadi simbol warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Sama halnya dengan jumlah tanduk kerbau, jumlah ornamen di dalam Tongkonan juga melambangkan tingkat kemewahan.

Desa Sillanan juga menawarkan pemandangan alam yang indah dan agrowisata kopi dan sayur mayur. Sillanan dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum Makale – Mebali.

Lalu perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan Mebali -Sillanan, naik ojek atau berjalan kaki. Di sekitar perkampungan ini, terdapat juga pemondokan untuk wisatawan. Sementara enam kilometer dari Sillanan,ada hotel bintang tiga. 

sumber: Indonesia kaya


Pasar Terapung: Pasar Terunik di Banjarmasin

Pasar Terapung: Pasar Terunik di Banjarmasin

Pasar Terapung: Pasar Terunik di Banjarmasin. Foto: indonesiakaya.com

Salah satu tempat menarik yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Banjarmasin adalah Pasar Terapung. Pasar yang merupakan refleksi budaya orang Banjar ini sudah berlangsung sejak dahulu; sejak 400 tahun yang lalu ketika perdagangan masih menggunakan sistem barter.

Pasar ini juga merupakan gambaran pola hidup masyarakat yang tinggal di atas air. Sehingga bisa dikatakan kalau pasar terapung ini menjadi saksi perkembangan aktivitas perekonomian masyarakat Banjarmasin.

Dinamakan pasar terapung karena semua aktivitas jual beli berlangsung di atas muara Sungai Kuin yang terletak di kecamatan Banjarmasin Utara, Kalimantan Selatan.

Para penjual dan pembeli pada umumnya melakukan transaksi di atas perahu, yang dalam bahasa Banjar disebut jukung. Tapi ada juga klotok (perahu bermesin) yang ikut meramaikan suasana pasar. Meskipun pasar ini dipenuhi dengan jukung dan klotok yang saling berdesakan, tapi para penjual dan pembeli dengan sigap mengemudikan perahu masing-masing dan saling mengejar untuk bertransaksi.

Barang dagangan yang biasanya diperjualbelikan adalah sayur mayur, buah-buahan, dan hasil kebun kampung-kampung yang ada di sepanjang sungai Barito serta anak-anak sungainya. Selain itu, tersedia juga berbagai jenis ikan, kebutuhan rumah tangga, hingga kue-kue tradisional.

Baca Juga: Mengunjungi Dusun Butuh di Magelang, Nepal ala Indonesia

Hal unik lainnya, beberapa pedagang masih melakukan sistem barter, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk. Tentu saja, sistem semacam itu sudah sangat jarang ditemukan di dunia perdagangan saat ini.

Di pasar terapung ini ada istilah yang disebut dengan dukuh yaitu pembelian dari tangan pertama, sementara pembeli yang menjual kembali barang yang dibelinya disebut penyambangan. Pasar ini tidak memiliki organisasi sehingga tidak bisa ditentukan secara pasti berapa jumlah pedagang yang berjualan setiap hari, serta tidak ada pengelompokan pedagang berdasarkan jenis barang dagangannya.

Seorang ibu yang menjual dagangan jeruk di Pasar Terapung. Foto: indonesiakaya.com

Pasar Terapung mulai beroperasi setelah shalat subuh dan akan berakhir sekitar pukul 09.00 WITA. Bubarnya pasar ditandai dengan para pedagang yang mengayuh perahu masing-masing meninggalkan lokasi pasar, pergi menyusuri anak-anak sungai untuk menawarkan dagangannya yang belum terjual kepada penduduk yang berumah di sepanjang bantaran sungai Barito.

Lokasi pasar terapung ini cukup mudah dijangkau. Dengan menggunakan klotok, lokasi bisa dicapai dalam waktu sekitar 45 menit dari pusat kota Banjarmasin. Tapi jika ingin lebih cepat, pengunjung bisa mengunakan angkutan darat dari kota Banjarmasin menuju Desa Alalak.

Kemudian dilanjutkan dengan menyewa klotok seharga Rp 70.000 (tergantung keahlian tawar menawar) ke pasar terapung yang jaraknya sudah sangat dekat dari desa ini. Sedangkan untuk menyaksikan aktivitas di pasar terapung sama sekali tidak dipungut biaya.

Bersantai melihat-lihat rumah terapung (Rumah Lanting), menikmati segarnya buah-buahan, menyeruput teh atau kopi sambil mencicipi penganan khas Banjarmasin saat dibuai gelombang sungai Barito tentu akan menjadi kenikmatan tersendiri bagi pengunjung.

Sumber: indonesia kaya


Keindahan Gunung Bromo: Menyaksikan Sunrise dan Lautan Awan di Penanjakan

Keindahan Gunung Bromo: Menyaksikan Sunrise dan Lautan Awan di Penanjakan

Keindahan Gunung Bromo: Menyaksikan Sunrise dan Lautan Awan di Penanjakan. Foto: indonesiakaya.com

Gunung Bromo merupakan salah satu gunung eksotis di Indonesia yang sampai sekarang masih aktif. Keindahan Gunung Bromo juga tidak dapat diragukan lagi. Hal ini membuat Gunung Bromo menjadi salah satu tujuan wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Selain panoramanya yang sangat menakjubkan, Gunung Bromo juga sarat akan mitos dan budaya. Gunung Bromo dianggap sebagai gunung suci oleh Suku Tengger sehingga setiap setahun sekali masyarakat Tengger selalu mengadakan Upacara Kasada atau Kasodo untuk menghormati arwah yang berada di kawasan tersebut.

Gunung bromo di jawa timur ini dapat dikelompokkan ke dalam tipe gunung api Stombolian dengan tipe letusan freatomagmatik. Gunung ini terakhir kali meletus pada tahun 2016 lalu.

Letak Gunung Bromo

Gunung Bromo terletak di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang lebih sering disebut di daerah Malang.

Padahal gunung ini terletak 4 kabupeten yang berbeda, yaitu Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang.

Ketinggian Gunung Bromo

Ketinggian Gunung Bromo - Gunung Bromo memiliki ketinggian sekitar 2.329 Mdpl dan berjenis kerucut bara.

Wisata Gunung Bromo

Melihat keindahan sang surya terbit dari ufuk timur di Gunung Bromo secara perlahan mungkin menjadi satu anugrah yang tak terhingga indahnya. Paduan warna kuning, oranye, hitam dan biru yang dihasilkan oleh fenomena alam ini sungguh menjadi pemandangan menarik yang tersaji bagi mata kita yang melihatnya.

Keindahan Gunung Bromo yang berada di dalam Kawasan Gunung Semeru memang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Gunung ini dianggap suci oleh masyarakat Tengger, suku yang mendiami wilayah Gunung Bromo. Nama Bromo sendiri diambil dari nama dewa utama umat hindu yaitu Brahma.

Melakukan perjalanan menuju Gunung Bromo, kaki kita akan disambut kawah pasir yang terbentang sepanjang kawasan salah satu gunung di Jawa Timur ini.

Bila kita melakukan perjalanan menuju Bromo di pagi hari, kita akan disajikan warna-warna indah berasal dari pasir yang terkena pantulan sinar matahari. Pasir-pasir disini juga seolah berbisik saat tersapu oleh tiupan angin yang berhembus tenang saat pagi menyapa.

Baca Juga: Mengunjungi Dusun Butuh di Magelang, Nepal ala Indonesia

Sambil berjalan, kita bisa melihat beberapa bangunan yang berdiri di sekitar kawasan ini. Salah satunya adalah bangunan Poten. Bangunan kokoh yang berdiri di tengah lautan pasir ini menjadi tempat beribadah yang digunakan masyarakat Suku Tengger. Arsitektur bergaya Hindu Bali sangat melekat pada bangunan ini.

Di setiap gerang pintunya di jaga patung dengan bentuk singa yang terlihat seperti sedang menyeringai. Patung-patung ini dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat yang akan menggangu kawasan Gunung Bromo.

Suasana wisatawan dan penduduk yang berbaur. Foto: indonesiakaya.com

Bukan hanya menjadi tempat wisata, Gunung Bromo juga menjadi tempat digelarnya ritual keagamaan umat hindu. Salah satu ritual yang digelar Suku Tengger di sini setiap tahunnya adalah ritual Yadnya Kasada.

Dalam ritual ini, Masyarakat Suku Tengger mempersembahkan sesajian berupa binatang ternak dan makanan untuk para dewa-dewa yang mendiami gunung-gunung yang berada di kawasan ini seperti Gunung Semeru, Batok, Bromo dan Pananjakan.

Kawah pasir yang terbentang di sepanjang Gunung Bromo. Foto: indonesiakaya.com

Berada di Kawasan Gunung Bromo dan menyaksikan keindahan alam yang disajikan disini memang menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Pasir yang eksotis, sunrise yang begitu indah dan berinteraksi dengan masyarakat Suku Tengger tentunya membuat perjalanan wisata Gunung Bromo terasa begitu menyenangkan.

Tiket Masuk Wisata Gunung Bromo

Harga tiket masuk wisata Gunung Bromo untuk wisatawan lokal adalah sebesar Rp 29.000 saat weekdays dan Rp 34.000 saat weekend. 

Sedangkan untuk wisatawan mancanegara yaitu sebesar Rp 220.000 saat weekdays dan Rp 320.000 saat weekend.

Melihat Burung Air di Kampung Blekok Situbondo

Melihat Burung Air di Kampung Blekok Situbondo

Kuntul kecil jenis burung air yang paling banyak ditemui di daerah ekowisata Kampung Blekok. Foto: Instagram Kampung Blekok

Kampung Blekok, Dusun Pesisir, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, merupakan kawasan ekowisata mangrove dan burung air yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati Situbondo No. 13 Tahun 2017.

Diberi nama Kampung Blekok karena di wilayah ini banyak burung blekok sawah. Dijadikannya Kampung Blekok sebagai tujuan ekowisata, selain membuat masyarakat makin peduli alam, juga menambah pemasukan desa dan pendapatan warga.

Sejak dicanangkan sebagai tujuan ekowisata, Kampung Blekok telah dikunjungi lebih 13.500 orang. Tidak hanya wisatawan lokal tapi juga mancanegara, dari India dan Singapura.

Namanya memang Kampung Blekok. Letaknya di Dusun Pesisir, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Suasana nyaman kental terasa, begitu kita menginjakkan kaki di kampung yang berjarak 10 kilometer dari Kota Situbondo. Tidak hanya laut yang indah, hijaunya mangrove yang merupakan habitat beragam burung air membuat kita betah selama mungkin di sini.

Tahun 2017, berdasarkan Peraturan Bupati Situbondo No. 13 Tahun 2017 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati, kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan ekowisata mangrove dan burung air.

Kenapa diberi nama Kampung Blekok?

“Di sini memang banyak burung blekok sawah [Ardeola speciosa]. Tapi juga ada jenis lain,” terang Ketua Kelompok Sadar Wisata [Pokdarwis] Kampung Blekok, Kholid Maulana, baru-baru ini.

Blekok sawah merupakan burung berukuran 45 sentimeter, bersayap putih. Hidupnya di sawah atau daerah berair, sendirian maupun kelompok. Kebiasaannya berdiri diam sembari menunggu mangsa. Setiap sore terbang berpasangan atau berkelompok menuju tempat istirahat.

Spesies lain yang dimaksud Kholid adalah kuntul kecil [Egretta garzetta], kuntul kerbau [Bubulcus ibis], kowak-malam abu [Nycticorax nycticorax], cangak abu [Ardea cinerea], cangak merah [Ardea purpurea], dan kokokan laut [Butorides striatus].

Secara umum, burung dari Suku Ardeidae dicirikan dari kaki dan leher yang panjang. Paruhnya panjang-lurus, digunakan untuk mematuk ikan, vertebrata kecil, maupun invertebrata. Sarangnya biasa terbuat dari tumpukan ranting di pohon.

Kholid menuturkan, burung-burung tersebut biasanya beterbangan mencari makan jam 5 pagi dan kembali ke sarang sekitar pukul 5 sore. Mereka terbang dalam beberapa kelompok. “Bila pengunjung ingin melihat burung air itu memenuhi langit, dua waktu tersebut saat yang tepat,” ujarnya.

Dijadikannya Kampung Blekok sebagai tujuan ekowisata, diakui Kholid, selain membuat masyarakat makin peduli alam, juga menambah pemasukan desa dan warga. “Sore, apalagi Sabtu dan Minggu pasti ramai. Berbagai souvenir laris dijajakan,” ujarnya.

Cangak Merah yang dapat dilihat jam 6 pagi ataupun sora. Foto: Instagram Kampung Blekok

Kawasan ekowisata

Kepala Bidang Penataan dan Penaatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Situbondo, Anton Sujarwo mengatakan, sejak dicanangkan sebagai area ekowisata, Kampung Blekok telah dikunjungi lebih dari 13.500 orang. Tidak hanya wisatawan lokal tapi juga mancanegara, dari India dan Singapura.

Dengan hanya merogoh kocek 5.000 Rupiah, pengunjung dapat menikmati keindahan Kampung Blekok. Paket wisata lain juga tersedia, 25.000 hingga 50.000 Rupiah, untuk edukasi botani, kerajinan, 3R [reuse, reduce, recycle], magrove dan burung air, atau wisata perahu.

“Wisata mangrove tidak hanya Kampung Blekok, ada juga Pantai Dubibir di Suboh. Tapi, Kampung Blekok punya keunikan, satu-satunya habitat burung air,” ujarnya.

Kawasan mangrove seluas 6 hektar di Kampung Blekok ini dilengkapi jembatan kayu sebagai akses wisatawan untuk menikmati keindahan alam. Foto: Calista Amalia Wiradara

Anton menambahkan, selain pesona alam, banyak hal unik di kampung ini. Seperti pada 24 Maret 2019 lalu, ketika Kampung Blekok menggelar festival yang dihadiri Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto.

Ada gelaran makanan tradisional [kakanan lambek], ski celot [ski lumpur], dan enggrang untuk anak-anak. Tahun sebelumnya, acara Petik Laut digelar yaitu kepala sapi dilarung ke laut. “Kampung Blekok juga masuk seleksi Anugerah Wisata Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur,” jelasnya.

Luas mangrove di Kampung Blekok sekitar enam hektar. Jenis yang tumbuh adalah Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, serta Rhizophora apiculata.

Berdasarkan riset yang dilakukan Pramudji, Balai Litbang Biologi Laut, Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [Puslit Oseanografi LIPI], mangrove berperan penting sebagai penopang kehidupan berbagai jenis ikan, udang, moluska, dan biota laut lainnya. Hutan mangrove juga berperan sebagai pelindung kawasan pesisir dari angina dan ombak laut, serta mencegah banjir yang terjadi di daratan.

Burung blekok sawah yang berada di kandang penangkaran ini umumnya anakan yang jatuh saat belajar terbang. Foto: Mongabay/Calista Amalia Wiradara

Harmonis

Pagi itu, pertengahan Agustus 2019, pengawas penangkaran dari Dinas Lingkungan Hidup Situbondo, Lukman Dari, tengah memberi pakan blekok sawah dan kuntul kecil yang berada di penangkaran. “Kalau pagi ikan, siang jangkrik, sore ikan lagi,” sebutnya.

Selain memperhatikan nutrisi yang dibutuhkan, burung tersebut juga rajin dibersihkan dua kali seminggu. “Agar tetap segar dan bersih,” tuturnya.

Burung yang direhabilitasi dan dibiakkan dalam penangkaran ini sebagian besar merupakan anakan yang terjatuh ketika belajar terbang. Atau juga yang ditangkap orang di luar area ekowisata untuk dijual. Penangkaran ini dikelola dan diawasi Dinas Lingkungan Hidup Situbondo.

Kampung Blekok sebagai tujuan ekowisata, tidak hanay membuat kepedulian masyarakat pada alam meningkat, juga menambah pemasukan desa dan warga. Foto: Mongabay/Calista Amalia Wiradara

Keharmonisan manusia dan alam di Kampung Blekok, telah terjalin sebelum kawasan tersebut ditetapkan sebagai tujuan ekowisata. Bahkan, burung-burung air dibiarkan masuk ke kandang-kandang sapi warga ketika hujan. Warga menyadari, hutan mangrove maupun burung-burung merupakan kekayaan alam yang harus dijaga agar ekosistem tetap seimbang.

Sumber: Mongabay


Mengunjungi Dusun Butuh di Magelang: Nepal Van Java

Mengunjungi Dusun Butuh di Magelang: Nepal Van Java

Mengunjungi Nepal Van Java. Foto: wisatainfo

Ibu pertiwi menyimpan keindahan alam yang seakan tidak ada habisnya. Tak terhitung banyaknya destinasi unik di Indonesia yang wajib untuk dikunjungi, salah satunya yang sempat viral dan menarik banyak perhatian adalah Dusun Butuh atau Nepal Van Java di Magelang, Jawa Tengah.

Keindahan Nepal Van Java

Dusun Butuh disebut-sebut memiliki keindahan yang luar biasa. tak heran, sejak Nepal van Java viral di sosial media, banyak sekali wisatawan yang berkunjung ke sana. Bahkan Menteri Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyebut Dusun Butuh tak kalah indah dari pemandangan yang ada di pegunungan Himalaya.

Susunan Rumah ala Nepal

Dijuluki sebagai "Nepal Van Java", Dusun Butuh memiliki kontur yang unik dengan susunan rumah yang bertumpuk di lereng Gunung Sumbing. Alhasil, pemandangannya menyerupai pemukiman yang berada di pegunungan Himalaya.

Berlokasi di Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Dusun Butuh disebut-sebut sebagai dusun tertinggi di Kabupaten Magelang dengan ketinggian 1.700 mdpl.

Karena lokasinya yang cukup tinggi, Dusun Butuh memiliki pemandangan yang cantik berupa pegunungan dan persawahan hijau yang membentang sejauh mata memandang. Dusun Butuh juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Sumbing yang merupakan puncak tertinggi ketiga di Pulau Jawa.

Baca Juga: Mengeksplorasi Terumbu Karang di Pulau Togean

Kini, pihak dusun tengah mengelola dan menata ulang kawasan ini agar lebih menarik. Salah satu yang dikembangkan adalah Taman Depok yang merupakan sanggar kesenian sekaligus tempat bersantai dan spot untuk berfoto.

Kini, keberadaan Dusun Butuh banyak dicari para pemburu foto karena pemandangannya yang Instagrammable. Tempat ini pun mendadak naik daun dan menjadi destinasi wisata selfie.

Keramahan Penduduk Dusun Butuh

Saat tiba di Nepal van Java, Anda juga akan disambut dengan ramah oleh warga sekitar. Ini juga menjadi keistimewaan Dusun Butuh dimana mereka selalu menyambut dengan ramah pengunjung yang datang. Mereka selalu menganggap pengunjung sebagai tamu yang bersilaturahmi sehingga wajib bagi mereka untuk selalu berperilaku ramah.

Tetapi di kala pandemi seperti ini, jangan lupa untuk menaati peraturan yang berlaku. Selalu kenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan pengunjung lainnya, ya!

Rute Menuju Nepal Van Java

Untuk pergi ke Dusun Butuh, akan lebih mudah jika Anda menggunakan kendaraan pribadi. Jika berangkat dari Yogyakarta, Anda bisa mengarah langsung ke Magelang menuju Pasar Kaliangkrik. Kemudian, belok ke kanan ke arah basecamp Kaliangkrik. Jika Anda berangkat dari Semarang, butuh waktu sekitar 2,5 jam berkendara untuk mencapai Dusun Butuh.

Jika Anda memutuskan untuk berkunjung ke Dusun Butuh, waktu yang paling disarankan adalah saat pagi hari di musim panas. Anda bisa berfoto dengan latar belakang pemukiman warga ala Nepal, sekaligus melihat pemandangan sunrise atau sunset.

Tiket Masuk Nepal Van Java

Tiket masuk Nepal Van Java - Jika ingin mengunjungi Nepal Van Java, pengunjung hanya perlu membayar tiket parkir saja. adapun tiket parkirnya hanya Rp 2000 untuk roda dua dan Rp 4000 untuk roda empat.

Waktu Terbaik Mengunjungi Nepal Van Java

Karena berada di pegunungan, Nepal Van Java kerap diselimuti oleh kabut sehingga pemandangan jadi terhalang. anda perlu memilih waktu-waktu tertentu sehingga bisa melihat keindahan Nepal Van Java dengan sempurna.

Adapun waktu terbaik mengunjungi Nepal Van Java adalah saat sunrise dan setelah sunrise antara pukul 08.00-09.00.
 

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia